Keimanan Yang Sehat dan Menentramkan Adalah Keimanan Yang Menutup Diri Dari Perspektif Perbandingan


Tanpa adanya keyakinan kuat bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang lurus yang menghubungkan dan Tuhan, maka seseorang sulit untuk memperoleh kekhusyu’an dan pencerahan Spiritual. Pengalaman iman pada akhirnya adalah pengalaman subyektif, yang kadangkala merupakan pengalaman dari sebuah pendakian terjal, berat dan penuh resiko untuk sampai pad ataman pencerahan yang bertahun-tahun yang baru bisa diraihnya. Maka pada titik ini maka berbagai wacana teoritis yang disajikan oleh teologi dan disiplin ilmu-ilmu keagamaan sudah terhenti dan tak mampu lagi menyertainya.

Apakah jalan untuk meraih kebenaran hanya dimonopoli oleh para Rasul Tuhan yang memperoleh wahyu dan mu’jizat sehingga orang lain tidak memiliki akses kesana? Para filsuf san ahli sufiberpendapat bahwa setiap orang bisa mencapai maqom kenabian asalkan sanggup dan berhasil mensucikan dirinya dan mempertjam mata hatinya. Hanya saja peradapan manusia berkembang secara evolutif dan kualitas manusia bertingkat-tingkat, maka setiap tempat dan zaman pasti muncul figur-figur sang penerang, yang pada zaman dahulu posisi tersebut diduduki oleh para Rasul Tuhan. Tetapi dengan diyakininya bahwa Tuhan tidak mendekredit bagi tampilnya seorang Rasul dengan kualifikasi dan tipologi nabi-nabi yang terdahulu, yang ditutup oleh Muhammad SAW, maka sesungguhnya lowongan dan tuntutan peran kenabian semakin besar dan terbuka bagi mereka yang telah mencapai maqom (kedudukan) tertentu. Jika untuk memperoleh pengarahan absolute yang membimbing ke arah jalan kebenaran (al-Haqq) hanya dan harus melalui jalan wahyu kenabian yaitu memperoleh wahyu atau setidaknya bisa membaca dan memahami kitab suci maka beberapa banyak orang yang tidak menemukan jalan itu. Perjalanan akan lebih terjal dan menyembit jika jalan wahyu itu harus ditelusuri melalui bahasa asli kitab suci. Sementara itu persoalan akan tetap muncul, yaitu ketika orang mencari tuhan tanpa wahyu, adakah jaminan keselamatannya? Debat semacam ini sebenarnya sudah klasik. Hanya saja dulu tema ini dimunculkan sebgai olah piker atau acrobat intelektual dalam wacana keagamaan, terutama dalam bidang Ilmu Kalam dan Filsafat, sedangkan kini menjadi persoalan praksis. Terlebih dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang sudah melampaui batas-batas empiris, seperti halnya fisika kuantum dan psokologi transcendental, maka akan terlihat bahwa disana terdapat banyak kemunkinan untuk menemukan jalan baruyang mengantarkan ilmuan untuk mengenal dan meyakini Tuhan diluar Biblikal dan kependetaan.

Maka dari itu makna hidup yang sejati adalah yang bisa memberikan tingkat ketenangan dan kepastian lebih tinggi ketimbang apa yang ditawarkan oleh agenda kehidupan yang rutin namun bersifat sementara. Dengan kata lain, agama yang diperlukan manusia pada setiap zaman adalah agama yang bisa memberikan pencerahan hati dan akal, agama mampu membebaskan manusia dari domonasi dan hijab duniawi. Sikap inti ajaran seperti itulah pencarian tulus dan kontinyu dan meyakini adanya Tuhan, Hari Kebangkitan, dan setia untuk beramal saleh yang nampaknya harus menjadi keyakinan bagi para manusia bumi ini. Sehingga kesimbangan dzikir dan piker, psikis dan fisik, jasmani dan rohani, individual dan sosial, keselamatan dunia dan akhirat, tetap terjaga dan selalu terhias dalam perilaku keseharian.

Sumber : Agama Masa Depan Perspektif Perennial

Iklan