Sosial


Bangkitnya Pergerakkan Mahasiswa

Oleh : A. Ericho Gautama

Mahasiswa UPN Jogjakarta

Suatu perubahan sosial dapat terjadi jika adanya suatu kesadaran dari masyarakat untuk berubah dan melakukan perlawanan terhadap kekuasaan yang tidak berpihak kepada rakyat. Tugas seorang kaum intelektual muda tidak hanya berorientasi kepada edukasi saja, tetapi juga sebagai pelopor pembela rakyat sebagai tanggung jawab moral kepada bangsa, dan salah satu caranya ialah melakukan perlawanan.”

“Mahasiswa memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan politik yang terjadi di bangsa Indonesia”, pernyataan ini muncul karena adanya babak demi babak pergerakan mahasiswa yang mampu menumbangkan kekuasaan rezim seperti di tahun 1966 dan tahun 1998. Dengan semangat yang tak pernah padam para mahasiswa meneriakkan aspirasi mereka dengan turun ke jalan, seperti yang terjadi pada tahun 1998, saat itu gedung MPR di penuhi manusia berpakaian almamater dari berbagai kampus di ibu kota. Kedekatan mahasiswa dengan para rakyat dan melawan segala bentuk penindasan, pembodohan, serta menolak kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat menjadi latar belakang dari aksi-aksi mereka. Bisa dikatakan pergerakan mahasiswa tidak pernah absen menanggapi situasi-situsasi sebagai bentuk dari hasil kekuasaan yang bersifat tirani dari pemerintah. Mahasiswa berontak karena ketidakadilan akibat kekuasaan pemerintah yang menyengsarakan rakyatnya.

Meskipun kekuatan dari aksi-aksi mahasiswa berorientasi pada aksi massa saja, tetapi dengan kolektifitas mereka mampu menunjukkan kepada bangsa Indonesia bahwa mahasiswa ialah suatu generasi muda yang peduli terhadap problem-problem yang terjadi. Pergerakannya merupakan perpanjangan dari aspirasi rakyat sebagai bentuk keikutsertaan masyarakat terhadap kelangsungan politik bangsa. Sebagai insan intelektual, mahasiswa tidak hanya berfokus pada edukasi yang diperoleh di kampus mereka saja, mereka memiliki tanggung jawab lain yaitu sebagai pelopor pembela rakyat yang tertindas, dengan pola pikir yang kritis dari mereka mampu mengkritisi pihak pemerintah yang menyengsarakan rakyat. Perlawanan yang dilakukan merupakan bentuk dari koreksi dan kontrol dari sistem pemerintahan yang berlaku. Mahasiswa juga disebut sebagai agen perubahan sosial ( social change ) karena mampu merubah keadaan sosial di suatu negara.

Beberapa tanggapan mengenai pergerakan mahasiswa

Banyak komentar yang mendukung tapi ada juga yang mencela, dari beberapa perbincangan politik yang pernah di ungkapkan baik secara formal ataupun informal dari tenaga pengajar, mahasiswa, serta masyarakat. Seperti menurut pendapat beberapa mahasiswa, “Buat apasih demo, toh harga juga sudah naik kenapa juga masih dipermasahkan?”, ada juga yang berpendapat “Ngapain juga panas-panasan gak jelas, emang didengerin?, mending di rumah ngerjain tugas kuliah”, tapi beberapa pendapat seorang aktifis mahasiswa “Kita harus memperjuangkan apa yang menjadi hak kita, Mahasiswa adalah perpanjangan tangan dari masyarakat yang berteriak dan tidak pernah di dengarkan pendapatnya oleh para wakil rakyat. Menyuarakan apa yang di rasakan masyarakat, karena mahasiswa merupakan salah satu elemen dari masyarakat. Kami siap mati untuk Rayat.”

Menurut pendapat beberapa pendidik, “Mahasiswa memang harus bisa berfikir secara idealis kapan lagi jika bukan saat kuliah ini karena dalam dunia kerja pemikiran itu sudah tak bisa di pakai lagi, mahasiwa boleh berorasi karena mereka juga bagian dari masyarakat, tapi kami tidak suka jika mereka menjadi anarkis.” Sedangkan menurut pendapat beberapa masyarakat, “kami dukung pergerakan adik-adik mahasiswa, tapi jika merusak fasilitas umum itu malah merugikan rakyat namanya”.

Pergerakan mahasiswa dan era reformasi

Masih terekam di ingatan kita pada bulan Mei 1998 sebagai tonggak reformasi yang ditandai dengan tumbangnya rezim Soeharto. Peristiwa ini tidak luput dari peran serta mahasiswa yang tergabung dari berbagai aksi di setiap daerah. Hampir setiap hari di media cetak maupun elektronik pada waktu itu menayangkan unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa. Mereka rela turun kejalan walaupun harus berhadapan dengan pedihnya semprotan gas air mata dan panasnya peluru karet dari aparat. Memang banyak korban yang jatuh, baik dari mahasiswa, masyarakat, dan juga aparat keamanan. Ada juga yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menjarah, memperkosa dan melakukan tindak anarkis lainnya. Mahasiswa merasa marah dan harus berontak terhadap kecurangan rezim dan anggota pemerintah yang lain karena telah terbukti melakukan tindak korupsi, fase inilah yang mengakibatkan bangsa Indonesia mengalami krisis ekonomi hingga sekarang ini. Gaya pemerintahan orde baru juga dituntut berubah oleh para mahasiswa, yang pada era Soeharto identik dengan kediktatorannya, harus berubah menjadi sistem pemerintahan yang murni menjalankan demokrasi, terbukti dari tahun 1998 hingga sekarang setiap rakyat bebas mengeluarkan aspirasinya bahkan menentang kebijakan-kebijakan dari pemerintah.

Bangsa Indonesia memasuki era baru yaitu reformasi, sebuah perubahan yang diharapkan oleh masyarakat mampu memulihkan kondisi bangsa, tetapi realita yang terjadi dalam pelaksanaan reformasi di bangsa ini tidak mampu memulihkan keadaan, menurut beberapa ahli politik sebenarnya hal ini disebabkan karena bangsa Indonesia belum siap memasuki era reformasi karena masih banyak persoalan-persoalan yang belum terselesaikan akibat dari pemerintahan orde baru seperti kasus korupsi dan kesalahan-kesalahan yang lain. Seharusnya persoalan-persoalan tersebut harus terselesaikan sebelum bangsa Indonesia memasuki fase baru.

Pergerakan mahasiswa setelah tumbangnya rezim Soeharto

Aksi mahasiswa semakin berkurang setelah berhasil menumbangkan presiden Soeharto. Pergerakan mereka terkotak-kotak oleh lembaga atau organisasi yang mereka naungi. Pergerakan mahasiswa dirasa hanya berfokus di daerah-daerah saja dan tidak berlangsung secara serentak seperti di tahun 1998, hal ini disebabkan karena pergerakan mahasiswa hanya berfokus pada permasalahan-permasalahan yang terjadi di daerahnya saja, seperti menolak kebijakan dari pemerintah daerah atau bertujuan menggulingkan kepala daerah karena melakukan penyimpangan. Aksi yang mereka lakukan juga tidak mampu mengakibatkan perubahan yang sangat berarti, karena tidak digubris oleh pemerintah setempat.

Pergerakan mahasiswa di masa ini juga mengalami penurunan jumlah massa, hal ini disebabkan karena trauma para mahasiswa pada unjuk rasa tahun 1998 yang telah memakan banyak korban dari pihak mahasiswa, hal ini berakibat para mahasiswa lebih memilih diam atau tidak melakukan tindakan di saat kesewenangan terjadi dari pada harus menjadi korban kerusuhan pada unjuk rasa. Maka timbullah perilaku apatis dari para mahasiswa yang hanya mementingkan edukasi dari kampusnya dari pada situasi

Pergerakan mahasiswa di tahun 2008

Memasuki tahun 2008 tepatnya sekitar akhir Mei, peristiwa di tahun 1998 terulang lagi seperti membangunkan sang naga yang tertidur selama sepuluh tahun namun kasusnya bukan menggulingkan suatu rezim, tetapi aksi mereka bermaksud untuk menolak kenaikan BBM. Kenaikan BBM ditolak karena akan mengakibatkan dampak yang meluas seperti kenaikan harga kebutuhan pokok. Mahasiswa melakukan aksi serentak lagi seperti yang terjadi sepuluh tahun yang lalu, kolektifitas aksi-aksi mahasiswa terjadi di beberapa daerah. Di Jogja misalnya, mahasiswa melakukan beberapa aksi, antara lain mereka melakukan unjuk rasa dengan memblokir pom bensin seperti yang terjadi di jalan Kusuma Negara dan pemblokiran jalan raya yang terjadi di Bantul.

Lagi-lagi mahasiswa harus berhadapan dengan para aparat, seperti yang di alami rekan-rekan mahasiswa di UNAS, mereka terpaksa harus bentrok dengan para aparat, karena pihak aparat menyerbu masuk ke kampus mereka dan merusak fasilitas kampus, sungguh disayangkan memang, pihak aparat yang seharusnya menjadi penertib dan melindungi aksi unjuk rasa harus bentrok dengan mahasiswa dengan memasuki kampus. Para mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa juga harus ditahan oleh aparat selama beberapa hari. Realita inilah yang terjadi di tahun 2008 ini, ditengah kondisi bangsa yang semakin terpuruk membuat para mahasiswa dengan sifat idealisnya melakukan suatu tindakan walaupun harus rela terluka bahkan harus ditahan oleh aparat.