Idealisme dan Semangat Perubahan


Saat kita menengok kebelekang kita akan melihat betapa anak muda sering kehilangan keberanian dalam hal menunjukkan sikap mental dan tindakan yang mampu mengubah pola piker mereka, dimana anak muda lebih sering berbaris miris dalam iringan ke egoan yang tinggi, berjajar dalam kungkungan moral yang tidak jelas namun beringas, perjalanan idealisme yang di barengi dengan sikap dan semangat muda yang tidak tersalurkan namun lebih menunjukan eksistensi sikap yang apatis terhadap segala hal, sikap rasis dalam kehidupan, dukungan keimanan dan moral yang diberikan orang tua agar kita selalu bersikap baik dalam segala hal sudah bukan merupakan bumbu penyedap bagi keberlangsungan hidup.

Banyak sekali idealisme yang ter- patah kan idealisme yang sudah terlempar dari jalur kemurnian dan juga kejujuran yang tinggi, tirani sudah terbawa dalam slimut hati yang gelap terbawa dalam lorong yang tersembunyi hanya mampu menyanyikan ego diri dalam panggung klompok ataupun golongan, berteriak angkuh namun tetap arogan dalam setiap sel-sel perjalanan hidupnya.

Idealisme dinikmati dalam batas-batas ego, lebih menojolkan sikap perbedaan yang sangat tinggi dan selalu ingin merayakan kematian idealisme lain yang semestinya berdampingan dengan indah. Semangat selalu identik dengan keharusan memberangus system yang ada, teriakkan selalu identik dengan perlawanan, pembrontakan selalu mereka identikkan dengan semangat revolusi, dan disitulah mereka menyebut dirinya dengan kaum kiri!, dimana mereka mampunyai anggapan bahwa untuk melakukan suatu perubahan harus dengan perlawanan dalam segala bidang dan revolusi merupakan jalan terakhir dalam pemahaman mereka untuk melakukan perubahan.

Namun dapat saya pahami bahwa semua itu bukanlah jalan keluar untuk melakukan perubahan, perubahan harus didasari pada tata moral yang bagus dalam artian setiap individu memiliki sikap perubahan bukan untuk segelintir orang ataupun kelompok saja namun untuk Bangsa dan Negara, untuk melakukan perubahan bukan hanya berteriak, demonstrasi, reformasi, ataupun revolusi, saya mendasari bahwa setiap perubahan yang dilakukan tokoh-tokoh selama ini adalah bahwa mereka mempunyai sikap moral dan integritas yang baik, tidak berarti bahwa tokoh-tokoh perubahan saat ini tidak memiliki integritas, namun keadaan sekarang ini cenderung pada melemahkan ataupun untuk menjatuhkan suatu kelompok tertentu saja.

Kecenderungan itu dapat kita rasakan saat ini, banyak tokoh perubahan yang tidak konsisten terhadap apa yang mereka perjuangkan sebelumnya, banyak tokoh-tokoh perubahan yang menikmati kursi empuk dalam lembaga eksekutif, legislative. Apa lagi banyak tokoh reformasi yang duduk manis dalam jabatannya, mereka yang dulunya memperjuangkan nasib rakyat sekarang malah menindas rakyat mereka dengan kedudukan yang mereka miliki.

Itulah yang kita rasakan saat ini, namun apakah kita juga akan diam dan duduk manis seperti mereka dan kita tidak melakukan apa-apa?

Seorang Soekarno dapat melakukan perubahan yang benar-benar didasari atas hati nurani, melalui pergerakan-pergerakan politiknya.

Namun  sekarang apakah cukup hanya dengan melakukan pergerakan-pergerakan????

Iklan