NEGRIKU…TENGGELAM DALAM ASA….


Semakin rapuh asa ini terbelenggu gelap tertikam sukma angkara menepi menepiskan ego membawa perubahan dalam angan yang selama ini tak mampu menggenggam kepalsuan, memuntahkan segala apa yang ada dalam diri. Mamijakkan kaki ini dalam tanah bisu keangkuhan, menggugat tirani yang meperlakukan kehidupan dengan bengis dan tajam.

Kekacauan semakin sering tampak dalam realitas imaji hidup, labirin terus menunjukkan jati diri disetiap kemunculannya memecahkan gendang telinga setiap insane manuisa yang terkadang kasar namun tamapak halus, kebencian terus dikobarkan dengan suara dan nyanyian sunyi kegelapan. Keluhan semakin menjadi-jadi, umpatan terus berdengung disetiap perjalanan hidup, memaki,menjilat,memperkosa hak-hak manusia menjadikan semua terkesan rapi.

Namun perang semakin menjadi dalam kehidupan sehari-hari , perang terbuka di alam nyata, perang kekuasan selalu menggilas yang lemah menghancurkan cita-cita tinggi anak negri yang tak mampu sekolah. Perang budaya dan hegemoni asing terus terpancar, namun mereka tak pernah menggugat mereka hanya diam dan tersenyum melihat kekuasan berwajah siwa, namun berhati rahwana. Takdir mereka terima sebagai ujuan berat dari Tuhan. Kekuasaan tak mampu digulingkan semakin angkuh dan terlihat mengejek tek pernah lelah untuk terus membodohi anak negri, teringat ungkapan teman negri ini negri para bedebah, negri ini negri yang kotor, pejabat kita adalah orang-orang yang haus kekuasaan rakus menghisap rakyatnya sendiri, darah kaum jelata diperah bak sapi perah yang tak tau harus berbuat apa.

Tak pernah berhenti penindasan, tak pernah berhenti penipuan, tak pernah berhenti kebohongan terus mengusik mimpi-mimpi para generasi penerus kita, gelembung kekuasan seakan air bah yang tak mampu di bendung oleh tongkat Musa. Putra-Putri Pertiwi hanya mampu terdiam mereka terpaksa menerima keadaan yang semakin merong-rong jiwa raga mereka, wibawa Garuda sudah tidak mampu memberikan energy yang memancarkan rasa keadilan, kokohnya bendera merah putih hanya jadi symbol yang dipajang di tiang-tiang tinggi yang hanya berisi harapan dan kekosongan.

Sungguh memalukan, di Negri yang besar dan kaya ini tidak mampu menjadi tuan rumah di sendiri, dinegri yang kata orang sorga ini telah mendidik pemuda kita untuk menjadi pengecut.
Saat aku gelisah tenggelam hancurkan mimipi dalam jiwa, tak mampu meredam amarah demi kebenaran yang di anggap tabu oleh kekuasaan, kebenaran yang dianggap keluhan asa, kebenaran yang dianggap sesuatu yang tidak benar, aku tak mampu lagi memendam amarah…
Negriku….Tenggelam dalam Asa…..

Iklan