Bayang Antagonis


Oleh : Diandra
vc
Aku tersentak bangun tiba-tiba, entah karena apa. Tidak ada suara atau cahaya menyilaukan yang mengganggu tidurku. Segalanya masih seperti saat aku jatuh terlelap. Dilayar komputerku segerombolan ikan screensaver berseliweran, sementara musik masih mengalun dari spiker winamp-ku. Tapi ada sesuatu yang aneh. Sekarang pukul tiga dini hari dan diruang kerjaku ada seorang lelaki asing.

Ia tersenyum kepadaku, senyum sinis yang membuat paras tampannya terlihat keras dan gersang.

“Akhirnya kau bangun juga, pemalas. Mimpi indah?” tanyanya.

“Anda siapa?”

“Kau selalu begini. Apa begini caranya kau mendapatkan ide untuk cerita-ceritamu? bermimpi?” suara baritonnya yang ditekan membuat nyaliku semakin ciut.

“Apa maksud anda? Dan untuk apa anda kemari malam-malam begini?” Nada suaraku meninggi saat ia berjalan semakin dekat ke arahku. Tapi ia hanya tertawa kecil sambil melipat kedua lengannya.

Ia membungkuk dihadapan komputerku. Wangi parfumnya menyesaki nafasku.

“Secepat itu kau lupakan aku?” tanyanya dengan ekspresi mengolok. “Apa karena sudah begitu banyak Eza-Eza yang lain setelah aku?”

Jawabannya membuatku tertegun. Aku yakin aku sama sekali tidak mengenal lelaki itu. Kalau aku sempat berjumpa atau bahkan terlibat intim dengannya, lelaki setampan itu, mustahil aku bisa melupakannya. Aku coba mengingat kapan, dimana, dan terutama siapa. Tapi yang kutemukan tetap kepastian kalau baru sekali inilah aku bertemu dengannya.

“Maaf, ujarku kaku. “Mungkin anda salah. Tapi saya yakin kita belum pernah bertemu sebelumnya”.

Sekali lagi ia pura-pura terkejut. “Kau benar-benar sudah lupa? kita pernah menghabiskan waktu disini berhari-hari di bulan Juni tahun lalu, ingat?”

Aku tersentak. Ia jadi semakin ngawur. Sekali ini aku yakin sekali ia berdusta karena aku ingat tahun lalu aku mengurung diri dalam rumah sepanjang bulan juni, sibuk merampungkan novel sambungan dari novelku yang best-seller.

“Itu tidak mungkin!” protesku. “Saya tidak pernah menghianati…”

Kalimatku terpotong oleh tawanya yang lantang. “Kau? punya affair denganku? Jangan mimpi! Kau tidak pantas denganku. Kau membuatku begitu, ingat?”

Kata-katanya makin membingunkanku. “Saya tidak mngerti. Maksud anda…?”

“Maksudku.” Ia mencondongkan tubuhnya kearahku hingga aku merasakan hembusan nafasnya ke wajahku. Matanya sangat dingin dan penuh kelicikan.

“…..Kau yang telah menciptakan karakterku, kau yang menentukan bagaimana aku berpikir, bagaimana aku bicara, bertingkah…kau yang menciptakan aku, Eza, tokoh antagonis utama dalam novel threelermu.”

Aku terbelalak. Eza? samar-samar aku mulai mengingat. Dan saat detil demi detil kembali kedalam benakku, aku merasakan ketakutan lambat laun merayapi diriku. Apa yang sebenarnya tengah terjadi? lelaki didepanku itu, dia bukanlah menusia yang derdiri atas darah dan daging. Ia kubangun dari angan-angan.

Seorang lelaki tampan yang haus uang dan kekuasaan, yang sanggup melakukan hal ternista sekalipun untuk meraih keinginannya, yang murka dan dendamnya tak terbendungkan, culas, bengis…typikal tokoh antagonis yang kucipta di novelku. Wajahnya persis seperti yang kubayangkan, suaranya yang berat, sorot matanya yang liar dan kejam, bahkan senyumnya yang sardonis semua adalah perwujudan dari imajinasiku. Tapi, bagaimana mungkin?

“Mau apa kau kesini? desisku.

“Nah bagus! akhirnya kita bisa bicara blak-blakan tanpa formalitas basa-basi.” Ia tersenyum sambil menghempaskan diri di kursi empukku. Menyilangkan kakinya dan meraih sebatang rokok dari dalam tas tangannya, tepat seperti yang kugambarkan saat Eza membicarakan sebuah rencana jahat dengan Thomas, Aku bergidik.

“Aku ingin berubah. Aku tidak ingin menjadi inspirasi jahat bagi pembaca novelmu.” katanya kemudian.

“What? Novel lanjutan ini sudah hampir jadi, dan yang kemarin sudah cetak ulang beberapa kali. Mereka sangat menyukai kisahnya.” Jawabku

“Kau sadar kau telah menjadikanku mesin, bukan manusia. Mesin yang bertenaga benci dan menghasilkan hanya kehancuran. Manusia tidak seperti itu, aku tahu mereka tidak selamanya dingin dan culas, dan mereka bisa berubah.”

“Kenapa kau ambil pusing dengan semua itu?” teriakku. “Kau tidak seharusnya peduli, diluar sana banyak orang seperti kau. Serakah, licik, dan kejam. Kau tidak pernah menjadi orang luar biasa, karena kau sejak awal seperti banyak orang lain yang punya sifat persis sepertimu.”

“Apa dunia ini masih butuh lebih banyak lagi orang seperti aku? apa kau sadar dengan terus membiarkan aku begini kau mempengaruhi orang untuk menjadi seperti aku?”

Aku tertawa. “Nonsens, Eza. Kau hanya hiburan bagi mereka. Mereka tidak pernah menganggapmu lebih dari sekedar ilusi. Kau terlalu membesar-besarkan pengaruhmu terhadap para pembaca.”

“Kalau mereka menganggapku ilusi, mereka tidak akan menghiraukan dan tak seorangpun akan membaca novelmu,” kilahnya pedas.

“Ini sudah genreku. Kamu tahu Agatha Christy, Sydney Shieldon? aku hampir seterkenal mereka dari cerita intrik seperti ini. Kamu mau namaku tenggelam dengan tulisan tak laku?”

“Jadi itu yang membuatmu khawatir? ambisi menjadi orang besar tak tercapai?”bentaknya. “Dan tetap menciptakan tokoh-tokoh sepertiku?”

“Tokoh seperti kamulah yang membuat cerita menjadi hidup. Bisa mengaduk-aduk perasaan pembaca” lanjutku.” Dan akulah tuhan dalam fiksiku, tak ada orang lain yang berhak menginterfensi karyaku.”

“Aku tidak sedang bicara bagaimana menggurui orang lain. Aku berpikir bagaimana caranya agar orang-orang itu tidak hanya terpaku pada mimpi, tapi sebaliknya bisa melihat hidupnya dengan kacamata baru. Bisa bersyukur dengan yang dipunyainya. Bisa merasa hidupnya berarti.” ucapnya.

Aku tercenung. Tokoh yang kuciptakan sadis ini ternyata juga punya hati.

“Aku tidak ingin karakterku menyusup ke otak pembaca novelmu. Di negeri ini sudah terlalu banyak sosok seperti aku, yang culas, bengis, kejam. Yang dibutuhkan pembacamu adalah pencerahan, bukan hanya semata hiburan.” lanjutnya.

“Pencerahan? aku bukan suster, bukan pula biarawati. Aku tidak mau mengambil alih lahan mereka?” bantahku. “Hidupku juga masih gelap.”

Dia mendekatiku. Lebih dekat lagi. Hidungnya hampir menyentuh wajahku.

“Jika hidupmu gelap, carilah cahaya!, jangan kau sebarkan kegelapanmu kepada orang lain.” bisiknya. “Hentikan novelmu segera, ubah karakterku! Aku sudah terlalu muak melakukan intrik-intrik yang kau ciptakan.”

Aku tidak bisa. Aku harus hidup.” sanggahku.

“Kau hidup dari meracuni pikiran orang banyak. Kau tak ubahnya seperti Mawar yang pantas untuk dibunuh.” bentakmu sembari mengambil pisau lipat dari saku celananya.

Aku bergidik. Teringat Mawar dalam cerita novelku yang terbunuh karena tak mengikuti perintah Eza. Keringatku mengucur deras. Ingin aku berteriak. Tapi mulutku serasa terkunci.

Tangan Eza semakin mendekat, mata liarnya kembali menyala. Aku terdesak ditembok dekat jendela. Mencoba memutar otak untuk keluar dari situasi ini. Namun Eza sudah semakin merapat. Menempelkan sisi pisau itu tepat dileherku. Aku pasrah. Menutup mata, dan…

Blug!

Kudapati tubuhku terjatuh dari kursi tempatku tertidur.

Kulihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa, hanya layar komputer yang masih menyala dengan tulisan novelku yang hampir rampung. Kukucek mataku dan kubaca tulisan yang kuketik semalam. Kutercenung beberapa saat, kulihat lagi wajah Eza.

Do you want to save the change you made to episode 13.doc?

Kugerakkan mouse dan kuklik “No“

Sumber