Sudut Kiri Sebuah Perbedaan!!


Dimana kita hidup disitulah kita akan merasakan apa itu perbedaan, perbedaan merupakan hukum alam yang telah dianugrahkan Tuhan kepada seluruh umat manusia, agar manusia mampu menjaga keindahan alam sekitar, agar manusia mampu berkomunikasi, agar manusia mampu hidup berdampingan, agar manusia tidak membuat kerusakan dimuka bumi, agar manusia menjaga kedamaian antar sesama manusia.

Perbedaan juga hadir dalam ruang diskusi, di sekolah, di kampus, di sebuah organisasi, di pinggir-pinggir jalan, di pojok-pojok warung kopi, di pasar-pasar, di studio-studio music. Ketika ilham perbedaan menghampiri disetiap sisi ruang imajiner yang penuh dengan keruwetan tatanan sosial, namun tak selamanya perbedaan itu indah tak selamanya perbedaan itu adalah khasanah.

Katanya mereka menghargai perbedaan!! Katanya mereka mereka menyukai perbedaan. Mereka berkata “aku suka melihat orang-orang peminum, karena mereka dalam damai, kebersamaan mereka terjalin indah, mereka tidak sombong mereka masih muda dan kreatif, aku hargai mereka walaupun aku sendiri bukan peminum”. Pembenaran yang sangat bodoh dan tidak beralsan sama sekali, mereka menempatkan pembenaran yang bodoh diatas pembenaran yang lain, mereka mengklaim tidak munafik padahal mereka sedang berdiri diatas prahu kemunafikan yang tidak dia sadari. Keluguan yang hadir setiap saat yang hadir disekitar kita hanyalah topeng yang mencoba menjajaki kita agar kita percaya, agar kita yakin, agar mengikuti apa yang mereka katakan, dengan menggunakan dua metode pembenaran, yaitu berkumpul dengan orang-orang peminum itu disukai, artinya benar dengan alasan bla…bla..bla…, namun disisi lain mengajak kita untuk terlibat dalam misi rohani yang cerdas, lembut namun perlahan pasti. Dengan ucapan kurang lebih seperti ini “Free of the fear and the pain”.

Artinya menunggangi dua kepentingan diatas satu ucapan kalo boleh saya mengistilahkan kira-kira begini “kowe ngombe ra popo tapi ojo lali sholat” (kamu minum tidak apa-apa tapi jangan lupa sholat) boleh jadi hal-hal seperti inilah yang sangat berbahaya dalam kehidupan kita. Standar ganda dalam sebuah misi sekarang telah menjadi gaya hidup dan trend yang mula-mula lahir dari ketidakpercayaan terhadap dirinya sendiri, lalu melakukan analisis, melakukan percobaan, melakukan penelitian yang akhirnya dicoba terus disampaikan kepada orang-orang terdekat mereka. Mereka menggunakan metode yang penuh dengan cinta kasih, dengan tersenyum, dengan pura-pura tidak mengerti dan tidak tau, dengan diskusi yang dibangun dari hati ke hati dari ucapan ke ucapan namun menyelipkan sepatah dua patah kata yang langsung membuat kita mampu merekam dan mengingatnya itu pun diberikan kepada orang terdekat yang sudah tidak mau lagi menyentuh minum-minuman alkohol.

Sungguh luar biasa, ketika mereka dihadapkan tindakan yang berbeda misalnya ketika mereka sedang bekumpul dengan orang-orang peminum dia akan mengikuti apa yang dikatakan peminum dengan tidak memberikan misi rohani yang sebenarnya mereka miliki dengan alasan waktunya tidak tepat lah…takut tersinggung lah…demi perbedaan lah…itu bukan urusan saya lah…sungguh, apakah ini yang dikatakan orang yang mau menghargai perbedaan? Ataukah ini yang dinamakan pembenaran?, kamu itu kiri? Kanan? Atau tengah-tengah?. Kalo tidak ,Lalu kamu itu apa? Pluralis? Liberal? Nasionalis? Atau kamu Harunis? Darwinis?“Aku ini abal-abal” jawaban standar. Ingat bro! “sampaikan walau satu ayat”. Kekonyolan-kekonyolan selalu tampak ketika mereka ditekan terus menerus dan jawabannya cuma “aku ini masih abal-abal”. Apakah itu yang dinamakan berfikir??

“Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika
segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman.” (QS. Maryam, 19: 39)

Sudah jelaskan apa yang diperintahkan Tuhanmu, mengapa kamu masih mengingkari untuk memberikan peringatan kepada mereka, kita diperintahkan Tuhan untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang lalai. Kalo saya boleh mengutip dari Buku Harun Yahya :

Setiap orang ingin mempengaruhi
orang lain, bertindak menjilat atasannya, ingin
kedudukannya diakui, atau paling tidak ingin menjadi
orang yang selalu memberi “kata akhir” atau
keputusan. Kepribadian yang demikian menyebabkan
orang lain tak bisa memberikan sumbang sih
pemikiran. Alasan dibalik kedunguan orang yang tak
mau hidup dengan prinsip-prinsip agama yang ingin
membawa kesimpulan yang memuaskan dinyatakan
dalam ayat berikut ini:

Permusuhan antara sesame mereka adalah
sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu,
sedang hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu
karena sesungguhnya mereka adalah kaum
yang tiada mengerti. (QS. Al-Hasyr: 14).

Kesimpulannya adalah bahwa setiap perbedaan memang harus kita akui, namun perbedaan yang bagaimana dulu?? Apakah perbedaan yang akan menenggelamkan kita ke sebuah jurang yang lebih dalam harus diakui??Tentu tidak..Namun perintah sudah saya lihat dan peringatan sudah saya sampaikan…

Iklan