“Saya Terbakar Amarah Sendirian”


ABAD ke-20 di tandai hampir tiada hentinya pesta teror dan kekerasan serta penipuan dan penghianatan. Setiap manusia di berbagai belahan dunia menyadari bahwa kebohongan yang di ulang seribu kali pada akhirnya dapat menjadi kebenaran, bahwa pendudukan yang brutal dapat diartikan sebagai pembebasan, dan membunuh jutaan orang tidak berdosa dapat dibenarkan oleh para pemimpin negara-negara adikuasa atau bukan adikuasa sebagai harga yang harus dibayar demi kemajuan kemanusiaan, peradaban, dan kepentingan nasional.
Jutaan orang lenyap di krematorium-krematorium, di kamp-kamp kosentrasi, di medan perang, ataupun reruntuhan kota yang terkena bom. Namun demikian, abad ke-20 tidak hanya diingat kebrutalannya saja.
Di tengah-tangah penjarahan dan kesemrawutan, lahir manusia manusia yang luar biasa yang berpendirian teguh dan terus melawan arus demi membela mereka yang teraniaya, mereka yang tersudut, dan para korban pemerintahan yang kejam dan sewenang-wenang: Manusia-manusia yang menentang demagogi, militerisme, dan kekuatan ekonomi dengan dua alat perlawanan terkuat yang dikenal manusia:
Pengetahuan dan Kebenaran. Banyak di antara mereka mati dalam proses ini, namun banyak pula yang bertahan hidup tapi menderita. Banyak yang menjadi simbol gerakan kemerdekaan dan perlawanan. Mereka bukanlah nabi atau guru. Mereka hanyalah manusia-manusia pemberani yang tidak pernah menjadi fanatik. Sementara seluruh dunia di jarah dan orang yang tak berdosa di bunuh atau dimasukkan ke penjara dan kamp-kamp kosentrasi, para lelaki dan perempuan yang memegang teguh prinsip ini, tanpa mengenal lelah, terus mengidentifikasi gejala-gejala penyakit jiwa, mendiagnosis penyakitnya, dan mencari obat penyembuhnya. Mereka melawan kebohongan dengan kata-kata sederhana yang masuk akal, melawan mitos-mitos yang membahyakan dengan fakta-fakta, melawan fanatisme dengan kebenaran. Sebagian dari mereka menghadapi kegilaan ini dengan senyum di wajah. Sebagian memberontak dan membela kebenaran dengan melayangkan tinju, yang lain melawan dengan suara lembut berbisik, namun merasuk kedalam benak juataan orang di seluruh dunia.
Mereka dilahirkan di Eropa dan Amerika, di Afrika dan di Asia, di setiap penjuru dunia. Hampir semua dibesarkan dalam keluarga korban, tapi banyak pula yang merupakan anak pelaku. Dari manapun asal mereka, pesan yang disampaikan sangat universal dan di dasarkan pada suatu prinsip : Manusia adalah setara tanpa pebedaan warna kulit atau ras, kebangsaan atau gender, status dan kekayaan. Kebenaran jarang sekali mengemuka; para seniman tunduk kepada aturan, media masa melakukan sensor sendiri.
Selama empat puluh tahun ini, seorang laki-laki bersuara lembut dari Jawa Tengah menulis buku, mencoba merumuskan inti dari sejarah bangsanya yang masih belia dan menderita ini. Dia menulis di penjara, di kamp militer, dan juga waktu menjadi tahanan rumah. Dia menulis dalam “pengasingan diri”, dalam keadaan marah dan ngeri melihat situasi dan kondisi dunia di balik jendelanya. Banyak bukunya di bakar, dan yang selamat dari pembakarannya di larang beredar. “Menulis adalah tantangan pribadi saya terhadap kediktatoran,” demikain dia berkata bertahun-tahun setelah itu. Seluruh karyanya memiliki tema dan pesan yang sama: “Penjajahan dan imperialisme, baik yang internal maupun yang eksternal, selalu salah. Kaum elit yang memperkaya dirinya sendiri dengan menjarah bangsanya sendiri berarti melakukan perbuatan yang tidak bermoral.
Untuk menjabat dirinya, seorang laki-laki harus berani melawan ketidakadilan. Di negri yang masih muda dan banyak masalah, dimana sejarah di belokkan dan di pasung, dimana kesatuan didasarkan pada ketamakkan akan kekuasaan dan alasan-alasan geografis dari pada cita-cita dan kebudayaan bersama, tidaklah heran bila suara keras perlawanan moral berusaha menyatukan bangsanya terhadap terror dan ketidakadilan tersebut datang dari penulis besar Pramoedya Ananta Toer.
Iklan