“Wong Cilik” dan Dendam Rindu Jakarta


Apakah wong cilik bisa menulis artikel di Koran tentang bagaimana wong cilik memandang Jakrata? Begitu seseorang berhasil mengetik tulisan semacam itu,dengan memenuhi berbagai macam persyaratan intelektual dan teoritis tertentu, ditambah pasal-pasal khusus dari redaksi, yang seorang professor doctor tidak bisa dipastikan sanggup memenuhinya-ia sudah “tidak potongan” lagi untuk disebut wong cilik.

Wong cilik tidak menulis. Wong cilik sudah mulai terlibat budaya baca, tetapi relative budaya tulis. Wong cilik itu”wong kemarin yang hidup hari ini”. Segla hal yang menyangkut budaya tulis menulis, tradisi intelektual dan lain sebagainya adalah milik “si hari ini”. Tetapi apakah ungkapan saya ini tidak meremehkan? Bagaimana dengan ribuan orang miskin, orang awam, orang biasa yang tidak merasa asing dengan lalulintas intelektualisme pada batas tertentu?

Sungguh membungungkan untuk menghadapkan wajah ke wong cilik yang mana sebenarnya ia? Tetapi kayaknya pasti bahwa wong cilik itu tidak bicara, mereka hanya menggeremang. Namun karena wakil-wakil dan pelayan-pelayan (wong gedhe) mereka kurang hobi mendengarkan, serta karena kaum cendekiawan, seniman dan budayawan juga lebih suka memasang kuping didepan ulutnya sendirim maka geremangan wong cilik menjelma menjadi kebisuan. Apalagi geremengan wong cilik tidak memiliki akses ke media masa, tidak marketable, sering rawan politik, serta tidak memenuhi ideologi man makes news. Sempurnalah kebisuan itu.

Mungkin ini yang mereka minta : silahkan tidak didengarkan, boleh saja tidak diwakili, tapi tergolong jangan selalu disalah-salahkan terus, serta ingatlah bahwa siapa saja yang tidak bersedia mendengarkan, jangan pernah sekali-kali memahami. Satu hal yang gamblang wong cilik menyimpan beragam dendam kepada Jakarta, namun juga kerinduan. Sebagian wong cilik ingin menggantikan, jika mingkin, orang atau pihak yang mereka dendami. Alhasil Jakarta yang pada tempatnya segala hal yang manusia rindukan tentang kekayaan, kemewahan, kekuasaan dan gaya, adalah pusat dendam rindu wong cilik.

Ah, tapi siapakah sebenarnya wong cilik? Guru-guru sekolah dasar di dusun-dusun, di pelosok : ya sepakat, mereka tergolong wong cilik. Tentu juga para penghuni jalanan Jakarta. Tapi dosen, pak prof dan pak dokter dikampus, sudah tidak cocok digolongkan sebagai wong cilik. Terdapat kesan bahwa wong cilik itu salah satu identifikasinya adalah wong bodho. Orang yang tidak pintar boleh pintar kehidupan tapi tidak pintar sekolahan. Tapi bagaimana kalau yang pintar kehidupan dan tidak pintar sekolahan itu pejabat tinggi, atau justru seorang pengusaha sangat sukses buta huruf? Apakah mereka juga wong cilik?

Sungguh susah menemukan wong cilik, melingkari dengan garis segmen sosial mereka, dan terlebih-lebih lagi menarik garisnya ke Jakarta. Jangan-jangan kita semua ini wong cilik. Jangan-jangan setiap orang yang gelisah melihat Jakarta pusat gumpalan uang dan kekuasaan itu adalah wong cilik, misalnya karena lebih banyak obsesi nuraninya yang tak bisa ia laksanakan dibanding yang bisa ia laksanakan? Tetapi begitu mentri itu merumuskan obsesinya, keterbatasankedaulatan serta keprhatinannya atas segala tatanan dimana ia banyak menemukan jalan buntu: menjadilah ia seorang intelektual, juga mungkin seorang negarawan atau ideolog sehingga ia bukan wong cilik.

Wong cilik itu bukan sebuah definisi yang terang gambling. Bukan sebuah rumusan dari ilmu sosial. Juga tidak begitu jelas tatkala diucapkan diwarung-warung. Kita hanya menemukan aksen dan inisial dari wong cilik. Maka jangan-jangan wong cilik adalah seseorang yang selalu bermimpi, orang yang hidup abadi dalam sebuah impian, karena kalau impiannya suatu saat tercapai ketika ia menjelma menjadi bukan lagi wong cilik. Wong cilik mungkin adalah prajurit tamatan SMP yang kalu digali lubuk hatinya diam-diam sebenarnya ingin menjadi jendral atau sekurang-kurangnya kalau mendadak ia dijadikan jendral tak mungkin ia menjawab: “tidak mau!”. Wong cilik mungkin adalah guru SD yang kalau umpamanya Tuhan memperkenakan suatu keajaiban dia bersedia menggantikan kedudukan Pak Wardiman. Wong cilik mungkinadalah petani-petaniyang memimpikan gedong magrong-magrong, atau sekurang-kurangnya ia memiliki sebuah symbol dari rumah sukses yang ia lihat di tv.

Tapi bagi wong cilik sendiri untunglah ada informasi firman yang membuat mereka kenal dan percaya ada Tuhan dan akhirat, sehingga orang-orang yang buntu total hidupnya tetap bisa survive berkat keprecayaan terhadap informasi itu. Maka dalam kosmos rohani, bayangan tentang wong cilik itu mengandung gaun pekik ektase relegius yang secara masokhitik diam-diam melegakan hati.

Ah, wong cilik, aku tak tahu!!

Sumber: Emha Ainun Nadjib