Antara Cogito (Berpikir) dan Credo (Percaya) Untuk Ada (Ergo Sum): Apakah Berpikir dan Percaya Saling Bertentangan?


oleh :Joshua Maliogha

Cogito Ergo Sum atau “Aku berpikir maka Aku ada”, ialah konsepsi filsafat yang lahir dari pemikiran muthakir Descartes seorang filsuf Prancis pada tahun 1619. Konsepsi Cogito Ergo Sum bagi Simon Petrus L. Tjahjadi (tuhan para filsuf dan ilmuwan: dari Descartes sampai Whitehead, 2007) dipahami sebagai “Aku bereksistensi.” Konsepsi ini sendiri bukanlah lahir dari sebuah bentuk silogistis tetapi lebih merupakan destinasi dari kesadaran berpikir Descartes. Kenyataan bahwa manusia ada, segala sesuatu nyata ialah bahwa manusia berpikir. Berpikir yang bermula dari manusia bertanya, suatu yang pasti terjadi ialah manusia bertanya dan manusia ragu. Jika manusia tidak bertanya dan ragu maka dia tidak mungkin berpikir, implikasinya manusia tidak ada.

Di ajukanya konsep “manusia ragu/bertanya” sangat kental dengan setiap sendi pengetahuan. Bila anda tidak pernah bertanya, dari manakah anda tahu “siapa anda”, “mengapa anda hidup”, ini membuktikan setiap jawaban dan pernyataan lahir dari pertanyaan. Bahkan kemunculan dan partisipasi Tuhan dalam kehidupan manusia pun berawal dari kesadaran sebuah pertanyaan “mengapa aku ada?’, “dari mana alam berasal?”, ’siapa pencipta semua ini?”.

Keberadaan manusia dalam realita secara sadar datang dari pemikiran jika begitu. Sungguh luar biasa dimana Descartes mampu menemukan sebuah pemikiran yang sangat fundamental mengenai manusia dan eksistensinya. Bahkan juga berkaitan dengan hal transendental dalam hubungan dengan manusia itu sendiri sekalipun. Berangkat dari sini memang belum terdapat sebuah distingsi yang seakan memang membenarkan dan seolah telah mencapai garis finis dalam sebuah filsafat. Akan tetapi jika hanya berhenti sampai disana saja maka sikap skeptis dan kritis dari filsafat sendiri telah mati. Tidak mungkin hanya Cogito yang benar, harusnya ada konsepsi lain yang mampu menjelaskan tentang keberadaan manusia secara hakiki.

Keberadaan manusia yang hakiki sebenarnya juga dapat dipandang dari sudut lainya. Sudut itu ialah sudut kepercayaan (Credo). Credo Ergo Sum, “Aku percaya maka Aku ada”. Ialah sebuah konsepsi yang dikemukakan Newberg dan Waldman, dengan sebuah penjelasan bahwa “percaya” menjadi dasar eksistensi manusia. Kepercayaan menjadi syarat melulu dan mutlak bagi manusia. Jika manusia tidak percaya maka tidak ada keberadaan, tidak ada pemahaman. Akan tetapi secara mendasar konsep ini tidaklah sama dengan konsep yang dikemukakan Anselmus yaitu: Fides quaerens intellectum (iman berikthiar menemukan pengetahuan). Anselmus dan Newberg serta Waldman sama-sama menekankan sebuah “kepercayaan” dalam konsepsi mereka. Akan tetapi Anselmus menggunakan iman yang lebih mendasar dan kuat dibanding sekedar percaya sebagai dasar untuk memperoleh sebuah pengetahuan. Sedangkan disisi lain Newberg dan Waldman menekankan percaya untuk eksistensi dalam hal ini juga mendapat pengetahuan. Secara sepintas keduanya sama, tetapi tidaklah demikian secara esensial dan substansial. Credo percaya segala hal termasuk iman, artinya Credo menenkankan kepercayaan tanpa ukuran tertentu. Sedangkan Fides menuntut suatu ukuran standar yaitu iman saja. Mendapat sebuah pemahaman/ pengetahuan dengan percaya dalam Credo yaitu dengan yakin maka manusia mengerti.Tetapi Fides dapat dengan sempit membawa percaya kepada satu ukuran (iman) bila diluar iman maka tidak dapat dikatakan benar/ pengetahuan yang salah. Hal ini karena Fides kembali lagi membatasi eksistensi manusia dalam sebuah standar tertentu, implikasinya hal-hal diluar standar bukanlah kebenaran.

Percaya dalam Credo maupun Fides memiliki suatu aspek yang sama yang sangat fundamental yaitu subjektifitas manusia. Percaya ialah kesadaran subjektif manusia, sebuah bagian dari otonomi diri sendiri atas realita atau konsepsi tertentu. Tentunya percaya tidak bisa dipaksakan berlaku general kecuali si pribadi menerima melalui dirinya sendiri. Celakanya percaya dapat menjerumuskan manusia ke dalam fanatisme dan fundamentalisme karena percaya langsung menyentuh ranah mental.

Blaise Pascal (1623-1662) ialah seorang yang kemudian mempertentangkan antara Cogito dan Credo untuk mencapai ergo sum. Pascal melakukan kritik terhadap konsepsi Descartes sebagai juga reaksinya terhadap kemunculan Rasionalisme pada masanya. Bagi Pascal tidak semua fenomena melulu dapat dijelaskan oleh akal. Tidak mungkin akal dan rasio mampu menjelaskan semua hal dimuka bumi. Tuhan pun bagi Pascal merupakan subjek bebas yang tidak boleh tergantung pada rasio. Penolakan ini secara langsung menyerang kaum filsuf dan Scholastik pada masa itu yang mencoba menjawab konsepsi Tuhan dengan rasio. Pascal dengan tegas mengemukakan bahwa tidak hanya rasio yang dapat memberikan kepada manusia kebenaran tetapi juga hati (le coeur) mampu memberikan kebenaran. Oleh karena itu Pascal mendukung Credo Ergo Sum bukan Cogito Ergo Sum. Bahkan Pascal membuat suatu konsep yang di jahitkan di bajunya yaitu “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” dan “Allah para filsuf dan kaum terpelajar.”

Jika menilik pemikiran Pascal maka terdapat semacam dikotomi seperti dikemukakan Tjahjadi. Ada semacam pemisahan kategori antara Allah kaum pertama dengan Allah kaum kedua. Bentuk semacam ini berakibat kepada sebuah pemikiran Pascal bahwa antara rasio dan percaya ialah sesuatu yang kontradiktif. Keduanya saling bertentangan. Padahal tidak demikian adanya dalam kehidupan secara mendasar. Pascal menjelaskan bahwa bahwasanya percaya tidaklah irasional melainkan metarasional (diatas akal). Percaya ditempatkan Pascal (khususnya mengenai Tuhan) berada diatas rasio karena dia yakin rasio tidak akan mampu mencapai Tuhan. Jadi bagi Pascal percaya bukanlah hal yang tidak masuk akal tetapi tidak perlu dijelaskan dengan akal.

Untuk mendukung konsepsinya Pascal menyumbangkan suatu pemikiran yang cukup muthakir yaitu konsepsi Le Pari. Sebuah konsep “pertaruhan” dalam kehidupan yang tidak mendatangkan kerugian bagi manusia apabila manusia percaya. Konsepsi ini menjelaskan bahwa: “Jika saya percaya Tuhan ada, dan ternyata memang benar Tuhan ada saat Dia datang kembali maka saya di untungkan karena saya menang dan saya benar.” dan “Jika saya percaya Tuhan ada, namun ternyata Tuhan tidak ada dan tidak datang kembali maka saya tidak dirugikan karena saya telah mengikuti jalan baik dari hukum Tuhan dalam hidup saya.” Pemikiran ini menjadikan kepercayaan seperti sebuah saran “untuk sementara percaya sajalah, toh tidak ada kerugian.”

Namun ada sebuah hal penting yang dilupakan Pascal, dalam hal ini saya sangat setuju dengan Tjahjadi yaitu Pascal melupakan bahwa kesadarannya akan Le Pari juga merupakan produk autentik dari Cogito. Jika Pascal tidak berpikir bagaimana mungkin Pascal sadar bahwa dia mampu percaya. Jika dia tidak mempertanykan apa yang di percayai bagaimana mungkin dia bisa memahami apa yang dia imani? Sebenarnya setiap konsepsi Pascal terlahir dari proses pemikiran kritisnya sendiri. Bahkan konsepsi metarasio didapat juga dari proses berpikir.

Disini dapat ditemukan bahwa sebenarnya Cogito dan Credo bukanlah dua hal yang kontradiktif dalam mencapai Ergo Sum (akibatnya adanya ambivalensi). Berpikir erat kaitanya dengan kepercayaan manusia. Untuk percaya manusia butuh berpikir, karena jika percaya tanpa berpikir maka manusia itu ialah manusia yang tidak hidup dalam kehidupan. Saya tidak menempatkan cogito sebagai causa prima, tetapi saya lebih menekankan suatu elaborasi antara cogito dan credo yang menjadikan kepercayaan dapat dipertanggung jawabkan. Tidak secara fanatis dan fundamentalis tetapi percaya secara kritis tentang apa yang saya percayai.

Antara kritis dan intuitif tidak perlu dipertentangkan sama seperti halnya ilmu pengetahuan dan iman. Keduanya lahir dalam peradaban manusia sehingga tidak perlu adanya pertentangan tentang kebenaran berdasarkan ukuran tertentu. Dengan adanya pembenaran berdasarkan ukuran tertentu telah dibuktikan secara historis harmoni menjadi jauh dari kehidupan. Sebenarnya proses berpikir yang diimbangi dengan rasa percaya akan memberikan suatu dampak yang sangat baik bagi kehidupan. Pemikiran menghasilkan suatu produk yang baik dan tidak baik disitu tugas rasa percaya melalui pertimbangan-pertimbangan hati dapat memilih dan memilah mana yang harus dan tidak. Jika hanya akal saja tanpa rasa percaya maka hidup akan timpang, begitu sebaliknya jika percaya saja tanpa adanya masukan dari akal maka hidup akan pincang.

Semoga berguna.

Joshua Maliogha

Sumber