TAK ADA JUDUL


Pagi yang cerah, bersama kicau burung gereja yang meramaikan suasana. Tak kalah pula nyanyian pohon hijau yang tumbuh subur di halaman sekolah. Semerbak wangi bunga yang membumbung tinggi diangkasa. Menarik hati kumbang-kumbang yang sedang bersenda gurau di taman. Hujan tadi malam menyisakan guratan warna yang elok rupawan yang amat terkenal dengan nama pelangi. Mentari menampakkan diri dengan malu-malu bersama warna jingga yang mulai menghiasi langit diufuk timur. Kokok ayam sudah terdengar sedari tadi yang menghasilkan gema suara yang teratur bunyinya.

“ Assalamualaikum…” sapa Umar. Seorang siswa sekolah menengah atas kelas sebelas.

“ Wa’alaikumsalam warohmatullahiwabarokaatuh…” jawab serentak beberapa siswa yang terlebih dahulu masuk ke kelas.

“ Pagi friend!” seru Zaid. Sahabat yang sangat dekat dengan Umar.

“ Sobakhan nuuur…” jawab Utsman dengan senyum simpul.

“ Loh kok??? Kaya orang Arab saja kau ini. Pakai sobakhun nuuur segala.” Timpal Ali tak lupa logat batak.

“ Dilarang kah???” telisik Umar dengan bangga.

“ Ah sudahlah. Tak usah diperpanjang lagi. Kaya’ anak te-ka saja kalian ini.” Hasan menengahi.

“ Ha..ha..ha…” tawa mereka renyah.

Hasan bingung dibuatnya. Tak berapa lama mereka bersikap seperti biasa. Ya, hal seperti itu sudah menjadi hal yang bukan lagi luar biasa bagi mereka. Mereka seperti saudara yang saling melengkapi.

Bel tanda masuk telah berbunyi. Tak usah diperintah, para siswa sudah tahu akan kewajiban mereka. Mereka seakan tak ingin mengecewakan orang tuanya masing-masing yang telah berusaha susah payah untuk membiayai sekolah mereka. Jarang sekali pemandangan seperti ini di jaman sekarang. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengingkari hal itu. Dari tawuran antar pelajar, narkoba, pacaran, nongkrong, pergi ke diskotik, sampai minum-minuman keras yang membuat moral bangsa menjadi terpuruk. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka.

♥ ♥ ♥

Hari sudah semakin siang. Suhu semakin tinggi. Panasnya terik matahari seperti api yang berkobar, menjilat-njilat, dan memakan apa yang dilalui. Umar tampak kelelahan. Dia baru keluar dari Laboratorium IPA. Ada tugas dari Pak Harits, yang belum ia kerjakan. Dia harus segera menyelesaikannya. Dia tak punya waktu banyak kemarin. Banyak kegiatan yang membuat Umar menunda pekerjaannya itu. Mulai dari rapat OSIS, Ekstra Beladiri, sampai tugas-tugas rumahnya. Bahkan ia sampai lupa bahwa ia belum makan siang sejak tadi pagi.

“ Perlu diisi bahan bakar lagi” ucapnya, sambil memegang perutnya yang sudah keroncongan.

Ia berjalan menuju kantin sekolah. Banyak siswa yang berada disana. Karena memang sedang waktunya istirahat.

“ Mie Ayam dan Es buahnya satu, pak!” serunya kepada Pak Jamal, penjaga kantin disekolahnya itu.

“ Siap den!!!” sahut Pak Jamal.

Setelah menunggu beberapa menit. Pak Jamal datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan Umar.

“ Sendirian saja, den? Tumben ke kantin. Biasanya aden sibuk sampai-sampai lupa sama bapak yang tua ini.” Suara Pak Jamal.

“ Iya, pak. Kebetulan teman-teman sedang sibuk dengan hajat masing-masing. Masyaallah pak. Saya ingat terus sama bapak. Bapak yang selalu mengingatkan saya makan ketika saya lupa makan, bapak yang mengingatkan saya untuk selalu dan terus memperbaiki diri saya.” Tegas Umar.

“ Ya sudah jika kamu ingat le…! Teruskan saja makannya.” Sahut Pak Jamal dan berlalu pergi.

♥♥♥

Hari Ahad. Pagi yang tak terlalu cerah. Bisa dikatakan mendung. Banyak kabut yang menghalangi pemandangan. Matahari tak kelihatan karena saking tebalnya kabut.

Tak seperti biasanya. Hari ini Umar sangat rapi. Ya, ia ingat janjinya kepada Ustadz Abdurrahman untuk mengajar TPA milik beliau.

Sebelum pergi ia berpamitan kepada ibunya. Seorang wanita penyabar, kasih sayang, dan tegas. Beliau menikah pada umur 19 tahun, umur yang masih terlalu muda untuk masuk kejenjang pernikahan. Ummu Umar masih muda dan cantik. walau tak meneruskan kuliah, sikap beliau sangatlah berpendidikan. Jebolan pondok yang cukup ternama di daerah Sukoharjo.

Umar berjalan kaki menuju jalan raya yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Ia menunggu di dekat kedai kopi milik Pak Brewok. Tak berapa lama sebuah bus kecil menghampirinya.

Dilihatnya pemandangan sepanjang jalan Solo-Jogja, sambil memegang mushaf kecilnya pemberian ayahnya. Ia harus menyelesaikan hafalannya. Surat Al-Muthaffifin yang lumayan panjang.

“ Mau pergi kemana mas?” Tanya kernet bus membuyarkan konsentrasinya.

“ eh..ya…pak. mau ke Delanggu, ini sekalian ongkosnya pak!” jawabnya tergagap sambil merogoh uang disakunya.

“ O… delanggu. Sebentar lagi sampai. Ini sudah sampai di Pakis.” Ucap si kernet.

Tak berapa lama ia sampai. Ia turun di depan pasar Delanggu. Ada Ustadz Abdurrahman yang ternyata telah lama menunggunya.

“ Capek le?” Tanya beliau sambil menepuk pundak Utsman.

“ Oh..tidak Tadz. Saya sangat menikmati perjalanannya tadi.” Jawabnya dan tak lupa ia menarik ujung-ujung bibirnya yang membentuk sebuah senyuman yang manis.

Ustadz Umar hanya membalasnya dengan senyuman simpul.

“ Mari Ustadz.” Ajaknya.

“ Sebentar. Tadi kamu sudah sarapan belum le?”

Utsman lupa sarapan. Saking semangatnya ingin segera sampai. Perutnya sudah mulai keroncongan. Kemarin malam ia terlalu sibuk, jadi ia juga lupa makan malam.

“ Belum, Ustadz” sahutnya dengan muka merah jambu.

Rupanya Ustadz Abdurrahman tahu keadaan itu. Beliau mengajak Umar ke salah satu warung yang menjual bubur ayam.

” Kamu mau makan apa le?” tanya Ustadz lembut.

” Mungkin sama dengan ustadz saja.” jawab Umar

” Minumnya juga?” tanya Beliau lagi.

” Ya.” jawabnya lagi.

Ustadz memesan dua mangkok bubur ayam dan dua gelas teh hangat.

Mereka menikmati makanan dengan penuh rasa syukur. Tenggelam dalam suasana Qona’ah yang menghiasi qalbu mereka. Dengan Zuhud, mereka dapat menikmati apapun dengan bahagia. Meskipun makanan yang ada hanya tempe & tahu. Banyak orang yang berlalu lalang, tak begitu memepedulikan orang yang melewatinya. Asap yang ditimbulkan kendaraan bermotor tak terlalu menyesakkan dada, karena hari belum beranjak siang bahkan masih bisa dibilang masih terlalu pagi.

Iklan