Anak yang Menjadi Korban Broken Home


” Broken Home ” adalah dua kata yang sudah sangat sering kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Di dunia ini cukup banyak anak yang hidup dalam keluarga yang Broken Home dan tidak sedikit pula dari mereka yang tidak sanggup menerima kenyataan tersebut sehingga mereka terjerumus ke dalam tindakan-tindakan negatif yang akan selalu mereka lakukan karena ketidaksanggupan menerima kenyataan tersebut. Begitu banyak contoh yang bisa kita saksikan di dalam kehidupan ini, banyaknya anak orang kaya yang kurang mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing sehingga si anak memutuskan untuk melakukan hal-hal yang dia sukai agar perasaan sedih dan kecewa terhadap kedua orangtuanya bisa ia lupakan.

Terkadang saya juga berpikir kenapa di dunia ini harus ada yang namanya Broken Home padahal kalau dipikir-pikir hidup itu akan terasa indah apabila tidak ada yang namanya Broken Home. Namun yang paling saya sedihkan adalah saat seorang anak tidak mapu menghadapi Broken Home tersebut dan melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan seperti pergi ke bar, cafe-cafe yang tidak pantas untuk dimasuki, diskotik, melakukan berbagai kenakalan dan masih banyak contoh tindakan-tindakan negatif lainnya.

Namun tak semua anak yang hidupnya Broken Home melakukan berbagai tindakan negatif seperti yang telah saya sebutkan diatas. Segelitir anak juga masih bisa menggunakan akal sehatnya dan tetap bertahan dikeluarganya itu, sekalipun dia harus berjuang mati-matian agar dia tidak terjerumus ke dalam kenakalan remaja yang justru akan lebih memperparah keadaan.

Sebagai contoh ada sebuah keluarga yang terdiri dari Bapak, Ibu dan ketiga putrinya. Dulu keluarga mereka adalah kelurga yang bahagia namun entah apa yang terjadi kini keluarga tersebut menjadi keluarga yang tidak akur antara Bapak dan Ibu. Pasangan suami istri tersebut sering berantem bahakan hampir setiap hari. Tak jarang mereka berantem di depan ketiga putrinya yang masih kecil-kecil. Putri mereka yang paling besar masih duduk dikelas 6SD dan putri mereka yang paling kecil masih belum menginjakkan kaki dibangku Sekolah Dasar. Perkelahian selalu terjadi seakan-akan mereka tidak peduli bagaimana perasaan ketiga putri mereka tersebut. Sampai suatu hari si Ibu harus berangkat ke Sumatera karena Nenek dari ketiga putrinya telah meninggal dunia dan akan dikebumikan di Sumatera. Dengan berat hati si Ibu pergi meninggalkan ketiga putrinya dan juga suaminya. Kini ketiga putri mereka hidup bersama sang Bapak yang harus mencari nafkah untuk anak-anaknya. Namun, kesedihan kembali menimpa keluarga mereka dimana putri tertua harus tinggal bersama Pamannya di Jakarta. Selang beberapa hari kemudian terdengar kabar yang sangat menyedihkan dimana Bapak mereka masuk penjara karena terlibat perkelahian. Akibatnya, mereka harus hidup tanpa kedua orangtua mereka dimana putri kedua keluarga tersebut tinggal bersama Bibi mereka yang ada di Bandung karena putri kedua mereka akan segera mengikuti UAN sementara putri bungsu keluarga tersebut harus ikut Pamannya yang tinggal di Jakarta. Kini keluarga mereka terpecah belah. Mereka harus menjalani hidup mereka masing-masing. Setahun kemudian putri kedua keluarga mereka dijemput sang Ibu dan di ajak tinggal bersamanya di Sumatera demikian pula dengan si bungsu yang tidak tahan dengan kecerewetan Bibinya membuatnya ikut ke Sumatera bersama Neneknya yang hendak pulang ke kampung. Seminggu lamanya dia tak sekolah hingga akhirnya sang Ibu mengajak tinggal bersamanya dan kakaknya. Awalnya mereka sangat senang karena kembali bertemu dengan sang Ibu namun apa yang mereka pikirkan ternyata berbeda dengan kenyataannya. Ibu mereka sudah berubah menjadi jahat dan galak kepada mereka, suka memukul dan mendidik mereka ala militer. Kini kehidupan mereka sangat terkekang dan mereka tidak bebas berekspresi. Tidak bergauk dengan sembarangan orang apalagi yang namanya laki-laki, tidak bisa mengikuti kegiatan diluar jam sekolah. Mereka selalu tertekan bathin dan sangat takut pada Ibu mereka. Waktu terus bergulir hingga sang anak sudah tumbuh besar, Putri kedua keluarga mereka mendapat tawaran kerja diJakarta. Tinggallah si bungsu yang harus melawan kerasnya didikan sang Ibu. Setelah menyelesaikan sekolah SMA_nya dengan penuh perjuangan akhirnya dia bisa melanjutkan studinya diMedan dan mengambil jurusan Komputer. Kini ketiga putri mereka hidupnya berpencar-pencar sama halnya dengan kedua orangtua mereka yang sudah berpisah semenjak kematian Nenek mereka. Ketiga putri mereka mampu hiudp mandiri dikota besar akibat mereka selalu berpikiran positif atas apa yang menimpa keluarga mereka. Kini ketiga putri mereka berusaha untuk menjadi orang sukses agar dapat menyatukan kedua orangtua mereka.

Setelah membaca contoh diatas saya berharap siapa pun orangnya agar bisa memandang positif atas apa yang menimpa keluarga kalian. Yakin dan percayalah Tuhan pasti punya rencana atas apa yang terjadi dalam kehidupan kalian. Siapa pun pasti tidak menginginkan hal ini terjadi apalagi hal tersebut terjadi sejak Anda kecil hingga besar. Intinya selalulah berpikiran dan bertindak positif karena jika Anda melakukan tindakan dan selalu berpikiran negatif yang datang hanyalah masalah. Anda takkan pernah bisa menyelasaikan masalah jika Anda selalu berpikiran dan melakukan hal-hal negatif. Sekalipun Anda merasa bahagia dengan apa yang Anda rasakan saat ini namun yakinlah bahwa Anda semakin memperburuk keadaan Anda.