Membangun Kesadaran Politik Remaja


Sejak kejatuhan rezim orde baru tiga belas tahun lalu, masyarakat Indonesia memasuki fase baru di setiap sendi kehidupannya. Salah satu kemajuan yang diraih adalah berkembangnya alam demokrasi yang dulu acap kali di ucapkan di bibir saja, dalam prakteknya nol besar. Bukti bahwa negara kita menjadi sangat demokratis dapat kita rasakan dengan semakin banyaknya partai politik berdiri. Kalau pada era orde baru berkuasa hanya ada tiga partai, maka setelah memasuki fase reformasi tiga belas tahun lamanya lebih dari 50 partai politik berdiri di Indonesia.

Partai politik pada dasarnya menjadi alat pencerah untuk menyadarkan masyarakat pada peran politiknya. Namun sepertinya partai politik melupakan sesuatu, pencerahan politik yang dilakukan terkadang tidak menyentuh generasi muda khususnya remaja. Program-program yang ada dalam partai politik cenderung tidak memperhatikan potensi pemilih suara dari kalangan ini.

Pada pemilu tahun 2004 dan 2009 lalu, perhatian partai politik pada pemilih remaja hanya ada pada saat kampanye saja. Bahkan ada di beberapa daerah para calan anggota legislatif yang nekat melakukan kampanye di sekolah-sekolah. Perhatian itupun hanya sebatas acara dialog dan motivasi agar remaja menjadi pemilih. Tapi kurang efektif karena dilakukan kurang serius.

Menurut Darmaningtyas, pengamat pendidikan dari Taman Siswa dalam pernyataannya di sebuah media online mengatakan, masa remaja merupakan saat-saat di mana mereka ingin mencoba mengikuti proses pemilu. Pertumbuhan partai politik di Indonesia tidak diimbangi dengsn kemampuan memahami kepentingan anak muda. Program-program partai belum menjangkau remaja. Apalagi mewakilinya.

Mungkin ini merupakan salah satu kelemahan partai politik yang sering meremehkan hal-hal kecil. Remaja merupakan generasi penerus keberlangsungan bangsa ini. Pendidikan politik bagi mereka merupakan hal penting. Merekalah generasi pemilih di masa yang akan datang.

Bila dikaji lebih dalam, remaja bisa memberi keuntungan pada parta politik bila input pendidikan politik pada mereka diberikan secara intensif. Kaum pemuda akan memiliki kesadaran berpolitik tinggi dan semakain kritis pada proses politik yang tengah terjadi. Partai juga diuntungkan karena dapat melakukan kaderisasi politik secara dini. Hanya saja partai politik sepertinya belum memahami arti penting ini.

Dalam kacamata Darmaningtyas, orientasi partai politik masih pada isu-isu besar. Cara mendongkrak suara pun masih menggunakan cara-cara yang sudah umum, misal menggunakan artis dengan cara merekrutnya. Dengan kondisi seperti itu secara tidak langsung telah membentuk sikap tertentu di kalangan remaja. Peran remaja pun menjadi kurang. Dan pada akhirnya mereka akan lebih memilih hura-hura ketimbang memikirkan politik yang rumit dan belum tentu menberikan keuntungan buat mereka.

Sekolah pun memilki andil dalam memperkenalkan remaja pada dunia politik. Saat ini ruang pengenalan politik masih sangat terbatas di kalangan remaja. Sebab tidak ada kurikulum sekolah maupun di masyarakat yang disusun secara sistematis untuk mengenalkan politik.

Tahun 1965 gerakan Partai Komunis Indonesia meletus. Ini juga menjadi salah satu penyebab masyarakat Indonesia alergi berbicara mengenai perkembangan politik. Dan imbasnya pada generasi muda yang ada setelah era itu berakhir.

Remaja lebih sering mendapat informasi tentang politik dari media. Baik itu cetak, elektronik, dan sekarang melalui media online. Tentunya informasi yang mereka dapatkan dari media bukanlah pengetahuan mendalam, namun hanya sepotong-sepotong.

Ketidakpedulian partai olitik akan mempersulit menyadarkan remaja pada peranan politiknya. Kalau hanya kemenagan dalam pemilu yang dikejar oleh partai politik, remaja selamanya tidak akan pernah tertarik mempelajari politik. Faktor lainnya yang membentuk kesadaran remaja tergantung pada orang tua. Bila idak ada yang mengarahkan mereka tidak akan pernah memiliki kepedulian.

Lalu bagaimana dengan pemilu tahun 2014 mendatang? Apakah perlakuan partai politik terhadap remaja masih sama dengan pemilu-pemilu sebelumnya? Kita tunggu saja.
Ditulis Oleh : Noorikhsan Hatami Kompasiana

Iklan