Filsafat Perenial, Pluralisme Agama dan Kebingungan Teologis


Karen Armstrong, sorang sarjana teologi dan memilih jalur hidupnya sebgai suster, setelah setelah beberapa tahun mengabdi pada gereja akhirnya berubah drastis pandangan teologisnya.Perubahan yang bernada protes ini amat dirasakan ketika ia berkunjung ke Yarusalem dan didapatinya disana peninggalan peradaban Islam yang ia nilai sangat tinggi namun selama ini tidak pernah diceritakan oleh guru-gurunya semasa Armstrong duduk dibangku kuliah maupun mengikuti ceramah-cermah di gereja. Rasa kesal, rasa kecewa dan perasaan ditipu oleh guru-guru mengajarnya ditebusnya dengan caranya sendiri. Maka Karen Armstrong melakukan riset kepustakaan mengenai agama-agama besar yang ada, terutama Yahudi, Nasrani, dan Islam. Kegelisahan dan pengembaraan intelektualnya yang berlangsung secara intens itu dituangkannya dalam buku yang berjudul A History Of God, sebuah buku yang menyajikan analisa historis-sosiologis mengenai pertumbuhan, karakter dan keterkaitan antara tiga agama besar dunia, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam yang ketiganya mempunyai klaim sebagai penerus dan pewaris yang sah dari tradisi dan ajaran Nabi Ibrahim as.

Pengalaman dan pengembaraan teologis intelektual seperti yang dialami oleh Karen Armstrong sesungguhnya juga terjadi pada diri banyak intelektual barat. Tidaklah sulit menemukan buku-buku serupa, bahkan lebih dari itu,kasus konversi agama, dari Kristen kepada islam ataupun pada agama-agama lain dan bisa jadi sebaliknya dari Islam ke Kristen. Namun disini yang ingin digarisbawahi bukan pada isu dan kasus perpindahan agama, melainkan fenomena runtuhnya tembok-tembok pemisah antar komunitas umat beragama sehingga menimbulkan agenda baru dalam wacana teologi dan filsafat agama

Kebingungan Teologis

Teologi tidaklah identik dengan iman, meskipun antara keduanya memiliki keterkaitan yang sangat dekat. Ada yang berpandangan, tologi merupakan refleksi kritis dari iman. Keluar sebagai sebuah pertanggung jawaban rasional, ke dalam teologi bisa berperan memberikan iluminasi. Namun, karena teologi bersandar pada “logos” atau penalaran, maka sebagai sebuah wacana rasional teologi tak akan sanggup menampung dan mengekspresiakan misteri dan kedalam iman mengenai pengalaman sepiritual seseorang.

Karena teologi merupakan produk penalaran, sementara system atau disket rasionalitas dalam diri seseorang mendorong dan mengarahkan system tindakan, maka teologi tidak selalu melahirkan tindakan iman. Tetapi, jika teologi tidak selalu mencerminkan kualitas dan komitmen iman, bukankah ajaran iman yang tidak disertai bimbingan dan pencerahan akal akan mudah terjatuh pada absurditas? Untuk membahas persoalan ini diperlukan ruang yang tidak sedikit. Hal ini disajikan hanya untuk menegaskan bahwa apa yang disebut teologi dan doktrin keagamaan tidak pernah lepas dari keterlibatan subyektif, suatu penafsiran dan kecenderungan pribadi atau kelompok.

Kembali kepada isu pokok, yaitu terjadinya kebingungan teologis pada era reformasi. Istilah “kebingungan ” barangkali secara kademis kurang tepat karena bingung lebih dekat kepada persoalan psikologis.Namun jika kita rajin mengikuti buku-buku teologi dan wacana keagmaan yang berkembang akhir-akhir ini, akan segera terlihat bahwa bangunan doktrin teologi yang bertahin-tahun dianggap valid oleh pengikutnya dan dirasakan bisa member rasa nyaman kini mulai di gugat secara serius.

Subyek dari Pluralisme agama yang paling menonjol adalah Yahudi, Nasrani, Islam dan Hinddu-buddha. Namun dilihat dari secara fungsional dan filosofis sepiritual sesungguhnya lebih dari itu. Paham teosofi yang memadukan aspek spiritual-psikologis dari berbagai unsure agama yang ada dewasa ini berkembang secara sangat mengesankan. Di barat saja gerakan sekte keagamaan yang berpusat pada guru kharismatik jumlahnya lebih dari 1000 kelompok. Belum lagi dikawasan Asia terutama India, jumlahnya begitu banyak dan beragam. Adapun agama-agama wahyu yang bersumber dari Ibrahim, salah satu muayan pokok muatan doktrin teologinya yang menjadi topic perdebatan adalah tentang konsep jalan keselamatan dihari akhirat nanti.

Kebenaran iman dan jalan keselamatan, oleh karenanya merupakan obyek dan komitmen nurani dan akal sehat yang selalu didekati dan dipahami secara teus menerus bukannya situasi yang mapan tuntas dan selesai. Sangat dekat dengan paham ini adanya perintah bagi umat Islam untuk selalu berdoa mohon petujuk kearah jalan yang benar pada setiap rakaat shalat, yang setiap hari minimal 17 kalo do’a itu dipanjatkan.

Sumber : Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perennial

Iklan