Upil dan Kentut


Oleh :Mawinda Edelweiss

Mungkin saya adalah salah satu bagian dari segelintir orang yang menjadi bagian kecil dari kaum minoriti ‘tanpa’ rasa malu. (Atau mungkin biasa disebut “tak tahu malu” oleh sebagian besar orang-orang berideologi terkekang).
Saya menyukai hidup yang ‘bebas’, ‘lepas’, tanpa beban, enjoy, santai, apa adanya.
Oke, ini berhubungan dengan upil dan kentut.
Saya orangnya kalau mau ngupil ya ngupil, pengen kentut ya kentut. (Ini terlepas dari konteks apa pun ya)

Apa kalian pikir ini jorok? Sampai mana tolak ukur kalian untuk kata jorok itu sendiri? Bagi saya ini justru bersih. Ngupil itu artinya membersihkan kotoran di hidung. Dan kentut berarti mengeluarkan segala racun serta penyakit di dalam tubuh, pembersihan demi kesehatan.

Malu? Akh, kata malu itu sebenarnya hanya bentukan dari dekadensi konstruk budaya yang biasa kita sebut ‘gengsi’ kok. Tergantung konteks upil dan kentut apa dan bagaimananya dulu.
Masalah adab dan tatakrama? Aih, itu beda konteks dan perkara.
Lagipula, ngupil dan ngentut itu sebenarnya bentukan rasa bersyukur. Bersyukur hidungnya masih normal menyaring debu menjadi kotoran upil, bersyukur perutnya masih menyaring racun menjadi gas kotor yang bisa dengan mudah dikeluarkan tanpa kendala. Masih bersyukur punya hidung dan perut yang normal, bukan?

Masih banyak saudara-saudara lain yang kurang beruntung tidak punya pernafasan dan konstruk cerna yang normal. Beberapa diantara mereka untuk kentutpun harus operasi kan?
Selalu ada makna dari setiap hal yang Tuhan anugerahkan. Jadi upil dan kentut itu salah satu bukti kasih sayangNya.

*NB:
Kebiasaan ngupil saya: pas masih kecil upilnya ditempel di baju, sekarang udah gede upilnya ditempel di tembok (ini tidak penting)

Sumber