Ironi, kata yang semakin tak bermakna…!!!


ironi berasal dari bahasa Latin yang dalam Kamus Kata-kata Serapan Asing Dalam Bahasa Indonesia karangan J.S. Badudu salah satunya berarti ’kejadian yang bertentangan dengan apa yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi. Berita Kompas edisi Jawa Tengah, Selasa 20 Juli 2010 adalah sebuah contoh salah satu ironi di negeri ini.

Salman Maryadi, Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah, Senin 19 Juli 2010 mengatakan bahwa pihak Kejaksaan Tinggi menjamin proses hukum terhadap Sukawi Sutarip -Walikota Kota Semarang yang baru saja menjadi mantan, akan terus berjalan setelah Sukawi tidak menjabat sebagai kepala daerah. Kejaksaan tidak lagi membutuhkan surat ijin Presiden Sejak Agustus 2008 Sukawi ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana komunikasi APBD Kota Semarang senilai Rp 5 miliar. Sukawi sekarang menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Tengah dan juga sempat mencalonkan diri dalam pemilihan Gubernur Jawa Tengah.

Inilah salah satu ironi itu. Dalam kampanye maupun dalam banyak kesempatan dan yang terakhir dengan tangan bergantian menepuk dada dan menjauh dari sumbu badan di depan Tama S Langkun, aktivis ICW yang dianiaya diduga karena aktivitasnya dalam pemberantasan korupsi, Presiden bicara mengenai pentingnya bangsa ini memberantas korupsi, tetapi pada saat bersamaan justru Presiden sendiri telah sering bermain-main dengan apa yang disebut dengan ’surat ijin Presiden’ bagi pemeriksaan sebagian kepala daerah yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi.

Dengan mata telanjang kita bisa melihat bahwa sudah terlalu banyak ironi di negeri ini, terlalu banyak ’kejadian yang bertentangan dengan apa yang diharapkan atau yang seharusnya terjadi’. Para elit politik –termasuk Presiden, seakan sudah tidak mengenal lagi kata ironi dalam perilaku maupun dalam kebijakan-kebijakan publiknya. Atau apakah benar kata-kata Mochtar Lubis sekitar 33 tahun yang lalu? Dalam ceramah ’Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungjawaban’, 6 April 1977 di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Mochtar Lubis menyebut salah satu ciri manusia Indonesia yang cukup menonjol ialah hipokritis alias munafik.Semoga tidak benar!

Iklan