Esensi Manusia A, B, dan C Atas Penyadaran


Oleh : Dinda Satria


Manusia memang unik, manusia satu dan lainnya sangat khas tiada yang sama persis (tidak nomothetic). Fenomena ini adalah karunia Illahi yang luar biasa dari mahluk bernama manusia. Manusia bisa melesat menjadi mahluk dengat derajat tinggi, tetapi tidak jarang menjadi mahluk yang terjerembab pada derajat terendah dari seluruh mahluk ciptaan-Nya.

Ketika kita berkontemplasi dalam soliloquy keheningan tentang esensi diri… Menghantarkan pada tiga esensi diri Manusia, sebut saja si A, si B dan si C. Pada posisi tertentu (sekritis apapun) si A akan bersikap tenang, selanjutnya pada posisi yang relatif sama (dengan si A) si B akan bersikap galau, tetapi sebaliknya pada posisi tersebut, si C menampilkan sikap tak terkendali dan cenderung membabi buta. Dengan ketenangannya si A tentu akan mampu ‘membaca’ lebih jelas situasi tersebut untuk segera bertindak logis dan penuh perhitungan. Berbeda dengan si B yang akan dengan mudah terombang-ambing situasi dan agak buram untuk’membaca’nya. Lalu, bagaimana dengan si C ? Tentu tindakan yang diekspresikan akan cenderung frontal, irrasional dan hantam kromo yang pada akhirnya akan berbalik menghantam dirinya sendiri.

Tidak berhenti hanya sampai disitu, orang akan ikut menilai dari semua tindakan si A, si B dan si C dengan beragam persepsi (baik didasarkan kemiripan dengan dirinya maupun didasarkan perbedaan dengan dirinya). Mereka yang menilai dan bersimpati dengan posisi si A tentunya memiliki kecenderungan mirip dengan si A dengan berpegang pada kebenaran. Begitupun mereka yang lebih memposisikan pada si C memiliki kecenderungan mirip dengan si C yang lebih cenderung bergantung pada pembenaran.

Lha, bagaimana dengan orang yang memaklumi pada sikap si B? Tentunya termasuk pada kecenderungan berdasarkan kemiripan dengan si B. Menurut asumsi penulis belajar dari perjalanan hidup dankehidupan yang penuh lika-liku selama ini, jumlah terbesar sesungguhnya berada pada posisi seperti si B.

Posisi si B akan dengan ‘mudah’ berubah menjadi seperti si A atau mungkin seperti si C, tergantung seberapa besar ke-galau-annya. Ke-galau-an yang kecil menyiratkan masih ada ruang ketenangan dan nalar yang bersisa, sedangkan ke-galau-an yang besar (akut) akan cenderung disesaki angkara murka dan prasangka.

Bagaimana seharusnya mengarahkan ke-galau-an pada si B? Tipe manusia yang cenderung seperti si A akan dengan hati-hati mengarahkankannya dengan cara persuasif, santun dan tetap menghargai ke-galau-an si A tanpa harus men-judge-nya dengan label tertentu. Dengan demikian akan mudah mengisi ruang ketenangan dan nalar yang masih bersisa pada si B untuk membaca kebenaran dengan menyibakkan debu penyebab buramnya “kebenaran” yang terbaca. Lalu bagaimana bila manusia tipe si C yang menggiring ke-galau-an pada si B? Yang akan terjadi menjadi sulit untuk dibayangkan, karena hanya akan ada lorong gelap pemaksaan kehendak, pembenaran dan ‘kekasaran’ atas harkat martabat bagi orang lain yang berseberangan.

Andai esensi itu adalah sebuah pilihan, tentu kita sebagai manusia lebih mungkin untuk memilih sebagai sosok si A!!! Tetapi Allah SWT Tuhan semesta alam Maha Adil dan Bijaksana telah menciptakan mahluk yang paling … bernama manusia yang butuh penyadaran ataupun pemaksaan, yang akrab dengan kebenaran sekaligus pembenaran, serta dekat dengan kemuliaan juga kebinasaan… Manusia tidak hanya sekedar sekepal otak dan serangkaian otot, tetapi manusia juga adalah pemilik segumpal hati yang memiliki rongga yang begitu luas tempat dimana singgasana agung ketenangan itu berada mengatur dan mengendalikan laku lampah kehidupan!

Senja lereng Tangkuban Parahu

Sumber : Sumber