Pacar


Malam yang indah, bersama berjuta bintang yang bersinar diangkasa.terdengar suara gemericik air yang memberitahukan bahwa ada orang yang sedang mensucikan diri, yang akan menunaikan kewajiban serta bermunajat yang merupakan ungkapan syukur kepada Sang Khaliq.

“Kau cinta dia?Rillian…” Didi bertanya, seorang pria yang baru saja lulus sekolah dan telah bekerja di sebuah pabrik

“emmm…emang kenapa kalau cinta & memangnya kenapa juga jika tidak?” Tanya Rillian

“nggak kenapa-kenapa, aku kan cuma tanya kenapa harus sewot gitu???” tambah Didi dengan nada kecewa.

“Ukh..ngebet banget sih nanyanya.” batin Rillian

“Woi!!! Ditanya kok malah diam?” bentak Didi.

“eh…iya mas! aku denger kok! aku Cuma simpati aja kok sama dia…!” jawab Rillian dengan gugup.

“Simpati? Simpati apa jatuh hati? he..he..he..” Ledek Didi

Rillian terdiam. Beberapa saat sahabatnya meneruskan kata-katanya,

”yach, begitulah cinta, aku bisa maklumin itu! cinta itu fitroh friend.trus apa rencanamu?” Tanya Didi lagi.

“Maksudnya?” Tanya Rilllian tersentak kaget.

“Ya,apa perasaan kamu mau didiemin gitu aja atau kamu mau nembak dia?” tambah Didi.

“nembak ya?aku malu. Antara perasaan mau & tak mau…aku bingung, aku masih terlalu kecil untuk mengenal istilah PACARAN, tapi…kenapa ada rasa aneh di hatiku. Terkadang rindu, senang, tertawa?” batin Rillian.

“Ah…sudahlah mas,nggak usah dipermasalahkan” tepisnya.

“Dah ya!aku mau masuk masjid!” tambah Rillian

…xXx…

Adzan berkumandang. Memanggil setiap muslim untuk berhenti beraktivitas & beristirahat sejenak untuk melepas lelah serta bermunajat kepada Sang pemberi kehidupan.

Seperti biasa Rillian pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat.

“Kau cantik!”suara seorang lelaki yang ber diri di samping Rillian ( namanya Ahmad ).

Rillian sempat kaget mendengar kata-kata itu!

“Cantik ya?biasalah! kalau nggak cantik, itu bukan cewek! jawab Rillian lirih.

“Sungguh!kau cantik,aku tak bohong.”jawab Ahmad.

Rillian tak begitu memperdulikannya,ia hanya tersenyum simpul & buru-buru pergi.

…xXx…

Sore yang cerah ketika matahari sampai di sebelah barat yang perlahan menghilang karena rotasi bumi yang berganti dengan bulan.

“Kamu marah sama aku ya?”tanyab Ahmad.

Rillian tak bebitu memperdulikan pertanyaannya,

”nggak kok!”jawab Rillian singkat.

“Beneran kan nggak marah?”tanyanya lagi.

“Sudahlah! aku kan sudah bilang kalau aku nggak marah.” jawab Rillian dengan nada sedikit kesal dan segera pergi

…xXx…

Malam yang cerah, langit tampak bercahaya karena sinar berjuta bintang disertai Bulan yang gagah perkasa membelah kumpulan awan malam.

Hari yang melelahkan.seperti biasa sebelum tidur Rillian menulis peristiwa-peristiwa yang telah ia lalui…

Akhir Liburan,2006

Dear Diary.

Ry aku bingung! Aku pengen banget Pacaran, tapi mungkinkah pria yang aku cintai juga mencintai aku? Bukan apa-apa sebenarnya, tapi entah kenapa aku selalu bahagia saat melihatnya, bertemu dengannya, ataupun hanya sekedar mendengar namanya! Apakah ini cinta?mungkin iya Ry,wow Selamat Datang Cinta..

…xXx…

Pagi hari, kabut yang masih cukup tebal tak membuat kecil niat Rillian untuk segera pergi sekolah, karena hari sudah cukup siang.

Di tengah perjalanan…

“Hai Rillian!”sapa lembut seorang laki-laki yang berdiri di belakangnya.

“Oh iya Ahmad!ngomong-ngomong mau pergi kemana?kok berhenti disini?”jawabnya.

“Boleh nggak aku nganterin sekolah kamu?” Tanya Ahmad.

“Terus temenku?jadi berdua gitu?” tanyanya.

“Ya nggak lah!Cuma kamu aja!itu kan banyak yang lewat!Riri kamu pergi sekolah sama mereka ya?aku boleh kan pinjam teman kamu kan?” rayu Ahmad pada Riri.

“Oke-lah”jawab Riri mendengus kesal

“Aku duluan ya Ri…!”teriak Rillian.

Di perjalanan…

“Nggak biasanya nganterin aku sekolah!”Rillian berbicara mencoba mencairkan suasana.

“Emang nggak boleh ya?”jawab Ahmad nyengir.

“Ya bukan begitu juga sich…”balas Rillian dengan nada melemah.

“Terus…???”timpal Ahmad.

“Ya udah! Makasih ya!”seru Rillian.

“Yups sama-sama!”jawab Ahmad.

…xXx…

Hujan masih rintik-rintik diluar sana, menyisakan suara tik-tik yang berirama. Bau tanah yang basah menyeruak, menelusup dalam rongga dada setiap insan, termasuk Rillian.

“Hai melamun saja!!!”seru Riri.

“Eh…iya…eh…”jawab Rillian dengan gugup.

“Kamu sedang melamun ya?”Tanya Riri.

“Ngelamunin Purnama ya…???cieeeeeeeeeeee…!!!ehm..ehm..” goda Riri.

“Kamu itu ngagetin aja!”kata Rillian kesal.

“Alah! Pake marah-marah segala,kalo lagi bahagia mikirin cowok idaman jangan marah-marah! Itu nggak wajar lhooooo…”tambah Riri.

Rillian hanya diam, ia tak begitu memperdulikan ejekan temannya. Riri hanya tersenyum sinis, ia tahu bahwa dalam keadaan seperti itu sahabatnya tak ingin diganggu

“oya,satu pesanku : Jangan lama-lama melamun ntar kerasukan lagi!”Riri tertawa sambil berlalu. Rillian masih termenung melamun.

…xXx…

Langit tampak cerah biru karena peleburan warna gelap angkasa yang berlawanan dengan atmosfer. Hari kini dirasa Rillian seperti bunga-bunga yang bermekaran di musim semi. Ah…indahnya hidup dengan cinta.

“Maukah kau jadi pacarku Rillian???” Ahmad menatap Rillian memelas.

Rillian tersentak. Seketika itu pula ia menghentikan kegiatannya.

“Bagaimana?” tambah Ahmad.

“Maaf, aku belum bisa menjawab itu sekarang!” jawab Rillian singkat.

“Aku akan menunggu jawaban darimu!” jawab Ahmad dengan yakin.

…xXx…

Rillian sangat kesal, karena ia tahu bahwa Ahmad adalah seorang perokok. Dadanya sesak setelah mengetahui itu.

“Kau perokok ya?” Tanya Rillian kepada Ahmad.

“Aku tak mau bohong, ya memang benar aku memang perokok!” jawab Ahmad tenang.

“Memangnya kenapa Rillian?” tambah Ahmad.

“Tak apa-apa! aku tak suka perokok! Kalau kau teruskan itu, jangan ajak bicara aku lagi!” semprotnya.

“yaaaach, jangan gitu dong! Aku akan menghentikan itu demi kamu!” rayu Ahmad.

“Aku pegang janji kamu!” jawab Rillian singkat.

…xXx…

Malam yang larut & dingin tak membuat Rillian segera tidur. Ia ingin mengamalkan hadist kekasih Allah, bahwasannya

“Ya Rabbi, berikanlah kepada hamba hati yang tulus, bersih & terhindar dari fitnah yang membuat hamba lupa kepada-Mu. Ya Allah, Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, karuniakanlah kepada hamba perkataan yang baik, yang tidak membuat orang marah, & tersesat karenanya, agar orang nyaman disamping hamba. Ya Allah, Tuhan pemegang hati setiap insan, sembuhkanlah saudara kami yang sedang Engkau uji dengan sakit, Maha benar Engkau ya Allah. Rabbana atina fiddin ya khasanah wafil akhiroti khasanah wakinna ‘adzabannar. Amiiin”

…xXx…

Pagi datang dengan perlahan, bersama kokok ayam yang mulai terdengar lantang.

Jam menunujukkan pukul tiga pagi. Rillian masih menikmati waktu Qiyamul lailnya bersama Sang pencipta.

Begitu tentram hatinya karena telah berbaur oleh energi yang diberikan saat sholat malam tadi. Ia begitu bersemangat mengawali hari ini.

“ Pagi Umi!!!” sapa Rillian dengan penuh hormat & bersemangat.

“ Pagi sayang! Putri Umi tampak semangat sekali hari ini.” Balas Uminya.

“Ya harus dooo..ng! hari yang indah tanpa dendam & kebencian, agar Allah makin sayang.” Tambah Rillian dengan senyum merekah, bak bunga mawar yang telah mendapat nutrisi dari akar. Rillian mengambil roti selainya yang telah dipersiapkan oleh Uminya sejak tadi. Dia bersyukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Tuhannya.

“Bismillahi awali wa akhirihi” bisiknya pelan sambil menyantap sarapannya.

“Abi pulang jam berapa Umi?” Tanya Rillian dengan nada gembira.

“ Kalau tidak salah, insyaallah sore. Memangnya kenapa sayang?” jawab Uminya dengan bijaksana.

“ Rillian kan kangen Mi!!! memangnya Umi nggak kangen sama Abi??? Kan sudah seminggu Abi tugas!” ledek Rillian.

“ Nanti Rillian mau telpon Abi ah, mau bilang kalau Umi nggak kangen sama Abi. Oya, sekalian minta oleh-oleh coklat!” tambah Rillian.

“ Rillian sayang! Umi kangen sama Abi. Tapi apakah rasa sayang harus diumbar-umbar?” jawab Uminya sabar.

“ Ya Umi!Rillian mau sekolah dulu ya Mi. sudah setengah tujuh lebih.” Sambil berlari.

“ Baca Alhamdulillah dulu saya….ng???” teriak Uminya.

“ Alhamdulillahilladzi at’amana wasaqoona waja’alana muslimin.” Doa Rillian dalam hati.

…xXx…

“ Rillian! Kamu sudah mengerjakan pe-er Bahasa Inggris kah???” teriak Yuni. Teman Rillian, seorang wanita dengan rambut panjang nan lurus.

“ Alhamdulillah sudah! Memangnya kamu belum mengerjakan?” jawab Rillian.

“ Ajarin aku dooong!!!” pintanya dengan nada memelas.

“ Berhubung mbak Rillian sedang baik hati, ya sudah sini.” balas Rillian dengan bangga.

…xXx…

Sore yang indah dengan kuning langsat warna langitnya. Tak banyak orang yang tahu pengetahuan tentang panorama itu.

“ Masyaallah!!! Aku kan mau telpon Abi.” Kata Rillian sembari mengeluarkan sebuah handphonenya.

Ia tekan nomor Abinya dan ia coba menelpon.

“ Halo, Assalamu’alaikum Rillian! Ada apa sayang???” terdengar suara lembut & bijaksana yang sangat ia kenal di ujung handphonenya.

“ Halo, Wa’alaikumsalam Abi! Kaifakhaluk Bi?” ia memulai pembicaraan.

“ Alhamdulillah khoir! Rillian sendiri bagaimana? Umi dan de’ Zahra juga bagimana kabarnya, sayang?” Tanya Abi.

“ Kita baik-baik saja Abi! Abi kapan pulang??? Rillian sudah kangeeeen buanget, apalagi Umi. Oya Bi, nanti kalau pulang Rillian bawain oleh-oleh coklat yach…” Rillian dengan nada manja.

“ kok kangennya ada syaratnya gitu, sayang? Ya, insyaallah jika sempat nanti Abi belikan.” Suara Abinya dengan tersenyum di ujung ganggang telepon.

“ Yah, si Abi! Kok jika sempat??? Ya harus disempat-sempatkanlah!!! Ya Bi yaaaa…” rayu Rillian.

“ Insyaallah sayang!” jawab Abinya halus.

“ Abi mau bicara sama Umi nggak???” tawar Rillian.

“ Nggak usah ya Bi!!! Dah mau adzan maghrib, nitip salam aja ya Bi untuk Umi???” tambah Rillian.

“ Lhoh??? Nawarin kok malah dijawab sendiri sayang… ya sudah nitip salam Ma’assyauq ya buat Umi. Wassalamualaikum.” Abi Rillian mengakhiri pembicaraan.

“ Wa’alaikumsalam.” lirih Rillian.

…xXx…

Malam yang indah, angin malam mulai membelai langit hitam yang bercahaya karena jutaan bintang yang bersatu padu membentuk suatu pemandangan yang sangat indah untuk dilihat.

Rillian masih duduk di meja belajarnya. Entahlah, mungkin dia sedang ada masalah. Dia menulis sesuatu, kemudian menyobeknya dan membuang ketempat sampah. Begitu seterusnya.

“ Sayaaaaang…” terdengar suara lembut di balik pintu. Ia sangat mengenali suara itu.

“ ya itu Umi .” bisiknya dalam hati.

“ Ya Mi…. Lia lagi nyelesein tugas sekolah ni. Ada apa Mi?“ dengusnya kesal.

“ Tadi mbak Lia sudah makan belum?” Tanya Uminya khawatir.

“ Habis ini, Umi. Pekerjaan Lia sudah hampir selesai.” Jawab Rillian datar.

“ Ya sudah. Cepat ya sayang. Nanti baksonya keburu dingin.” Perintah Umi mengakhiri pembicaraan.

“ Alhamdulillah. Akhirnya selesai juga.” Lirih Rillian.

Terdengar suara HP berbunyi….

1

Pesan

diterima

“ SMS dari siapa ya?” Ungkapnya dalam hati. Rillian penasaran

Dari : Ukhti Rahma

Assalamualaikum. Ukhti, tlg besok masuknya TPA agak awal. besok, anti ngajar di An-nisa’ 1. Bls

Ke : Ukhti Rahma

Alaikumsalam. Ya insyaallah. Wassalamualaikum.

Dari : Ukhti Rahma

Wa’alaikumsalam.

…xXx…

Di meja makan, tampak beberapa piring dan isinya ditata sedemikian rapi. Tak lupa tumpukan piring yang masih kosong dan bersih. Serta sendok disampingnya.

“ Umiiiiiiii… baksonya mana???” Tanya Rillian dengan menggerutu.

“ Sayang, tidak perlu keras-keras seperti itu, anak putri itu sebaiknya lemah lembut…” pelan suara Uminya.

“ Ya tapi mana???” Dengus Rillian kesal.

“ Tadi ada anak kecil minta-minta. Kasihan dia. Dia kelaparan. Tadi kan baksonya tinggal satu mangkok. Makanya Umi kasih bakso itu ke dia. Kamu kan bisa makan ayam bakar itu. Masih banyak bukan?” terang Uminya dengan penuh kasih sayang.

“ Tapi kan..” Rillian denga terbata-bata.

“ Sayang, Umi tahu, mbak Lia itu kan penyayang. Kita kan masih punya makanan lain. Memang mbak Lia tidak kasihan?” potong Uminya.

“ Ya deh… ya deh. Rillian tahu. Asyif ya Mi. Umi baik dech.” Jawab Rillian dengan suara kembali tenang.

“ Ya sayang. Sudah makan gih mumpung ayam bakarnya masih hangat.” Seru Umi Rillian.

“ Bismillah…” doa Rillian lirih.

Setelah makan Rillian menuju taman belakang rumahnya. Malam yang cerah, berjuta bintang tampak bertaburan di langit.

“ assalamualaikum…” sapa seorang lelaki paruh baya.

“ Abi, mengagetkan saja.” Sahut Rillian.

“ Tumben kamu kesini sayang. Biasanya kamu sibuk mengerjakan pe-er kamu.”

“ memang tidak boleh kalau Rillian kesini.” Balas Rillian nyengir.

Abu Rillian hanya tersenyum dan pelukan hangat menyambut Rillian. Ah, indahnya cinta

…xXx…

Malam yang dingin. Malam yang membuat orang malas untuk bangun, walaupun sekedar membuka mata. Tapi berbeda dengan Rillian. Ia sudah terbiasa dengan hawa dingin, ia merasakan kehangatan yang sangat belailan dari Pemilik hawa dingin itu sendiri.

Ia terbuai dengan kebesaran Penggenggam setiap hati manusia, ia sangat bahagia menjadi seseorang yang ditakdirkan dapat menyambut indahnya pagi, melantunkan ayat-ayat suci dengan nada tilawah yang telah diajarkan gurunya kepadanya. Ya, ia benar-benar bangga.

Setelah menutup mushafnya, dan membaca doa. Ia beranjak dari kamarnya, menuju kamar mandi. Ia ingin mandi.

“ Subhanallah! Segar sekali rasanya. Alhamdulillah, hamba masih engkau ijinkan untuk merasakan sejuknya air.” Gemingnya dalam hati.

Handphone Rillian berbunyi…

Ukhti Maisarrah Calling

“ Hallo, assalamu’alaikum…” sapa Rillian

“ Wa’alaikumsalam. Ukhti, nanti ada acara tidak?”

“ Alhamdulillah tidak.”

“ Tolong gantikan saya ngajar. Saya ada undangan walimahan. Nanti jadwalnya praktek sholat sama olahraga.”

“ Iya Insyaallah.”

“ Jazakillah. Assalamu’alaikum.”

“ Afwan. Wa’alaikumsalam.” Ucap Rillian menutup pembicaraan.

…xXx…

Sebelum berangkat mengajar Rillian berpamitan kepada Uminya.

“ Mi, Rillian berangkat ya…” pamitnya.

“ Kamu tidak sarapan dulu sayang? Tadi Umi sudah buatkan roti selai dan susu. Umi takut kalau kamu kenapa-kenapa dijalan.” Jelas Uminya.

“ Umi jangan berdoa seperti itu. Nanti diijabahi Allah lho. Rillian mau sarapan dulu.” Jawab Rillian dengan senyum merekah.

Diambilnya Roti selai buatan Uminya. Dia berdoa sebelum memakannya. Dia masukkan Roti perlahan-lahan, sambil sesekali menyruput susu. Setelah habis Rillian kembali berdoa.

“ Berangkat dulu, Mi.” pamitnya singkat dan berlalu pergi.

“ Hati-hati ya sayang.” Balas Uminya dengan melambaikan tangan.

…xXx…

Rillian pergi naik sepeda kesayangannya, walaupun di rumah ada sepeda motor. Tetapi ia memilih untuk naik sepeda mininya saja karena jarak tempat mengajar hanya beberapa meter saja dari rumahnya.

Setelah sampai ditempat yang dituju, ia segera memarkirkan sepedanya. Banyak anak-anak berlalu lalang. Karena masih belum berbumyi bel tanda masuk.

Iklan