KITA BUTUH AGAMA YANG PEKA TERHADAP TUNTUTAN ZAMAN


Apakah agama merupakan sumbu inspirasi bagi terciptanya etika keadilan dalam kehidupan social umat manusia? Perbincangan mengenai agama seolah tidak pernah selesai dan usang dimakan zaman. Mengapa? Karena agama merupakan entitas nilai yang berada pada jalur keyakinan seseorang atau kelompok. Tidak sedikit orang atau kelompok menganggap dirinya paling benar dalam memahami agama dan siap mengorbankan nyawa sekalipun demi memperthankan keyakinannya (agama), fenomena tersebut terjadi pada setiap agama yang ada di dunia ini.

Agama, pada awalnya berupa teks Tuhan, turun kedalam kehidupan umat manusia untuk menuntun manusia menjalani kehidupan yang sesuai dengan nilai, aturan, dan tata etika yang telah digariskan Tuhan. Agama telah menmpuh alur sejarah yang sangat panjang, bertahan dari generasi ke generasi, dan membentuk berbagai mimik kehidupan manusia yang moderat, radikal sampai kepada yang fundamentalistik. Dalam konteks Isalam fundamentalisme agama mrupakan perkara yang telah menjadi realitas secara turun-temurun hingga saat ini. Termasuk realitas di Indonesia, fundamentalisme agama tanah air kita bahkan memiliki alur dan akar historisnya dalam proses perkembangan dan pendirian bangsa ini. Perdebatan kaum nasionalis dan fundamentalis Islam telah ikut mewarnai proses penentuan dasar Negara Indonesia. Meskipun telah diputuskan secara final bahwa dasar Negara kita adalah Pancasila, kelompok fundamentalis Islam tetap mengusung keyakinan ideologisnya secara laten untuk menerapkan aturan normative Islam kedalam kehidupan social kebangsaan kita.

Membentuk tata etika yang adil dalam kehidupan manusia, termasuk kehidupan berbangsa dan bernegara, adalah satu dari sekian misi profetik agama. Akan tetapi alur sejarah yang panjang telah membuat agama menampakkan dirinya secara heterogen yang terkadang kontra produktif dengan fungsi dan misi yang include didalam agama itu sendiri. Agama kemudian dipahami dan di tafsirkan sebagai sebuah struktur nilai yang mengekang dan eksklusif, serta mendidik umatnya untuk saling membenci dan menjaga jarak dari umat-umat agama yang lain. Hal tersebut kontra visioner dengan nilai dan pribadi agama itu sendiri.

Morton Hunt, dalam artikelnya The Biological Roots of Relegion mengajukan sebuah pertanyaan kritis yang saya kira akan membuat telinga kaum fundamentalis cukup memerah, “Mengapa orang mempercayai Tuhan dan memgapa orang membutuhkan agama?”. Secara normative, agama merupakan kontra realita dari anarkisme, sebuah komitmen spiritual yang menuntun manusia dalam menjalani kehidupannya didunia ini. Morton Hunt sendiri menemukan jawaban dari pertanyaannya dalam sosiobiologu, sebuah cabang baru dari ilmu tingkah laku makhluk hidup yang dipopulerkan oleh Edward O. Wilson pada 1975 di Universitas Harvad. Dalam pandangan sosiobiologi, hal yang paling pokok yang membuat oaring sangat membutuhkan agama adalah untuk menghilangkan kekhawatiran di dunia dan untuk menjelaskan fenomena mistik yang gaib. Hal tersebut mungkin sedikit mendukung kesimpulan Karl Marx tentang agama, “Agama adalah candu masyarakat,” barangkali kesimpulan itu berangkat dari sebuah fakta bahwasannya manusia memiliki kecenderungan biologis untuk hidup bersama dengan orang lain, entah itu suami, istri, orang tua, tetangga dan manusia lainnya dalam sebuah kehidupan social yang tentram, aman, damai dan saling menghargai dan mencintai.

Profesor Walker Burkert dari Universitas Zurich mengatakan “Agama berada pada jalur biologi dan penemuan bahasa asli, menghasilkan kesesuaian, stabilitas, dan control terhadap dunia. Ini adalah apa yang individu tuju, keyakinan yang sangat akan eksistensi dari prinsip atau entitas yang tidak nyata”. Agama telah bertahan melebihi perkembangan ilmu pengetahuan melalui adaptasi, perkembangan ilmu pengetahuan moderen serta bermunculannya ratusan ribu teori-teori ilmiah sejak abad 16 hingga saat ini tidak mengeliminasi agama secara total di benak para penganut yang telah memperthankannya selama puluhan bahkan mungkin ratusan generasi. Selain sebagai penuntun, agama juga mempunyai fungsi social yang lebih eksplisit dan praktis, yaitu sebagai pengerat kekuatan social.

Berangkat dari fakta tersebut, agama (agama apapun) harus mengandung nilai-nilai Universal yang cukup manifest dalam sepanjang sejarah peradaban manusia. Menurut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyiratkan universalisme agama (Islam) yang secara sempurna ditampilkan oleh salah satu ajarannya tentang lima buah jaminan dasar yang ditampilkan agama samawi terakhir ini (Islam) kepada warga baik secara perorangan atau kelompok. Kelima jaminan dasar itu adalah jaminan dasar akan keselamtan fisik, keselamatan keluarga dan keturunan, keselamatan harta benda serta keselamatan profesi. Sebagai uji materi atas keyakinannya, agama jelas harus membuktikan kapasitasnya dalam menjawab berbagai tuntutan zaman, serta mampu memberikan solusi yang produktif bagi persoalan kemasyarakatan kontemporer. Kehidupan berjalan sangat dinamis, dan dinamitas itu mengalir cepat bahkan terkadang melebihi kemampuan agama untuk meresponnya. Jika agama sebagai sebuah tata nilai yang diyakini tidak tanggap dan gagap dalam menghadapi setiap perubahan social, maka yang terjadi adalah pencerabutan agama dari nilai-nilai profetik diturunkannya agama tersebut.

Setiap tata nilai, termasuk agama, jelas mengandung kemutlakkan dari sisi normatifnya, akan tetapi dalam konteks menempatkan agama secara produktif pada setiap denyut perubahan masyarakat yang terjadi maka agama tidak bisa dielaborasi melaluui satu tafsir untuk selamanya saja. Setiap teori atau tafsir memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi actual yang terjadi si saat produk tafsir itu dihasilkan, oleh karena itu satu tafsir saja tidak akan pernah menjawab tantangan dan persoalan real yang terjadi di dalam generasi yang berbeda-beda.

Tidak ada satu orang, atau satu lembagapun yang berhak menklaim diri sebagai pemegang kewenangan tunggal dalam menafsir teks-teks Tuhan, penyeragaman tafsir adalah “Pengerdilan”. Karena itu, menerjemahkan agama secara dinamis menjadi sebuah keniscayaan agar komitmen spiritual yang di usung dalam benak umat beragama tersebut menjadi sumbu inovasi dan insprasi untuk mewujudkan tata dunia yang berkeadilan social dan mampu bergeliat secara dinamik dalam setiap alur perubahan yang terjadi.

Kembali ke pertanyaan Morton Hunt diatas, mengapa orang membutuhkan agama? Yang berhak dan berwenang untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah agama itu sendiri.

Sumber: Hendrianto Attan