Cepu Dan Seorang Bocah Yang Bermimpi Tentangnya


Entah mengapa?, tiba – tiba saja hari ini Aku teringat peristiwa 4 tahun yang lalu. Peristiwa yang mungkin tak akan lekang sehelaipun dari ingatan ini. Persitiwa tersebut yang membuat Aku sedikit berubah dalam menapaki kehidupan pada waktu itu. Sebuah peristiwa yang sempat menyita perhatian fungsi kerja otak yang bekerja sebagaimana mestinya. Sepertinya hanya peristiwa itulah yang mententori bahwa sesuatu yang mustahil dijamah akal pikir manusia pada umumnya, bisa saja terjadi di dunianya yang nyata.Peristiwa tersebut terjadi di pagi hari, pada waktu anak – anak sekolah sedang menikmati teriknya mentari sambil mengangkat tangan kanannya, tanda hormat saat pengibaran bendera merah putih. Pada waktu karyawan – karyawan perusahaan swasta sedang menikmati bertumpuk – tumpuk pekerjaan baru yang diterima dari bosnya yang perfeksionis, meskipun kopi pahit yang tersuguh terlebih dahulu ketika serah – terima tugas. Dan pada waktu Pak Sastro sedang melangkah terseok – seok kepayahan, mendorong becaknya yang bermuat 2 ibu gembrot yang sedang membawa 2 anaknya yang gembrot pula menyusuri bukit Nggombel setelah memborong belanjaan dari pasar Jatingaleh. Mungkin saja peristiwa tersebut lebih berharga daripada menang undian mendapat rumah gedong dengan segala kelengkapan fasilitas di dalamnya. Demikian pula memiliki mobil mewah terbaru keluaran pabrikan Eropa. Apalagi jika dibandingkan dengan dikelilingi 2 atau 3 cewek semlohai dengan pakaian yang amat minim sekali di kafe Batavia, bener – bener tidak bisa dibandingkan peristiwa itu, meskipun mendapatkan harta karun segudang emas sekalipun.
Kantor Kecamatan dan Papan Pengumuman
Pagi itu, kira – kira jam delapan. Aku berada di Kota Cepu. Kota dimana tempat aku menginjakkan kaki ini pertama kalinya. Kota dimana tempat Aku dibesarkan dengan balutan kasih sayang Bunda, Bapanda, dan saudara – saudariKu. Kota dimana latung – latung dieksploitasi kemudian dipanaskan dengan pengapian yang cukup hingga menjadi beberapa bahan bakar “ready to used”.
Kota Cepu sepagi ini tidak seperti biasanya,  jalan raya yang biasa ramai kini semakin padat saja. Warung – warung kopi yang biasanya dipadati para PNS mangkir, pelajar yang mbolos sekolah kini tidak ada lagi. Di situ hanya ada para tukang becak dan para tukang ojek yang saling bersenda – gurau, saling beradu mulut, saling ejek – mengejek profesi tapi tidak sampai terjadi perkelahian satu sama lain. Di tempat lain, kantor samping kanan gereja, dekat dengan patung kudanya Ronggolawe, seberang jalannya gedung soos sasono suko yang lapangannya luas dengan bangunan ringkih karena termakan usia. Bekas Camat Cepu biasa ngantor kini telah berubah menjadi gedung kekar, 2 lantai, dengan lantai berporselen. Parkirannya luas dengan kendaraan tertata rapi sesuai standart prosedur pemarkiran. Di dalam kantor tersebut dipasang beberapa “Air Conditioned”, baunya harum, bersih hingga orang yang berada di dalamnya merasa nyaman, sampai terkantuk – kantuk seraya duduk di sofa hijau pupus pojok dekat dengan kantor Sekretaris Walikota.
Tepat di samping sofa hijau pupus tadi, terpampang papan pengumuman lowongan pekerjaan dari perusahaan diseluruh negeri ini baik perusahaan yang berskala kecil maupun bonafit. Selain itu, lowongan tersebut terpaku di beberapa warung kopi di kota kecil itu, ada juga pengumuman lowongan kerja tadi tercantum dalam website yang dimiliki oleh kantor tersebut. Jadi para Jobseeker di kota kecil ini dimanjakan dengan keadaan seperti itu. Di depan sofa, di atas meja kayu berkaca putih tebal tersuguh berbagai media massa seperti koran, majalah, buletin dll.  Yang semua beritanya “up to date”. Tampak di depan meja berjarak 5 meter ada beberapa orang berbaris rapi sesuai dengan tulisan yang diprint, dilaminating dan diletakkan di depan pegawai negeri sipil yang ramah dan murah senyum. Antrian sebelah kiri untuk pengurusan KTP, di tengahnya untuk pengurusan KK dan di kanan untuk pengurusan SKCK,dll. Pelayanannya ramah, cepat, efektif dan efisien. Serta satu lagi kelebihannya, untuk tiap – tiap pengurusan tidak dipungut biaya, gratis.
Ternyata hal seperti ini, tidak dijumpai di kantor ini saja namun kantor – kantor lainnya baik Instansi pemerintah maupun swasta di kota yang dijuluki kota minyak ini. Terlihat tiap pegawai di situ lengkap berada di kantornya masing – masing tidak ada yang keluyuran dengan alasan tak jelas diwaktu jam kerja. Pada depan kantor ini terdapat pagar yang kokoh.Bercat putih. Tepat di tengah – tengah pagar yang kokoh tadi tertempel porselen warna hitam tertulis dengan huruf abjad berwarna kuning emas. Dengan jarak antar huruf dengan huruf dan spasi yang sangat diperhitungkan hingga amat rapi dan kokoh.Sekokoh bangunan kantornya, sekokoh semangat tiap pegawai yang bekerja di kantor itu, sekokoh pagar penyangganya. Tulisan itu terbaca “KANTOR KOTA ADMINISTRATIF CEPU”.
Semboyan dan Sebuah Solusi
Dikemas dengan tata kota yang signifikan. Sanitasi kota yang lancar. Para PKL yang dilokasikan di suatu tempat tertentu sehingga tidak menggangu padatnya jalan lalu lintas kota. Dan Tingkat kebersihan yang tak kalah bersih dengan propinsinya. Tak ayal lagi kota ini mendapatkan penghargaan yaitu kota Adipura dengan tugu penghargaan itu tegak kekar menggantikan tugu jam yang usang di Ketapang. Sumbangan terbesar dari penghargaan tadi berkat jasa dari para karyawan DKP yang selalu konsisten menyelesaikan tugasnya, dipadu oleh kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya, dan yang tak kalah pentingnya adalah semboyan yang dimiliki kota ini yang menyemangati tiap elemen masyarakat yang mendiami kota untuk bergerak bersama – sama mewujudkan menjadi kota impian.
Jika di Blora ada MUSTIKA, di Semarang ATLAS, sedangkan Cepu bangga dengan semboyan “BERAHI” (Bersih, Elok, Rapi, Aman, Harmonis dan Indah). Untuk mengantisipsi terjadinya banjir tahunan, Pinggiran sepanjang sungai bengawan Solo dibuat tanggul yang menjulang tinggi supaya air bah tidak liar, masuk, dan menggenangi jantung kota serta pemukiman penduduk di sekitar. Sedangkan taman seribu lampu yang menjadi Ikon kota Cepu direnovasi. Tanaman – tanaman dan bunga hias diatur sedemikian rapi dengan water fall mini berada di tengahnya. Pohon palem berjajar tegak berdiri di sepanjang jalan yang dikolaborasikan dengan kerlap – kerlip lampu kota. Tak kalah eloknya dengan taman Modern style maupun Taman Mekar Sari di ibu kota.Di sini juga ada Pusat perbelanjaan atau biasa disebut “CM”(Cepu Mall) yang berada di depan SPBU yang dulu masih menjadi tarminal bus. sedangkan terminal bus dilokasikan di Kecamatan Tambakromo depan SMPN 4.Kota yang memiliki luas 49,15 km persegi ini kini telah memiliki Bandara Pesawat terbang tepatnya di Kecamatan Kapuan.Namun hanya melayani penerbangan nasional saja.
Pendatang VS Putra Daerah
Teman – teman yang biasa ngopi denganKu kini telah menjadi orang sukses dan memegang peranan penting di instansinya masing – masing.
Ambon yang biasa memboncengkan Aku dengan speda mini hijaunya menuju warung kopi kini dia tampak gagah dengan kemeja putih dipadu dengan celana kain warna biru dan tas punggung dengan merk STEM tepat berada di tengahnya terseok – seok mengayuh masih dengan sepedamini hijaunya menaiki bukit nglajo menunju kampusnya.
Maripit dengan minti merahnya berjalan lamban menuju kantor Pertamina, Mentul. Oh, rupanya sekarang dia telah menjadi Kepala Kreatif dan desain di kantor tersebut.
Sedang seseorang tampak turun dari limosin warna hitam. berperawakan tinggi,berkulit putih memakai kemeja panjang warna putih berdasi, bercelana kain warna hitam bersepatu mengkilat, berwajah tampan mirip Darius. Tampak percaya diri melangkah masuk menuju ruangan yang di pintunya tertera tulisan General Manager Pertamina Cepu dibawahnya juga tertulis sebuah nama Rofiq Wahyu Kurniawan.
Lain lagi Di kantor BP Migas yang menjadi kepala bukan orang yang bernama si Sepri dari palembang atau si Lay dari Medan namun orang yang bernama Metadona dari Sitimulyo, kemudian yang menjadi humasnya bukan Rudi dari Padang tapi Data dari Wonorejo, sedang Devon Plecek cukup puas dengan jabatannya sebagai Kepala Keamanan BP MIGAS.
Sedangkan Aku, Aku hanya duduk khidmat berhadapan dengan secangkir kopi dan sebungkus rokok Sejati di bawah pohon Meh pojok tuk buntung memandangi padatnya lalu lintas simpang 7, sembari mendengarkan lagu Imagine miliknya John Lenon dari MP4 kesayangan, pemberian abangKu.Ya hanya itu yang bisa Aku lakukan. Aku hanya jadi pecundang.Rasa – rasanya Kota Cepu ini tidak mengijinkan Pemalas sepertiKu menginjakkan kaki di tanahnya.Beberapa menit kemudian terdengar suara panggilan sholat dzuhur dari masjid Nglajo, anehnya suara itu mirip seperti suara adzan di kost-anKu Tembalang. Tak lama kemudian sesuatu dari kayu menabrak kakiKu dan Aku tersentak hingga terbangun dari tidur panjangKu. Oh, ternyata Hanggono teman sekost-anKu habis balik dari kampus membuka pintu. Mengenai kakiKu. Dan betul ada Kudengar suara Adzan dari masjid dekat kost-anKu.

Ditulis Oleh : Nanu PA

Iklan