Fenomena Perkembangan Seni di Kecamatan Cepu


Oleh :Semesta Rayya Hoed (el-Hoed)

Sebagai Kota kecil yang sedang berkembang, Cepu banyak disinggahi dan juga menjadi tujuan manusia dari berbagai daerah. Maka sudah tentu berbagai budaya dan juga adat istiadat yang berkembang menjadi sangat heterogen.
Seiring berkembangnya waktu dan juga pesatnya laju pembangunan di Kota Cepu, terasa ada yang sangat pincang dan janggal. Melihat perkembangan fisik pembangunan yang sangat cepat, maka perkembangan seni di Kota Cepu ini sangat jauh tertinggal. Padahal cermin dari kota yang maju peradabannya adalah berkembangnya seni dan budaya secara masif di tengah masyarakat. Agar kegiatan seni dan budaya dapat berkembang maka sangat di perlukan sekali. Agenda kesenian yang rutin diadakan dan terjadwal secara teratur. Dengan diselenggarakannya kegiatan seni secara konsisten dan teratur, maka diharapkan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku ataupun penikmat seni di daerah Cepu. Daya tarik tersebut dapat menimbulkan semangat bagi para pelaku seni untuk kembali menjalani proses kreatif yang selama ini mandeg, karena tak ada wadah atau media untuk mengekspresikan diri.

Dukungan pemerintah dan perusahaan swasta yang ada di Cepu terhadap kegiatan seni dan budaya sangat diperlukan sekali untuk merealisasikan kegiatan ini. Meskipun sangat diperlukan namun harapan penulis agar dukungan yang diberikan terhadap kegiatan berkesenian ini terbebas dari kepentingan politik, ekonomi, dari pihak yang bersangkutan. Proses berkesenian hendaknya tetap madhep manteb mesanggrah jalur seni itu sendiri, bukan seni untuk memenuhi selera kekuasaan atau pemodal. Hal ini perlu dipertimbangkan agar gerak dari sebuah gerakan kesenian adalah murni untuk pengembangan kesenian bukan bertujuan untuk mencari muka atau menjadi pahlawan kesiangan dihadapan atasan atau pemegang tampuk kekuasaan. Seni adalah bentuk kekuasaan apabila para pelaku bisa menguasai dirinya untuk tidak dikuasai oleh kepentingan diluar kuasa seni itu sendiri. Hak kreatif seniman dalam hal ini tidak ditentukan oleh kebijakan-kekuasaan dan pemilik modal, pemegang kekuasaan disini hanya berposisi sebagai pihak yang berkewajiban mengayomi kegiatan seni bukan mengarahkan atau membatasi hak kreatif seniman.
Dalam hubungan ini terdapat dua dimensi konsep mengenai campur tangan kekuasaan yang dimainkan oleh negara dalam bidang kesenian, yaitu: konsep penguasa (pejabat pemerintahan dan pemilik modal) sebagai pengayom dan perusak kesenian.

Pertama, konsep negara sebagai pengayom kesenian dikemukakan oleh Clara van Groenendael (1987). Contohnya ketika Majend Surono menjabat Pangdam VII Diponegoro (kepanjangan negara) mendirikan organisasi Ganasidi, dengan tujuan melindungi para dalang di bawah bayang-bayang korban G/30/S PKI. Organisasi Ganasidi jelas bermuatan politik, tetapi dinyatakan Pak Surono di berbagai kesempatan bahwa organisasi tersebut sangat mengharapkan akan peningkatan kualitas seni pedalangan. Hasilnya dapat dilihat, yakni di samping para dalang bisa saling menimba ilmu untuk meningkatkan daya kreatifnya, mereka merasa kopen (dihidupi) oleh negara. Jadi, konsep negara sebagai pengayom itu bersifat membangun (building), yaitu membangun kreatifitas berkesenian.
Kedua, konsep negara sebagai perusak kesenian dinyatakan oleh Jennifer Lindsay (1995), dapat ditunjukkan pada kebijakan kultural di Asia Tenggara, yang secara efektif mengubah dan merusak seni pertunjukan, baik melalui campur tangan, penanganan yang berlebihan, kebijakan tanpa arah, maupun bentuk pengabaian. Selain itu yang terpenting tidak ada perhatian yang diberikan kepada hubungan simbiosis antara kebijakan kultural dengan konteks kultural karena kepentingan rakyat dikalahkan oleh kepentingan pemerintah. Lindsay tak berani memberi contoh secara jelas jenis kesenian apa saja yang dirusak negara, mengingat begitu amat represifnya penguasa Orde Baru tahun 1990-an. Tetapi konsep negara sebagai perusak itu jelas bersifat menghancurkan (destroying), yaitu menghancurkan kreatifitas berkesenian.
Melalui tulisan ini, khalayak umum diharapkan dapat terlibat dalam proses refleksi serta upaya pengembangan diskursus seni budaya sebagai wahana pembelajaran dan pengembangan kesadaran dalam kehidupan sehari-hari.
Terima kasih.

Iklan