Akhir dari Awal yang Baru


“Akulah angin itu, yang sedang mengais kesejukan dari pepohonan, tanah, bahkan sampah-sampah. Lalu apakah ada yang salah?” jawabku kepada Dia.

“Hanya janggal kurasa. Seharusnya engkau yang memberi kesejukan itu wahai Angin…” jawabnya.

“Jadi kau pikir aku berbohong…?” tanyaku dengan sedikit kekecewaan.

“Uh…. Aku tak pernah menjustifikasi statusmu, Angin. Mengapa engkau terlalu sensitif akhir-akhir ini?” sambutnya.

“Itulah alasan mengapa aku memilih menyembunyikan pencarian ini. Huh… semuanya berpikir tugasku hanyalah memberi kesejukan. Sementara aku sendiri sekarat kelaparan di sini. Semuanya kurasa egois sekarang. Apakah kau juga mau menghakimi aku?”

“Oh Angin. Itulah yang aku permasalahkan. Untuk apa bersembunyi di balik jubah malam. Setidaknya kau ceritakan hal ini kepada Matahari. Sehingga ia dapat menyebarkan kondisimu kepada seluruh Bumi”… sarannya padaku.

“Hueahauwahaua. Apa yang Matahari bisa lakukan aku tak tau. Mengatur laut saja ia tak bisa. Lihatlah Laut yang mengganas, atau Angin barat yang buas. Apa yang Matahari bisa lakukan aku tak tau. Masih untung aku di sini hanya sembunyi di balik pohon rindang dan sampah-sampah ini.” Ujarku.

“Aku tak pernah mengatakan yang kau lakukan itu jahat atau tidak. Aku hanya mengajak engkau berpikir nilai SALAH atau BENAR. Itu saja…”

“Menurutku aku benar.” Ujarku dengan angkuh.
“Tunggu saja, waktu akan menjawabnya.” Sambungku.

“Apa yang engkau anggap benar itu, Angin?”

“Bahwa ada waktu sesuatu itu harus berhenti. Dan ada waktu pula untuk berlari. Itu saja…” jawabku.

“Jadi engkau berjanji akan kembali ke Permukaan bumi dan menyebarkan kesejukan pada yang membutuhkan? Kapan….?”

“Di saat tanganku tidak lagi bergetar karena kelaparan…”

“Baiklah kalau begitu, Angin. Akan kusampaikan hal ini kepada Matahari. Sampai jumpa lagi….”

******** beberapa bulan kemudian *********

“Sekarang apa lagi alasanmu, Angin?” tanyanya padaku.
“Apakah tanganmu masih bergetar… atau mungkin perutmu masih sakit menahan lapar? Tolong jelaskan padaku?” sambungnya

“Satu yang kusadari, kawan. Ternyata berkecukupan belumlah cukup.”

“Apakah yang cukup itu sekarang?”

“Cukup bagiku sekarang adalah melimpah. Karena tidak dapat kutahan otakku untuk terus berpikir mengenai hari esok. Bahwa esok, seminggu, sebulan, dan setahun kemudian aku akan kembali lagi kepada kondisi mengenaskan seperti dulu lagi.” Eluhku.

“Apalagi yang kau tunggu. Bukankah kau sudah tidak perlu lagi sembunyi lagi. Bukankah kau sekarang lebih terhormat berada di pinggiran Pantai dan tidak lagi bersama tumpukan sampah-sampah itu?” protesnya.

“Yaaah… aku sadari itu.”

“Apakah kau masih yakin, bahwa yang kau lakukan masih bisa dikatakan benar?”

“Sejujurnya aku tidak yakin…”

“Dan………?” desaknya lagi.

“Bolehkah aku mengajukan diri, kawan..?”

“Tentu saja, Angin. Engkau punya hak untuk mengajukan diri.”

“Aku ingin pensiun menjadi Angin.”

“Hahh…!!!” pekiknya terkejut.

“Gila kau… Itu kodratmu. Kau harus memberi arti dalam hidup. Apakah kau berniat menghentikan aktifitas memurnikan Alam. Gila… sungguh-sungguh GILA..!!!” ia benar-benar shock. Tampak raut kekecewaan di wajahnya.

“Kau lihatlah dunia ini, Angin. Kegelapan merajalela, nafsu berkuasa, cinta telah disalah-artikan, Matahari sudah tidak menjadi petunjuk, Bulan sudah tidak lagi menjadi peringatan, dan engkau Angin, ingin berhenti menjadi penyejuk hati??? Kecewa, aku benar-benar kecewa!!!”

“Dengarkanlah dulu aku bicara.. tolong…” pintaku.

“Hhhhh…. Baiklah, bicaralah. Tapi ingat, jika yang kau katakan ini sesuatu yang mengecewakan, aku juga akan berhenti memberimu nasehat. Camkanlah itu..!!!” jawabnya.

“Hhhhhh.. Sebelumnya aku minta maaf,” aku melenguhkan nafas sejenak.
“Aku ingin mengumpulkan sebanyak-banyaknya Materi. Itulah intinya. Aku ingin memastikan bahwa aku cukup aman mengarungi bumi ini tanpa harus takut mati kehabisan energi sebelum waktunya. Aku juga tetap ingin mencerahkan dunia yang carut-marut ini, Kawan. Oleh karena itu aku ingin menjadi sesuatu yang bersifat mengumpulkan, namun masih memiliki ARTI..” ucapanku terhenti, ingin memastikan dia mengerti ucapanku.

“Lanjutkanlah, kau belum selesai. Aku bisa menebak arah pembicaraanmu itu,” ucapnya.

“Ya… Aku ingin menjadi Awan,” tegasku.

“Heh… sudah kuduga itu.” Komentarnya.

“So… well… menurutmu bagaimana, kawan… Apakah engkau mendukung tujuan baruku, atau engkau menentang dan pergi meninggalkan aku?” tanyaku

“Ok.. Menurutku itu pilihan yang bagus. Ok.. ok.. baiklah. Kudukung pilihanmu. Tapi cukup.!! Inilah pilihan akhirmu. Jangan lupakan lagi kodratmu. Kumpulkanlah materi-materi ke dalam himpunan awanmu. Jadilah awan yang besar…!!! Lalu curahkanlah Hujan, sebelum engkau terlalu besar dan meledak tanpa arah dan menimbulkan badai.. Baiklah.. Awan..”

Maka dimulailah sebuah perjalanan baru. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa temanku akan selalu ada di sampingku. Memberi arah yang benar, ketika Setan sudah menguasaiku dengan seluruh goda dan kepuasan yang ditawarkan nafsu…. Dialah Nurani, sahabatku…. Teman baikku… mengingatkan bahwa aku sudah terlalu jauh dari tujuanku.

Ayo kawan… Bismillahirrahmanirrahim