BENANG MERAH PAHAM MONOTEISME


Terdapat dua pendapat yang berlawanan mengenai apakah monoteisme itu muncul lebih awal baru kemudian terjadi perkembangan kearah politeisme dan berakhhir pada monoteisme ataukah sebaliknya, dari politeisme kemudian berevolusi menjadi monoteisme. Dengan menguitp Wilhem Schmidt dalam bukunya The Origin of the Idea of God (1912), Armstrong berpendapat bahwa paham monoteisme muncul lebih dahulu. Paham monoteisme ini sudah dikenal sejak dahulu sebelum orang-orang kemudian beralih menyembah tuhan-tuhan yang banyak (pliteisme). Dengan demikian ajaran monoteisme ini sudah yang didakwahkan oleh agama-agama Semitik sesungguhnya bukan ajaran yang baru, melainkan mempertegas dan memperjelas kembali paham yang pernah tumbuh tetapi karena berbagai faktor lalu menjadi samar-samar.

Dalam sejarahnya, manusia menyebut Tuhan Yang Maha Esa dan mutlak itu dengan berbagai nama dan istilah, namun secara substansial, beragam nama itu merujuk pada Dzat yang sama. Tuhan sebagai wujuf absolute inilah yang dijadikan objek pujaan karena fungsi dan posisi-Nya yang diyakini manusia sebagai pencipta dan penguasa jagat semesta ini. Karena Maha Absolut maka antara Tuhan dan manusia selalu terdapat “jarak ” yang amat jauh, bahkan tidak terjangkau (transenden), tetapi sekaligus berasa bersama, bahkan didalam diri kita (imanent). Sebagai akibatnya, maka Yang Satu dan absolute karena tidak mungkin “ditaklukan” oleh kapasitas pemahaman nalar manusia ditangkap kehadiran-Nya melaui simbol-simbol yang disakralkan sehingga dimata manusia lalu muncul bentuk tuhan-tuhan yang plural. Lebih dari itu, Tuhan juga menjadi semacam teka-teki intelektual sepanjang zaman sehingga mendorong para ahli piker melakukan spekulasi intelektual untuk menysun argumentasi baik yang berciri-ciri positif-afirmatif maupun yang negative. Dalam wawancara teologi-filosofis, baru dengan datangnya Musa (agama Yahudi), Isa (agama Nasrani) dan Muhammad (agama Islam) maka sosok Tuhan menjadi lebih jelas (Personal God) ketimbang pemahaman yang diperkenalkan oleh para bijak dan para filosofis terdahulu. Sindiran berikut tampaknya tepat kita ungkapkan dalam konteks. “The supreme god of Aristoteles has not made this world of ours; he does not even know it as distinc from himself, nor, consequently, can be take care of any one of the being or things that are in it”, kata Etienne Gilson.

Dalam sejarah pemikiran manusia, jalan untuk menemukan Tuhan tidak selalu mulus ke sasaran yang di tuju. Berbagai penelitian antropologi agama menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang alam pikirannya dikuasai oleh paham mistis. Maksudnya adalah mereka menganggap benda atau alam sekeliling ini sebagai “kekuatan gaib” tempat bersemayamnya tuhan-tuhan yang menguasai kehidupan manusia sehingga kepada mereka itulah sesembahan dan pengorbanan dialamatkan. Kepercayaan semacam inilah yang dianut oleh orang-orang pantheon yang pagan.

Dengan dasar inilah tampaknya Jean Danielou menyimpulkan bahwa meskipun monoteisme itu merupakan keyakinan sejak awal, namun pengangkapan dan artikulasinya masih samar-samar dan berbaur dengan mitos-mitos sebagaimana terlihat dalam agama pagan. Secara tegas kita bisa mengatkan bahwa monoteisme dalam tahapan ini belum semurni doktrin monoteisme yang disampaikan Nabi Ibrahim yang kemudian ditegaskan secara keras oleh Nabi Muhammad. Dengan demikian adalah tidak salah untuk mengatakan bahwa agama pagan tersebut sebenarnya merupakan satu episode perjalanan manusia mendekati paham monoteisme. Kalau saja agama-agama pagan ditelusuri lebih dalam lagi, maka arah yang hendak di tuju adalah tauhid. Pada tradisi Yunani Kuno, evulusi pemikiran seperti ini kelihatan dangat jelas. Itulah sebabnya metafisika yang dibangun oleh Plato atau Plotinus, misalnya, mempunyai posisi yang sangat kuat dan terhormat dalam perkembangan teologi Yahudi, Kristen, Maupun Islam.

Kesimpulan lain yang bis aditarik dari penjelasan diatas bahwa untuk menjadi seorang monoteis bias saja seseorang memperolehnya tidak harus melalui teks-teks Kitab Suci malainkan bisa juga melalui penalaran, pengalaman dan renungan hidup. Yaitu berusaha sekuat kemampuannya untuk menjelaskan Kekuatan Gaib atau Misteri yang menguasai alam semesta ini, bahkan juga misteri yang ada disetiap individu. Kata “misteri” berasal dari Yunani Kuno, yang menunjuk pada suatu fenomena yang kelihatannya factual, tetapi sulit dijangkau oleh nalar dan indra manusia. Dan Tuhan disebut Misteri dalam arti manusia meyakini akan pengaruh dari keberadaan dan kekuatan-Nya, namun sepanjang zaman, manusi merasa tidak mampu untuk mengetahui secara pasti dengan kekuatan nalar dan indranya. Tuhan diyakini keberadaan dan kekuasaan-Nya, tetapi Dia sembunyi dibalik tabir. Jika tuhan adalah Maha Gaib, maka diluar diluar Tuhan banyak hal-hal yang yang gaib. Fenomena “roh” misalnya yang diyakini sebagai sumber hidup yang menggerakkan yang ada pada tubuh manusia mungkin masih bisa dipahami.

Tapi kalau ditanyakan apakah “roh” itu? Dimanakah roh itu berada sebelum masuk ketubuh dan apakah aktivitasnya? Lalu kemana roh itu pergi ssetelah lepas dari tubuh? Peroalan ini tetap menjadi misteri yang tak pernah terjawab tuntas oleh manusia. Dari dalam diri ini saja, bisa melahhirkan pemikiran tentang adanya suatu hakikat yang tak bisa terjangkau oleh keterbatasan manusia yang pada gilirannya akan membawa implikasi etis dalam kehidupan ini. Dalam khzanah pemikiran Islam, adalah Ibnu Tufail, dalam romannya Hayy ibn Yqzhan, yang secara cerdas memberikan ilustrasi bagaimana anak yang tinggal sendirian di sebuah pulau terpencil ternyata dengan ketajaman dan kejujuran intelektualnya pada akhirnya bisa sampai pada keyakinan adanya Tuhan dan kebadian roh. Sesuatu yang tak terjangkau dan tak bisa dipahami dan diketahui bukan berarti hal itu tidak ada, melainkan semata karena kemampuan akal kita yang belum sampai atau memang ada hal-hal tidak mungkin terjangkau oleh akal kita. Oleh karenanya, dalam tulisan ini kita tidak bicara ada tau tidak adanya Tuhan, melainkan berangkat dari premis bahwa Tuhan ada dan keberadaan serta kekuasaan-Nya telah diyakini sejak zaman dahulu yang secara historis mungkin tidak bisa lagi ditelusuri secara pasti.

sumber : Agama Masa Depen Perspektif Perennial