Budaya Mengantuk untuk SBY



Untuk kesekian kalinya orang nomor satu di jajaran Negara Kesatuan Republik Indonesia kembali menegur audience yang sedang mengikuti ceramah darinya. Tercatat dalam beberapa kegiatan ceramah, Presiden SBY telah memberikan teguran mengantuk kepada beberapa kepala daerah, anggota DPR, Perwira TNI sampai dengan anak-anak. Hal ini menarik untuk disimak bagi kita masyarakat yang sedang dirundung euphoria kebebasan demokrasi.

Beberapa hari yang lalu saya tergelitik dengan berita, bahwa KOMNAS perlindungan anak akan menyurati Presiden RI sehubungan dengan teguran mengantuk yang disampaikan saat pidato pada peringatan Hari Anak Nasional di Taman Mini Indonesia Indah, Rabu, 29 Agustus 2012. Di lain pihak ,fenomena ini menjadi bahan perbincangan dan perdebatan yang menarik untuk dibahas karena SBY sudah berada di ujung masa kepemimpinannya yang semakin dinilai tidak popular.

Menurut pandangan saya, mengantuk saat ceramah sebenarnya lebih kearah BUDAYA bangsa Indonesia. Hal ini mesti kita akui sebuah kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri. Buktinya teguran Presiden cukup merata menyebar di semua tingkat umur dan status social masyarakat. Hal ini erat kaitannya dengan penistaan kodrat manusia yang dikaruniai dua buah telinga dan satu mulut. Sebenarnya , mungkin Tuhan berharap manusia lebih banyak mendengar dan sedikit bicara. Selain itu, kita tidak terbiasa dididik sejak taman kanak-kanak untuk menghormati orang yang sedang berbicara di depan. Jadi kalo ada yang ngomong di depan pasti ada aja suara tawon di ruangan padahal tidak ada sarang tawon. Pernah saya bandingkan sebuah acara formal di Indonesia, Amerika dan Australia. Dalam sebuah lecture di Indonesia, peserta biasanya duduk formal tegak, sopan. Namun saat pembicara berbicara di depan, peserta pada ngobrol seperti suara tawon dan sesekali kepala bermanuver alias ngantuk. Kebalikannya, di kedua negara maju itu mereka duduk lebih rileks cenderung tidak sopan (kaki selonjor, badan nyandar di kursi , bawa makanan dan minuman di ruangan) tapi mereka diam dan tidak ngantuk.. Hayoo sekarang mau pilih mana dunk? Pasti milih duduk sopan tapi memperhatikan dan tidak ngantuk…he..he…Kembali ke akar budaya yang saya sebutkan diatas, maka budaya ngantuk saat ceramah menunjukkan kita tidak terbiasa menghargai pendapat orang lain.

Bila kemudian teguran ngantuk presiden ini menjadi preseden buruk bagi KOMNAS perlindungan anak, kita berharap bukan menjadi pembenaraan dan pelajaran yang tidak baik bagi anak-anak kita. Karena akan sangat merugikan bagi generasi kita, bila mereka mempunyai persepsi yang salah dari tindakan yang diambil KOMNAS perlindungan anak ini. Mereka berpikir ngantuk itu manusiawi jadi yang tidak manusiawi itu yang negur ngantuk. Apa jadinya negara ini ke depan dengan generasi yang selalu ngantuk waktu rapat dan sidang ???

Menyimpulkan apa yang disampaikan di atas, kita berharap bahwa proses menuju sebuah bangsa dan system membutuhkan waktu dan konsistensi. Adapun hobby SBY untuk menegur orang mengantuk agar disikapi dengan cerdas oleh masyarakat kita.

sumber : Budaya mengantuk untuk SBY