“Kami Masih Ada”


anak menangis jerit saat ibunya mengais-ngais sisa sayuran di pasar tradisional yang lusa akan dibumi ratakan. cabai, sayur mayur dan bawang yang mereka suka tidak sanggup lagi ditempatkan di mulut merahnya. harga yang mencekik terasa membunuh perlahan.

sementara penerus-penerus kolonial di atas sibuk berdebat rakyat golongan mana yang akan menjadi tumbal TDL, seorang bapak tiga anak menangis peluh disudut ranjang kapuk, lelah mencari sekolah dasar untuk anaknya. yang bertaraf internasional sangat tidak masuk akal jika membunuh hak anaknya untuk mendapatkan pendidikan.

dilain tempat, berbeda hari dan jam. tukang ojek yang ingin memperpanjang STNKnya mondar-mandir tak menentu, ngedumel dalam hati seperti laki ngga dikasih jatah istri. bagaimana tidak, pendapatan sehari tidak cukup untuk memperpanjang surat kendaraannya.

bagaimana dengan mereka yang di atas sana, yang menikmati uang pajak rakyat. kami mau mematikan tv, kami hanya mau dengerin dangdut diradio, kami cukup membaca berita piala dunia di koran. bukan tanpa sebab. hati nurani mereka suh mati atau mungkin mati suri pikir kami.

wahai pengganti kami, wahai wakil kami, dan engkau pemimpin kami. kami disini korbanmu, kami bosan melihat segala perselisihanmu di media. kami muak liatin bos besar itu jalan-jalan saja ke negara-negara bule.

perumus janji negara dalam pembukaan UUD 45 serasa menangis tiada terdengar melihat ulah penerusnya menelantarkan kami demi modal bangsa asing.

jika sjahrir, malaka, musso dan lainnya melihat, kami yakin kami akan melawan!

oleh: Doni