Tempat Itu Bernama Warung Kopi


Kadang tanpa sadar kita terlarut dalam nikmatnya secangkir kopi, dalam sebuah perkumpulan non formal kita asyik dalam bercengkrama dengan teman, sodara, sahabat karib atau dengan teman band kita, perlu diketahui bahwa diwarung kopi kita tidak hanya nongkrong atau menikmati segala apa yang disajikan didepan kita, namun kita bisa bertukar pikiran dan menghasilkan ide-ide yang cemerlang, gagasan-gagasan yang sebelumnya merupakan omongan belaka.

Dalam hal ini kita dapat mencurahkan segala hasrat kita dalam mengeluarkan pendapat, dari warung kopi pun banyak melahirkan pemikir-pemikir yang kadang tidak disangka terlahir begitu saja, katika saya pada waktu itu pergi ke Jogja tapatnya di Blandongan tempat segala jenis bentuk manusia berjajar dari sudut-sudut tempat duduk, tidak ada gap atau sekat-sekat yang membedakan mereka.

Warung kopi terlahir bukan hanya untuk tempat penampungan orang-orang pengangguran, namun juga terlalu hebat untuk mengatakan bahwa warung kopi merupakan tempat lahirnya para pemikir-pemikir besar.

Tapi saya yakin, warung kopi merupakan forum demokrasi terbuka yang mempertemukan semua pihak dan segala lapisan masyarakat, warung kopi merupakan tempat terciptanya kemungkinan mekanisme musyawarah yang seobyektif mungkin, mengarah, dan menemukan titik terdekat dari rasa kebersamaan.

Di Cepu cukup subur lahirnya warung kopi karena saya manyadari problem pengangguran tidak dapat dislesaikan hanya dengan mencari pekerjaan kesana-kemari namun mendirikan warung kopi dapat sedikit menutup lobang kekurangan hidup. Perbedaan pandangan, paham politik, cara berfikir, agama, ras jika disebut dalam falsafah adalah “cintailah teman-temanmu seperti kamu mencintai Kopimu“ maka barang kali amat sulit menemukan cinta kasih itu di tengah pergulatan nilai dikota kecil bernama Cepu, toh di era moderen ini kita masih punya warung kopi Mbah Yi, Mbah Seger, Ma’ni, to Grind, Rera, Mbak Pi’ah, Bu Nandar dll. Sesungguhnya kita merindukan kedewasaan.

Kalo ditanya tentang kopi, saya balik bertanya siapa diantara anda yang secara ilmiah dan teknologis memiliki pengetahuan dan penguasaan tentang kopi? Ada berapa ratus jenis kopi yang pernah dibikin manusia setelah reformasi? Apa beda kopi luwak, kopi tubruk, kopi jos dan kopi kothok? Kopi apa yang bisa ramu secara manual dan yang lainya dibikin dengan teknologi canggih? Kota mana saja yang memiliki fasilitas teknologi pembuatan kopi sebagaimana yang ada di Prancis?

Tak juga ada yang bisa menjawab. Saya lega karena lantas diskusi saya bikin forum lawakan, penuh gelak tawa dan sesekali romantik kemesraan kemanusiaan dan itu pun tempatnya di warung kopi.

Iklan