Pemilik Teks (Membaca Hermeneutika Paul Ricoeur)


Oleh :Edi_akhiles
“…ikan-ikan yang berenang di laut tidak pernah asin meski dikelilingi air asin…” (Achmad Muchlis Amrin)


Paul Ricoeur disebut-sebut sebagai tokoh hermeneutika yang berhasil mendamaikan pertarungan sengit antara heremeneutika metodologis Emilio Betti dan hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer. Ia pun mewadahi dua tradisi besar filsafat, yakni filsafat fenomenologi Jerman dan filsafat strukturalisme Prancis. Dari arah Jerman, ia memadukan tradisi fenomenologi Husserl dengan eksistensialisme Heidegger. Dari arah Prancis, ia merangkul tradisi strukturalisme linguistik Ferdinand de Saussure dan strukturalisme antropologis Levi Strauss.

Komplit dah (mumetnya..haaa).

Yang menakjubkan buat saya dari pemikiran hermeneutika Ricoeur ialah saat dia memetakan “apa yang dimaksud teks dan siapa yang memilikinya.” Menurutnya, teks adalah “any discourse fixed by writing.” Istilah “discourse” ala Ricoeur ini menunjuk teks sebagai “event”, bukan “meaning”. Teks sebagai meaning akan berhenti sebatas makna yang a-historis bin statis. Tetapi sebagai “event”, teks mencakup makna dan historisitasnya sekaligus. Ricoeur kemudian menegaskan bahwa “bahasa (teks) selalu mengatakan sesuatu, sekaligus tentang sesuatu.”

Owwww….opoooo ikiiii yaaaa…?

Karena itulah, mudah dimengerti mengapa Ricoeur lalu mencerabut teks dari dunia penulis/pengucap/pembicara. Teks adalah korpus yang otonom, mandiri, memiliki totalitasnya sendiri. Karenanya, siapa pun Anda, sangat bisa untuk membaca teks lalu menarik kesimpulan makna darinya secara mandiri, karena dengan cara demikianlah teks itu menyatakan dirinya kepada Anda. Pada gilirannya, pemikiran ini meniscayakan pluralisme pemahaman terhadap teks.

Meskipun teks juga bersumber dari bahasa, tetapi situasinya berbeda jauh dengan bahasa yang dilisankan. Dalam bahasa lisan, tercipta komunikasi langsung, yang terlekat langsung (include) dengan si pengucap, mulai intonasi hingga gesture. Sementara teks lantaran “discourse fixed by writing” tidak memiliki situasi itu, akibat keterputusan cakrawala penulis dan pembaca. Sampai di sini terasa benar pengaruh hermeneutika Gadamer kan tentang pentingnya fusion of horizons (peleburan cakrawala) untuk mendialogkan teks dan pembacanya.

Ricoeur lalu memunculkan dua kata kunci tentang teks yang sangat penting dalam pemikiran hermeneutikanya, yakni what is said (apa yang dikatakan teks) dan the act of saying (cara atau proses teks mengungkapkannya). Kata kunci pertama, what is said, adalah event yang dikandung sebuah teks. Makna teks begitu sudah dituliskan menjadi begitu otonom, mandiri, lepas sepenuhnya dari konteks penulisnya. Mengapa ini terjadi? Sekali lagi, lantaran teks tidak menyediakan ruang komunikasi langsung antara penulis dan pembacanya. Tidak adanya ruang ini otomatis menjadikan teks berbicara sendiri secara otonom kepada siapa pun yang membacanya, yang tentu saja sangat bergantung pada soal intensi, kepentingan, dan kapasitas pembacanya.

Pada level what is said ini, maksud penulis teks menjadi tidak tersekat pada standar makna apa pun. Bahkan Ricoeur menyebut penulis teks sebagai pembaca pertama, dengan makna yang dituliskannya pada teksnya, lalu diterima oleh pembaca kedua, ketiga, dan seterusnya, yang niscaya akan terus menghasilkan pergeseran makna dari pembaca pertama itu sendiri (penulisnya).

Misal begini. Kita tahu Achmad Muchlis Amrin itu penyair kondang, meski sangat buruk main futsal, yang tiap tiga bulan mendapat jatah publikasi puisi di Kompas, sedang kuliah sosiologi di UGM, begitu istiqamah puasa Daud. Suatu hari, puisinya yang dimuat Kompas berbunyi begini: “…ikan-ikan yang berenang di laut tidak pernah asin meski dikelilingi air asin…” (maaf kalau salah karena ingatanku buruk), lalu ada ribuan fansnya yang membaca. Bagaimana makna yang ditangkap oleh ribuan penggemarnya atas teks puisi itu? Pasti ada ribuan pemaknaan kan.

Umpama kita bertanya pada penyairnya langsung, yang itu berarti teks telah bergeser ke arah komunikasi langsung, maka penyampaian makna (speech) itu akan menjadi tunggal makna, karena sifatnya yang monolog dari arah penulis/pembicara.

“Oooo… saya pikir itu cuma karena saya sedang mlihat istri saya menggoreng ikan asin, lalu saya pikir saya teringat waktu ikut menjadi nelayan dan makan ikan di laut yang baru ditangkap, dan ternyata saya pikir ikannya tidak asin…” begitu jawab Muchlis.

Ahaaaa, maaf kalau terlalu banyak kata “saya pikir”, tapi saya semata mencoba menerjemahkan cara khas beliau bersendika-dawuh kepada para santrinya.

Oalahhh, ternyata bisa jauh sekali ya maksud pembaca pertama (penulis, Muchlish) saat ditangkap oleh ribuan pembaca di luar sana, yang mereka semua hanya bisa membaca teks, memahaminya, lalu menyimpulkannya (proses verstehen, understanding, lalu interpretasi).

Ada yang menyimpulkan puisi itu tentang sucinya ruhani manusia di lingkungan apa pun, atau agungnya kuasa Tuhan layaknya Jalaluddin Rumi, atau puncak mistik Islam yang steril dari unsuri duniawi, atau apa pun yang serba spiritual, sebagaimana sosok Muchlis sendiri yang memang amat tinggi maqam spiritualitasnya.

Pertanyaannya, di antara sesaknya pemaknaan terhadap teks itu, yang manakah yang paling benar? Paling sahih? Paling selaras dan mewakili maksud Muchlis selaku penulisnya?

Ricouer menjawabnya dengan cara begini: “Itulah posisi the act of saying”, yang selalu memproduksi makna yang sangat berlimpah, tak terbatas. Keberlimpahan makna atas pembacaan sebuah teks menunjukkan bahwa cara teks mengungkapkan dirinya kepada pembaca manapun (the act of saying) adalah sebuah event itu, peristiwa hermeneutis, yang menjalinkan kesalingterbukaan antara teks di satu sisi dan pembaca di sisi lain.

Proses “teks membuka diri” dalam menyatakan kandungan maknanya kepada setiap pembacanya (the act of saying) membutuhkan “pembaca yang membuka dirinya” kepada teks, yang kemudian dari event hermeneutis itu, lahirkan produksi-produksi makna.

So, mudah kan dipahami bila penggalan puisi menggetarkan di atas memproduksi makna sedemikian banyaknya, tanpa mampu dibendung oleh siapa pun, termasuk penulisnya sendiri.

Pemikiran hermeneutika Ricoeur ini, buat saya, menjadi sangat berharga untuk kita adopsi dalam menafsirkan teks-teks suci yang kita yakini kebenarannya. Bahwa semua ayat suci yang disampaikan Tuhan melalui nabi-Nya, yang kita terima dalam keadaan fixed by writing itu, adalah sebuah discourse. Semua ayat itu begitu otonom, mandiri, dan membuka diri untuk didialogkan dengan sikap membuka diri setiap kita selalu pembacanya.

Pembacaan dan pemaknaan siapakah yang patut dinyatakan sebagai yang benar dan sahih di hadapan maksud penulisnya (Tuhan) ?

Mari kita coba membuat satu contoh kasus saja.

Kata “qawwamun” dalam ayat “ar-rijalu qawwamuna ‘alan nisa’ bima faddalallahu ba’dhahum ‘ala ba’dhin…” akan disimpulkan sedemikian abreknya oleh kita. Ada yang menafsirkan sebagai “pemimpin laki-laki”, ada pula yang menyatakannya sebagai “penanggungjawab lintas gender”, ada pula bahkan yang menyatakannya sebagai “berdiri, ngadek, ngaceng, dan itu pasti laki-laki dong…”, dll. Apa pun itu, semua produksi makna ini adalah proses penyampaian ayat tersebut kepada setiap pembacanya (the act of saying), sementara sisi maksud penulis-Nya, what is said, begitu otonom dan mandiri dalam teks tersebut.

Lalu, pemaknaan manakah yang benar? Yang murni patriarkis, atau patriarkis setengah hati, atau egaliter murni (bukan patriarkis, bukan matriarkis)?

Nobody may allow to say: “Tafsirku yang benar, tafsir yang lain salah, sesat!”, karena sikap pembaca model begini terlalu lancang mengandaikan dirinya mengambil alih posisi what is said, padahal sejatinya tidaklah berbeda dengan pembaca-pembaca lainnya dalam posisi the act of saying. Penyalahposisian pembaca begini, untuk tidak menyebutnya arogansi manusia mengambil-alih posisi Tuhan, hanya akan mencerabut kandungan event dalam teks, sehingga teks tersempitkan ke arah makna saja, dan menjadi kehilangan otonominya, totalitasnya. Akibatnya, teks menjadi statis, mandeg, dan mati.

Kesadaran event hermeneutis bahwa setiap teks selalu mengalami keterpisahan antara maksud penulis (what is said) dengan pembacaan setiap pembacanya (the act of saying) sangat penting untuk kita pegang agar kita mampu memiliki kelegaan hati untuk menerima pluralisme produksi makna teks suci. Bukankah setiap pembaca selalu berpoisisi untuk terus-menerus memahami maksud penulis, yang tidak terjalin secara langsung, tetapi melalui wujud teks yang fixed by writing itu, sehingga proses terus-menerus itu meniscayakan relativitas hasil pembacaannya? Lalu mengapa songong sekali mengandaikan pembacaan diri sebagai yang benar dan yang lainnya salah?

Warisan hermeneutika Ricoeur tentang peta teks dalam koridor what is said dan the act of saying itu meniscayakan keindahan hidup berdampingan di tengah pluralisme pembaca teks. Bukankah tak ada yang lebih berharga buat kita sebagai manusia kecuali hidup damai dan indah bersama dalam keragamannya?

Hemmm…emang ada sih bagian pemikiran Ricoeur yang kurang saya setujui saat dia menyatakan bahwa agar teks terus terjaga sifat otonomi dan kemandiriannya, maka teks harus dilepaskan dari historisitas penulisnya. Karena, menurut Ricoeur, kalau kita mengaitkan teks dengan historisitas penulisnya, berarti kita mengambalikan teks kepada situasi piskologis dan antropologis penulisnya, yang berarti bahwa teks menjadi tidak lagi otonom dan total atas dirinya sendiri.

Saya kurang setuju untuk bagian ini, karena menurut saya, saat menafsirkan ayat-ayat suci, sungguh sangat penting untuk melibatkan pengetahuan latar psikologis dan antropologis saat disampaikannya ayat-ayat suci itu. Asbabun nuzul dan asbabul wurud tidak bisa dihilangkan dari proses penafsiran ayat-ayat suci, agar teks suci tidak kehilangan konteks historisitasnya. Perkara kemudian setelah melibatkan konteks historisitas itu kita menghasilkan sebuah kesimpulan hermeneutis, maka hasil inilah yang patut kita posisikan secara proporsional dalam peta what is said dan the act of saying tersebut.

Meminjam istilah Muchlis, saya pikir teks suci akan tetap mandiri, otonom, meski diikaitkan dengan konteks historisitasnya. So, meminjam istilah Bush Zhairy Ali, teks dan konteksnya akan selalu include dalam ideologis-futuristiknya…guuhh kahh…apa iiii….

Sumber

Iklan