Kedatuan Luwu, Sejarah yang Terlupakan


Oleh :Indra Sastrawat
13649645931032713328
a
Istana Kedatuan Luwu di Palopo dengan ciri khas Eropa, istana aslinya hancur oleh serbuan Belanda (galerypalopo@blogspot.com)

Dr. Cyril Hromnik seorang sejarawan Amerika yang meneliti sejarah Afrika Selatan dalam buku yang ditulisnya tahun 1982 menyatakan bahwa pada abad I sampai X orang-orang Indonesia dari suatu kerajaan tertua di Sulawesi Selatan (The ancient state) membawa buruh ke Afrika Selatan untuk dipekerjakan diperusahaan tambang emas. Sebagian dari mereka terdampar di Madagaskar dan membentuk koloni disana. Para ahli sepakat mengatakan bahwa kerajaan tertua itu adalah Luwu. Dan bisa dimaklumi jika secara fisik orang-orang Madagaskar berbeda dengan orang Afrika pada umumnya, mereka lebih condong berkulit sawo matang, kurus, tidak berambut keriting dan berperawakan lebih pendek.

Luwu oleh banyak orang di Sulawesi Selatan & Barat dianggap sebagai kerajaan tertua dan merupakan cikal bakal raja-raja di sebagian besar Sulawesi. Raja dan bangsawan dari daerah ini mendapat penghargaan sosial dari masyarakat. Dalam salah satu lontara Gowa disebutkan ” Keberanian ada di Gowa, kepandaian ada di Bone dan kemuliaan ada di Luwu”, suatu wujud pengakuan terhadap Luwu, Bone dan Gowa (Tiga kerajaan utama di Sulawesi Selatan).

Bicara tentang Luwu tidak bisa lepas dari kitab La Galigo, suatu kitab epos terpanjang didunia. Keindahan tema dan susunan bahasa naskah La Galigo dapat disejajarkan sebagai salah satu karya agung dunia. Seperti naskah ilyad & Odessye karya Homerus dari kebudayaan Yunani maupun Mahabarata karya Vyasa dan Ramayana karya Valmiki dari kebudayaan India. Bahkan dibanding ketiga epos tersebut La Galigo merupakan yang terpanjang. Hal ini menggambarkan bahwa orang-orang Luwu dahulu kala jauh sebelum kedatangan Islam telah memiliki budaya menulis dan membaca.
136496542783836885
b
Pentas Kolosal Epos Lagaligo, pernah dipentaskan di kota besar dunia seperti Paris dan Barcelona (makassar.tribunnesw.com)

Yang menarik dalam naskah La Galigo disebutkan kedatuan Luwu mempunyai hubungan kerabat dengan raja-raja di Nusantara, seperti Gowa, Bone, Toraja, Mandar, Wajo, Tanete, Konawe (kendari), Mengkoka (kolaka), Muna, Buton, Sumawa (Gorontalo), Donggala, Palu, Luwuk Banggai. Bahkan menurut Dr. Chamber Loir dari Prancis silsilah raja-raja Bima di Nusa Tenggara dikaitkan dengan silsilah raja-raja Luwu di dalam kitab La Galigo. Maka tidak berlebihan jika dikatakan sebagian besar Sulawesi pernah diperintah oleh Baginda Batara Guru (Datu Luwu) dan keturunannya.

Dalam naskah Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1365, terdapat keterangan tentang pelayaran ekspedisi Majapahit mengunjungi Bantaeng, Luwuk dan Uda. Luwuk dalam tulisan prapanca itu kemungkinan besar adalah kedatuaan Luwu yang berpusat di teluk Bone. Bahkan berdasarkan peninggalan sejarah diwilayah Palu, Poso, Luwuk Banggai hingga Tojo (Manado) merupakan wilayah pengaruh kekuasaan Luwu hingga awal abad 20.

Tampaknya ekspedisi itu tidak melakukan perang penaklukan di Bantaeng dan Luwu dan kerajaan lain di Sulawesi. Kemungkinan kedatangan Majapahit terkait dengan keberadaan Besi di tana Luwu, pamor Biji besi Luwu sangat terkenal di Nusantara. Besi ini ditempa menjadi keris atau badik yang sangat ampuh. Majapahit membutuhkan besi dalam jumlah banyak disamping kualitasnya yang dahsyat untuk mendukung ekspedisi Sumpah Palapa. Dalam perkembangan terkini di Luwu Sekarang terdapat perusahaan tambang nikel terbesar di Asia Tenggara PT. Inco Soroako.

Dalam literatur sejarah Majapahit, ada disebut seorang bernama Mpu Luwu’ yang dikenal sebagai pandai besi/pembuat keris sakti terhebat. Konon nama Sulawesi merupakan pecahan dua kata yaitu Sula (Pulau) dan Bessi (Besi), ini karena sejak dahulu pulau ini dikenal sebagai penghasil besi terbaik terutama di daerah Luwu sekitar danau Matano. Di Sulawesi sendiri, Luwu dikenal memiliki keris/badik dengan kualitas terbaik.
c

Raja Ali Haji penyair hebat Melayu, di darahnya menetes DNA Wija to Luwu (Orang Luwu) (Gambar:wisatamelayu.com)

Generasi Luwu dikemudian hari melahirkan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam sejarah Indonesia dan Malaysia. Opu Lima yaitu pangeran dari tanah Luwu pernah menjadi pewaris tahta di semenanjung Melayu, keturunan mereka bertahta di Selangor, Kedah, Malaka, Johor dll. Di Kalimantan pewaris Opu Lima memegang kuasa di kerajaan Mempawah, selain itu generasi Opu Lima juga menjadi pewaris di kepulauan Riau, salah satu keturunan di Kepulauan Riau adalah Raja Haji Fisabilillah, namanya diabadikan sebagai nama bandara Internasional. Cucu Raja Haji Fisabilillah yaitu Raja Ali Haji adalah pengarang Gurindam 12, cikal bakal Bahasa Indonesia modern. Tidak banyak yang tahu jika Sultan Hamid II pembuat lambang negara adalah keturunan dari Opu Lima dari kesultanan Kadriyah di Pontianak.

Kedatuaan Luwu menjadi sebuah kerajaan superior sampai abad 15 sebelum Gowa dan Bone berkembang menjadi kerajaan yang kuat yang saling berebut pengaruh, yang kemudian berujung dengan terjadinya perang Sultan Hasanuddin melawan Aru Palaka. Beberapa kerajaan Bugis di jazirah selatan sedikit demi sedkit melepaskan pengaruhnya dari Luwu, walau Luwu tetap dihormati sebagai kerajaan tertua.

Bahkan sejak kedatangan Belanda dan adanya perjanjian Bungaya pengaruh kedatuan Luwu menjadi kecil sampai pengaruh itu benar-benar dihapuskan pada tahun 1907 ketika kota Palopo ibukota kedatuan Luwu jatuh ketangan Belanda. Sejak itu pengaruh Luwu atas Palu dan sebagian Sulawesi Utara menjadi hilang, oleh Belanda daerah Poso dan Pitumpanua di Wajo tidak lagi masih dalam wilayah Luwu Raya. Walau Luwu Raya tetap mempunyai wilayah yang luas meliputi Luwu, Toraja dan Kolaka (Sultra).

Masa kini, Luwu telah menjelma menjadi banyak daerah kabupaten, namun kota Palopo tetap sebagai pusat dari peradaban Luwu. Kota ini menjadi barometer perkembangan pembangunan di suatu bentang wilayah yang pernah tercatat dalam sejarah emas bernama Kedatuan Luwu.

Sumber : Sumber