Nasionalisme dari Secangkir Kopi


Cita rasa secangkir kopi tak hanya berhenti di lidah Odi Anindito. Dari lidah, cita rasa kopi merasuk menjadi semangat berwirausaha, bahkan menjadi gerakan sosial untuk mengangkat martabat kopi Indonesia.

Oleh : Herpin Dewanto

Berkat kopi, Odi menjadi pengusaha muda yang sukses melalui kedai ”Coffee Toffee” yang dirintisnya sejak tahun 2006. Bermula dari sebuah stan kopi sederhana, ia kini memiliki 120 kedai kopi yang tersebar di 25 kota, senilai Rp 8 miliar. Ia juga mempekerjakan sekitar 500 karyawan.
Kesuksesan juga mengantar Odi menjadi salah satu pakar kopi di Indonesia. Tahun 2011 ia menjadi juri ajang ”Indonesia Barista Competition” bersama juri lainnya di antaranya dari Italia, Singapura, dan Malaysia.
”Padahal enam tahun lalu saya sekadar penikmat kopi. Saya buta sama sekali soal bisnis kopi, apalagi meracik kopi,” kata Odi saat ditemui di Surabaya.
Ia baru tertarik menikmati kopi sejak kuliah pada Jurusan Informatika, Institut Sepuluh Nopember Surabaya, sekitar tahun 1998. Odi sempat cuti satu semester dan mengambil kuliah pendek pada jurusan usaha kecil dan pemasaran di Swinburne University, Melbourne, Australia.
Selama tinggal di Australia, Odi bekerja paruh waktu di kedai kopi kecil. Awalnya ia hanya menjadi penerima pesanan, lalu dipercaya ikut meracik kopi.
Kedai kopi kecil di Australia itulah yang membuka mata Odi tentang ironi kopi Indonesia. Ternyata dari 30 jenis kopi yang ditawarkan di kedai itu, sebanyak 12 jenis di antaranya adalah kopi Indonesia.
”Ini tidak beres, kenapa saya harus minum dan belajar tentang kopi Indonesia dari orang asing dan di negeri orang lain pula?” katanya.
Pengalaman bekerja di kedai kopi itu, makin mendorong semangatnya mengangkat kebanggaan terhadap kopi Indonesia yang kualitasnya diakui dunia. Dengan pengetahuan tentang kopi yang minim, Odi memulai perjuangan lewat survei pada 2005.
Awalnya ia tertarik membeli waralaba kedai kopi yang sudah mapan. Namun rencananya gagal karena modal yang dibutuhkan lebih Rp 1 miliar. Bagi seorang mahasiswa yang baru lulus, hal itu memberatkan.
Odi lalu memutuskan membuka usaha sendiri bermodal awal Rp 5 juta, tabungan dari usaha pembuatan sistem perangkat lunak yang ia jalankan selama dua tahun.
”Saya tidak mau pakai duit orangtua, jadi saya cari tambahan dengan pinjam kepada teman-teman. Saya dapat modal lagi Rp 40 juta,” ceritanya.

Iklan baris
Modal tersedia tetapi Odi masih punya tantangan besar, yaitu menyiapkan bahan baku. Sebagai pemain baru di bisnis kopi, ia tidak tahu di mana dan jenis kopi apa yang perlu dibeli.
Mulailah ia membuat iklan baris di surat kabar yang isinya dibutuhkan pemasok kopi untuk sebuah kedai. Para pemasok kopi yang datang pun heran mendapati pengusaha kedai kopi yang tak tahu kopi. Odi justru meminta saran dari mereka.
”Saya masih bodoh waktu itu dan harus berani mengakui kalau bodoh, yang penting kita mau belajar,” katanya.
Dari para pemasok kopi itu, Odi disarankan membeli jenis campuran antara kopi arabika dari Toraja dan robusta dari Jawa. Kopi jenis ini menjadi dasar berbagai minuman kopi yang banyak dijual di pasaran.
Namun masalah baru muncul karena sebagian besar pemasok kopi rata-rata menjual dagangannya untuk ekspor, bukan eceran. Pemasok minta pesanan minimal 6,6 ton. Padahal Odi hanya membutuhkan kopi untuk dua kios kecil. Keuletannya melobi para pemasok kopi berhasil, ia bisa membeli kopi hanya 200 kilogram.
Tahun 2006 Odi dibantu istrinya, Rakhma Sinseria mendirikan kios ”Coffee Toffee” untuk pertama kali di Surabaya. Konsepnya sederhana, menggunakan gerobak yang didesain menarik. Nama Coffee Toffee yang dia pilih pun tanpa arti khusus, hanya nama yang enak dilafalkan.
Dalam enam bulan pertama, usahanya sukses. Dengan keuntungan yang diperoleh, ia tertarik berinvestasi dalam usaha lain seperti jual beli kayu, tambak ikan, cuci mobil, dan salon kecantikan. Pada 2008 ia memiliki 10 usaha di luar Coffee Toffee. Nama Odi mulai dikenal sebagai wira usaha muda dan sosoknya muncul dalam beberapa majalah bisnis.
Namun pada tahun itu pula, ia bangkrut karena ditipu makelar kayu. Coffee Toffee juga ditinggalkan pelanggan karena (setelah dievaluasi) usahanya itu menerapkan konsep, penetapan harga, dan penentuan lokasi yang keliru. Seluruh usaha Odi yang sistem keuangannya belum dikelola baik, hancur berantakan.
”Saya mencoba bangkit dan fokus pada satu usaha, kopi,” katanya. Tahun 2009 ia bertemu investor yang pernah membaca profil Odi di majalah. Investor itu meminta Odi menjalankan bisnis makanan sekaligus memberinya modal membuka kembali Coffee Toffee di Jakarta. Dalam waktu singkat, lima gerai kopi berkonsep mini bar dan berlokasi di mal dibuka.
Belajar dari pengalaman pahit dan tekun bereksperimen, membuat resep-resep minuman kopi di Coffee Toffee menjadi daya tarik baru. Sejak tahun 2010 Coffee Toffee dirintis menjadi usaha wara laba dan menyebar ke berbagai kota.

Serba lokal
Odi tetap mempertahankan misinya mengangkat martabat kopi Indonesia. Ia mengklaim 97 persen bahan baku dan peralatan yang digunakan produk Indonesia. Selain kopi Toraja dan Jawa, kopi yang dia pakai berasal dari Gayo dan Lintong (Sumatera) serta Bali. Kopi-kopi dari daerah timur seperti Flores juga diliriknya.
Ia juga menggandeng usaha kecil pembuatan keramik di Malang, Jawa Timur, sebagai penyedia cangkir kopi untuk semua kedainya. Ia mengaku sempat sewot ketika ada karyawan yang usul mengganti cangkir buatan Malang dengan buatan China yang lebih murah dan presisi.
Semangat mencintai produk lokal ini Odi tularkan kepada pelanggan dan masyarakat. Upaya yang dia lakukan dengan memopulerkan slogan ”Yes, I drink Indonesian Coffee (Ya, saya minum kopi Indonesia)” dan merilis hari kopi nasional pada 11 November 2011.

***

BIODATA :
Nama : Odi Anindito
Lahir: Surabaya, Jawa Timur, 21 November 1979
Istri: Rakhma Sinseria (32)
Anak:

Dewandra Hanin (5)
Kailendra Hanin (9 bulan)

Pendidikan:

SMPN 6 Surabaya
SMAN 2 Surabaya
Jurusan Informatika ITS Surabaya

Pencapaian:

Penghargaan Indonesian Small & Medium Business Entrepreneur (ISMBEA) 2008
Penghargaan bidang konsep bisnis terbaik Indonesia Franchise Award 2009
Juri kopi nasional Indonesia Barista Competition 2011
Juara pertama Wirausaha Muda Mandiri 2011

Sumber : kompas cetak