RENUNGAN LIR ILIR…

Posted: Oktober 30, 2010 in sastra

Oleh : Emha Ainun Nadjib

Bisakah luka yang teramat dalam ini nantinya akan sembuh, bisakah kekecewan dan keputusasaan yang mengiris-iris hati berpuluh-puluh juta saudara kita ini pada akhirnya nanti akan kikis, adakah kemungkinan kita merangkak naik kebumi dari jurang yang teramat curam dan dalam, akankah api akan berkobar-kobar lagi apakah asap akan membumbung tinggi dan memenuhi angkasa tanah air, akankah kita akan bertabrakan lagi jarah menjarah dengan pengorbanan yang tak terkirakan, adakah kita tahu apa yang sebenarnya sedang kita jalani, bersediakah sebenarnya kita untuk tau persis apa yang sesungguhnya kita cari, cakrawala manakah yang menjadi tujuan sebenarnya langkah-langkah kita, pernahkah kita bertanya bagaimana melangkah yang , pernakah kita mencoba menyesali hal-hal yang barangkali perlu kita sesali dari prilaku-prilaku kita yang kemarin, bisakah kita menumbuhkan kerendah hatian dibalik kebanggaan-kebanggaan, masih tersediakah ruang di dalam dada kita dan akal kepala kita untuk sesekali berkata pada diri kita sendiri bahwa yang bersalah bukan hanya mereka, bahwa yang melakukan dosa bukan ia tetapi juga kita masih tersediakah peluang didalam kerendahan hati kita untuk mencari apapun saja yang kira-kira kita perlukan meskipun barang kali menyakitkan diri kita sendiri mencari hal-hal yang benar-benar kita butuhkan supaya sakit…sakit..sakit kita ini benar benar sembuh total, sekurang-kurang dengan perasaan santai kepada diri kita sendiri untuk menyadari dengan sportif bahwa yang mesti disembuhkan bukanlah yang berada diluar tubuh kita tetapi didalam diri kita, yang perlu utama kita lakukan adalah penyembuhan diri yang kita yakini harus betul-betul disembuhkan justru adalah segala sesuatu yang berlaku didalam hati dan akal pikiran kita. Saya ingin mengajak engkau semua memasuki dunia Lir ILir……(Lir iLir….Lir iLir….Tandure woh sumilir tak ijo royo-royo tak sengguh temanten anyar……)

Kanjeng Sunan Ampel seakan-akan baru hari ini bertutur kepada kita, tentang kita, tentang segala sesuatu yang kita mengalaminya sendiri namun tidak kunjung sanggup kita mengerti. Sejak lima abad silam syair itu telah Ia lantunkan dan tak ada jaminan bahwa sekarang kita sudah paham, padahal kata-kata beliau mengeja kehidupan kita ini sendiri, alfa….beta..alif…ba….’ ta’….kebingungan sejarah kita dari hari-kehari, sejarah tentang sebuah negri yang puncak kerusakannya terletak pada ketidak sanggupan para penghuninya untuk mengakui betapa kerusakan itu sudah sedemikian tidak terperi “menggeliatlah dari matimu!!! tutur sang Sunan…” Siumanlah dari pingsan berpuluh-puluh tahun, bangkitlah dari nyenyak tidurmu sungguh negri ini adalah penggalan Surga!! Surga seakan-akan pernah bocor mencipratkan kekayaan dan keindahannya, dan cipratan keindahan itu bernama Indonesia Raya. Kau bisa tanam benih kesejahteraanapa saja diatas kesuburan tanahnya yang tidak terkirakan ditengah hijau bumi kepulauan yang bergandeng-gandeng mesra.

Tapi kita memang telah tidak mensyukuri rahmat sepenggal surga ini, kita telah memboroskan anugerah tuhan ini dengan bercocok tanam ketidakadilan dan panen-panen kerakusan. (cah angon….cah angon penekno blimbing kuwi…..lunyu-lunyu penekno..kanggo mbasuh dhodot iro…) kanjeng sunan tidak memilih figure misalnya (Pak Jendral…Pak Jendral,,,,) juga bukan intelektual, Ulama-ulama’, seniman, sastrawan atau apapun, tetapi cah angon, beliau juga menuturkan penekno blimbing kuwi bukan (Penekno pelem kuwi….)bukan penekno sawo kuwi, bukan penekno buah yang lain, tapi belimbing bergigir lima terserah apa tafsirmu tentang lima, yang jelas harus ada yang memanjat pohon yang licin itu, lunyu…lunyu penekno…agar belimbing bisa kita capai bersama dan yang harus memanjat adalah cah angon anak gembala, tentu saja dia boleh seorang doctor, kyai, ulama, seniman, sastrawan atau siapapun, namun dia harus memiliki daya angon daya menggembalakan kesanggupan untuk ngemong semua pihak, karakter untuk merangkul dan memesrai siapa saja sesame saudara sebangsa, determinasi yang menciptakan garis besutan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang yang dibutuhkan dan diterima semua warna, semua golongan, semua kecendrungan, bocah angon adalah pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu grombolan.

Selicin apapun pohon-pohon tinggi reformasi ini sang bocah angon harus memanjat sampai selamat memperoleh buahnya, bukan ditebang dirobohkan atau diperebutkan dan air sari pati belimbing gigir lima itu diperlukan bangsa ini untuk mencuci pakaian nasionalnya. Pakaian adalah akhlak, pakaian adalah yang menjadikan manusia bukan binatang kalau engkau tidak percaya berdirilah di depan pasar dan copotlah pakaianmu maka engkau kehilangan harkatmu sebagai manusia.

Pakaianlah yang membuat manusia bernama manusia, pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral, dan system nilai. System nilai itulah yang harus kita cuci dengan pedoman lima! Satu syair tidak bisa diselesaikan ditafsirkan dengan seribu jilid buku, satu tembang syair tidak selesai ditafsirkan dengan waktu dan seribu orang. Kami ingin mengajakmu untuk berkeliling untuk memandang warna-warni yang bermacam-macam dan membiarkan mereka dengan warnanya masing-masing, agar kita mengerti dengan hati dan ketulusan kita.

Komentar
  1. winant mengatakan:

    DAN BENCANA ITU DATANG
    KARENA KITA NERAK ANGGER-ANGGERING PESTI URIP
    MENGENAKAN PAKAIAN (MERASA) KEBENARAN

    mungkin ada banyak aspek yang bisa kita lalui untuk memandang bencana yang bertubi-tubi menimpa nusantara, andai benar itu merupakan hukuman mengapa harus pilih kasih dan kawulo alit yang harus dihukum, sedangkan penyumbang dosa yang begitu besar atas kemelorotan moral bangsa malah pada melenggang piknik ke luar negeri.(apa bedanya yang menghujat dan yang dihujat??)

    mungkinkah kita memandangnya sebagai sebuah pembebasan dari kekerdilan pemikiran yang telah kita ikuti, dari iri dengki terhadap kemaksiatan dan legalisasi karena banyak yang melakukan (benere wong akeh)

    lebih edan lagi wanita sekarang sudah mulai sembrono
    menstruasi mosok di hari Sumpah Pemuda
    kadang hari senin, kadang selasa
    (piye tho sembrono)

    curiga, menghina, saling menentang seharusnya kita bicarakan
    para pemuja demokrasi
    para bayi yng lahir dari pesta demokrasi
    seharusnya duduk bersama
    bikin onar di jalan katanya membela rakyat
    bicara, damai, dan itu akan tercapai ketika pikiran kita bebas dari endapan kotor, dari perasaan paling benar, dari keinginan menjadi hakim sekaligus jaksa untuk sebuah keyakinan (maaf saya bukan pemuja pluralisme tapi saya akan sangat menghargainya)

    bencana hukuman
    bencana peringatan
    bencana ujian
    bencana tanda kasih sayang

    modaro…..
    Indonesia berduka
    Indonesia yang mana….???

    wallahualam

  2. kolomkiri mengatakan:

    Ijin copas untuk newsleter saya mas…hee…

  3. d-Gadget™ mengatakan:

    berkunjung untuk ikut membaca tulisan Cak Nnun..
    trimakasih sob udh posting kutipan²nya pak Cak Nun

  4. Didien® mengatakan:

    tulisannya cak nun sangat dalam, membuat saya merinding untuk menghayati maknanya

    salam, ^_^

  5. Apakabar sahabat?
    maaf saya lama tidak berkunjung ke sini
    semoga persahabatan tetap terjalin..

    salam persahabatan… :)

  6. abaspart mengatakan:

    salam kenal… saya termasuk salah satu hamba allah.. gunem rembang

  7. abaspart mengatakan:

    apa saya boleh menafsirkan lir ilir menurut fersi saya?

  8. abaspart mengatakan:

    oleh: Abas

    1.(lir ilir) Islam. 2.(cah angon) iman. 3.(dodot iro) ihsan.
    CARA MENAFSIRKAN menurut saya sama.Hanya kandungan dalam syair yang beda.
    Tergantung tingkat kaimanan yang membedakan cara tafsir lir ilir.
    1.lir ilir
    tandure woh sumilir
    tak ijo royo- royo
    tak sengguh temanten anyar
    “Ingatlah, sadarlah, mulailah, BERTOBATLAH…”
    “tanamlah amal kebaikan, lakukanlah, belajarlah, TINGGALKAN PERBUATAN TERCELA,
    BERBUATLAH KEBAJIKAN…”
    “Jangan mudah menyerah, berikhtiarlah, terus tingatkan dan SABAR”
    “InsyaAllah nanti di dalam kubur, laksana malam pertama TEMANTEN ANYAR. nanti
    akan memetik hasil tanaman, akan mendapat ganjaran dari amal perbuatan.”
    2.Cah angon-cah angon
    penekno blimbing kuwi
    lunyu-lunyu penekno
    kanggo basuh dodot iro
    “Para penggembala sapi jantan, penggembala kuda hitam, PARA PENGGEMBALA NAFSU
    PARA ALIM YANG BISA MENGUASAI DAN MENGENDALIKAN NAFSU KEBINATANGAN
    NYA…”
    “Belajarlah, pahamilah, laksanakanlah semua inti yang ada dalam buah belimbing berga-
    ris lima.”
    “Seberat, sepahit, semasam apapun, lakukanlah dengan rasa IKHLAS”
    “Untuk membersihkan PAKAIAN HATI,kain jiwa, serban ketakwaan, selimut ketakwaan”
    3.Dodot iro-dodot iro
    kumintir bedah ing pinggir
    dom mono jlumatono
    kanggo sebo mengko sore

    mumpung padang rembulane, jembar kalangane, yo sorak hore

    “Para alim yang kasmaran, PARA ALIM YANG MENEMUKAN PAKAIAN HATI”
    “Jangan silau dengan keindahan semu, karena akan merobek pakaian hati, manisnya
    buah di dunia banyak yang dilingkari ULAR NAGA BERKEPALA TUJUH”
    “Apabila lalai, SELIMUTI KEWAJIBAN DENGAN ANJURAN. Karena dengan rasa kebe-
    naran, rasa yakin, rasa sayang, rasa cinta, rasa rindu, dan dengan rasa rendah diri,
    dalam arti yang hakiki berbaur jadi satu,begitu asyik, begitu indah dalam permainan
    rasa.”
    “Untuk kita petik, nikmati di kehidupan hakiki”
    “MUMPUNG PINTU RAHMADNYA MASIH TERBUKA LEBAR, MUMPUNG MASIH ADA KE-
    SEMPATAN.”

    Khusus no;3 hanya kiasan saja. mungkin seumur hidup aku belum tuntas untuk mengupasnya.

    trimakasih..

    salam…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s