Penulis-penulis baru Jerman – Kesusastraan di Jerman Bild Medien


Pemberitaan berlebihan tentang pengarang-pengarang muda Jerman, “sastra pop” dengan penampilan di MTV pada akhir tahun 90-an abad lalu pelan-pelan telah kembali tenang. Yang masih tertinggal adalah hasrat untuk mengamati ruang-ruang pengalaman budaya dan sosial sendiri dengan level bahasa yang tinggi.”

Pasar buku juga tak lepas dari libasan krisis ekonomi yang terjadi di Jerman sekarang. Turunnya jumlah omset dalam perdagangan buku dan perubahan-perubahan struktural di dunia penerbitan adalah dampak dari krisis tersebut. Terjadinya merger beberapa penerbit, kembalinya bisnis penerbitan kepada apa yang disebut „bisnis inti“ dan adanya pelangsingan program-program penerbit muncul dari pertimbangan-pertimbangan ekonomis yang diperlukan.

Akan tetapi, hal yang menggembirakan adalah bertahannya minat terhadap sastra khususnya dari kalangan muda. Kursus-kursus „creative writing“ yang diselenggarakan oleh pihak perguruan tinggi dan sekolah menulis disesaki peserta dan festival-festival untuk sastra kalangan generasi muda seperti sayembara Open Mike di Berlin atau Wortspiele (permainan kata-kata) di München banyak diminati publik.

Pergantian generasi
Tentu saja semangat akan sastra baru Jerman yang muncul akhir tahun 90-an harus kembali mereda setelah bertahun-tahun krisis, namun semangat ini telah meninggalkan jejak yang layak diperhatikan. Apresiasi terhadap bahasa dan ruang pengalaman budaya dan sosial yang didapatkan kembali tidak mengalami perubahan, kendati adanya sukses besar penulis-penulis Amerika termasuk di Jerman. Keadaan ini dipicu oleh terjadinya pergantian generasi pada penulis dan pembaca.

Memang nama-nama seperti Günter Grass, Martin Walser dan Christa Wolf, Hans Magnus Enzensberger, Peter Handke dan Botho Strauß dianggap sebagai wakil dari sastra Jerman di luar negeri, namun para penulis muda dilihat dari sudut pandang literer telah melampaui para penulis tersebut. Terlepas dari label yang diberikan pada kelompok penulis tertentu seperti Fräuleinwunder (ini merujuk pada fenomena munculnya banyak penulis perempuan muda/mirip dengan kelompok sastra wangi di kancah kesusasteraan kita) atau Berlin-Roman sejumlah pencerita dan stilis serius berhasil tampil ke permukaan.

Teks-teks mereka merefleksikan masyarakat media dan konsumtif modern kita sekarang dengan sudut pandang yang dingin dan dengan menggunakan bahasa tingkat tinggi: demikian tulis Ulrich Peltzer dalam Bryant Park (2001) tentang goncangan-goncangan yang bagi seni sendiri berarti mulainya realita (11 September 2001). Dalam Der Fall Arbogast (2001) Thomas Hettche merekonstruksi sebuah kasus kejahatan sejarah dan membedah potongan-potongan persepsi kita, kumpulan cerita karya Ralf Rothmann Ein Winter unter Hirschen (Musim Dingin di Antara Rombongan Rusa) merujuk pada sesuatu yang tersirat, sesuatu yang membangkitkan kekhawatiran – jadi, bukankah semua ini pas ke masa kita?

Kesusasteraan untuk Eropa yang tumbuh bersama
Dalam konteks Eropa yang tumbuh bersama, sastra berbahasa Jerman, apakah itu berasal dari Swiss, Austria, Hungaria, Rusia atau Jerman sendiri, pada umumnya dianggap – tanpa meihat institusi dan departemen – sebagai kesatuan bahasa dengan berbagai wajah budaya. Jika pengarang seperti Hans-Ulrich Treichel, Norbert Gstrein, Angela Krauß, Melitta Breznik atau Robert Menasse dalam roman-roman luar biasa mereka mengantar pembaca ke dalam jalinan njelimet sejarah waktu dan keluarga, maka cerita-cerita itu muncul sebagai konfrontasi yang berlaku paten, yang secara literer menarik dengan pengalaman-pengalaman yang tak kenal batas. Jadi tidaklah mengherankan apabila misalnya pengarang wanita keturunan Jerman-Rumania, Herta Müller, mendapat perhatian besar dan apabila perempuan muda seperti Terézia Mora Seltsame Materie (Materi Langka, 1999) dan Zsuzsa Bánk Der Schwimmer (Sang Perenang, 2001) dengan roman-roman dan cerpen debutnya yang bersetting di Hungaria memetik sukses luar biasa.

Membaca realita keseharian kita dalam bentuk naratif, refleksi bahasa
Pop-Literatur telah mengambil alih peran buku remaja. Sastra yang terus melaju, yang cenderung pada eksperimen bahasa hanya menciptakan eksistensi semu dan dipersepsi oleh kalangan kecil saja. Bercerita dan terus bercerita kata Uwe Timm yang dengan romannya Rot (Merah 2001) berhasil mengangkat topik gerakan mahasiswa dan hilangnya nilai-nilai pencerahan dengan tingkat literer yang paling meyakinkan. Apakah itu penulis-penulis senior seperti Dieter Forte yang telah menuntaskan trilogi roman pasca perangnya, atau sang penikmat jalan-jalan dan pengamat Wilhelm Genazino, si mikroskopis artistik Brigitte Kronauer atau si penggiat bahasa gelap-menyala Wolfgang Hilbig yang pernah mendapat penghargaan Büchner – mereka ini semua melambangkan lahirnya kembali sebuah pembacaan realita keseharian kita dalam bentuk bercerita, refleksi bahasa. Sukses penulis-penulis muda seperti Rainer Merkel yang menulis tentang New Economy atau Gregor Hens dan Annette Pehnt yang mengangkat topik betapa utopisnya rencana percintaan dan kehidupan – tema-tema yang diangkat secara ketat dan tepat sesuai dengan cakrawala pengalaman para pembacanya – adalah berkat kejelian mereka mengamati realita keseharian tersebut.

Sukses para penulis dari bekas Jerman Timur
Sukses ini juga bisa dirasakan oleh para penulis muda dari Jerman bagian timur di tahun-tahun belakangan. Munculnya panggung-panggung baca dengan penampilan para penulis di cafe-cafe telah membuat para pengarang seperti Jakob Hein, Jochen Schmidt dan Wladimir Kaminer menjadi terkenal. Biografi kehidupan penulis menjadi bahan untuk cerita dan anekdot yang memenuhi kebutuhan besar akan identifikasi sosial. Contoh roman yang meraih sukses sensasional dengan topik ini adalah Zonenkinder karya Jana Hensel. Tak penting apakah perkembangan ini merupakan balas dendam terlambat dari „penulis timur yang liar“/wilder Osten (demikian judul sebuah antologi) atau ujung tombak sebuah kelompok avantgard baru (seperti yang dimaksud Wolfgang Engler). Sebuah indikasi atas munculnya secara perlahan penulis dari timur di Jerman bagian barat kini tampak nyata setelah sepuluh tahun.

Thomas Kraft
kritikus sastra dan publisis

Terjemahan: Arpani Harun

Copyright: Goethe-Institut, Online-Redaktion

Mei 2003

Iklan