Setangkai Bunga untuk Kopassus


13652170741184011886_300x261.82987848463
Oleh : Tengku Bimtang
Opini masyarakat terbagi dalam dua kelompok besar menyikapi aksi dramatis Prajurit Kopassus di LP Cebongan. Ada yang mencela, tapi tidak sedikit yang mendukung. Yang mencela tentulah mereka yang belum pernah menjadi korban kebrutalan premanisme, sedangkan yang mendukung adalah mereka yang sudah muak dengan maraknya tindak kriminal dan lemahnya penegakan hukum di negara auto pilot ini.

Para pemimpin tentara berlomba-lomba menyatakan bertanggungjawab, mulai dari Danjen Kopassus yang berbintang dua sampai Pangdam IV/Diponegoro yang bergaya Nagabonar. Tetapi hanya sebatas tanggungjawab, bukan tanggungbadan. Yang bertanggungbadan tetaplah 11 orang Prajurit Kopassus. Kecuali Presiden SBY tidak ikut bertanggungjawab, apalagi tanggungbadan. Meskipun beliau adalah Panglima Tertinggi TNI tanggungannya cuma sampai tahap prihatin, syukur-syukur tidak melenceng menjadi pencitraan. SBY, gitu, loh!

Yang jelas semua opini menuju titik yang sama, yakni proses hukum. Bahwa 11 orang prajurit itu mesti dihadapkan ke sidang pengadilan, karena mereka adalah ‘oknum’ prajurit yang telah merusak nama besar Kopassus dengan melecehkan wibawa negara. Bahwa mereka mesti dihukum seberat-beratnya – jika perlu dengan hukuman mati. Seolah-olah 11 Prajurit Kopassus itu adalah musuh peradaban, sampah belatung tak berguna.

Kecuali bagi kami sekelompok kecil warga masyarakat di Pedalaman Sumatera yang mengikuti pemberitaan ini melalui media massa. Kami yang sudah muak berhadapan dengan bandit-bandit tengik dan gagal berharap tindakan tegas kepolisian, menyambut aksi 11 orang Prajurit Kopassus itu dengan ucapan terimakasih, salam hormat, diiring setangkai bunga sebagai tanda hangatnya jiwa. Syukurlah, masih ada sekelompok orang yang mampu menegur leletnya penegakan hukum di negara ini.

Kami setuju 11 orang itu diajukan ke pengadilan, terserah mau pengadilan militer atau pengadilan sipil atau pengadilan internasional sekalipun! Tetapi bukan untuk dihinakan, melainkan untuk dimuliakan. Sebab mereka bukan oknum, melainkan prajurit murni, teladan, kekuatan inti Kopassus. Mereka inilah tentara sebenar-benar tentara, yang tampil memulihkan martabat Kopassus dari pelecehan tak tertahankan. Bagi bangsa dan negara, mereka ini adalah tonggak penanda bahwa negara ini belum sepenuhnya dikuasai oleh mafia dan premanisme. Masih ada harapan…., masih ada harapan….. Mereka adalah Prajurit Kebenaran.

Peduli setan dengan tetek-bengek hukum sebagaimana politisi dan aktifis LSM berkoar. Peduli setan dengan KPK, BNN, Densus-88. Institusi ini telah dicemari oleh kepentingan politik yang semakin menjauhkan keadilan dari penerapan hukum. Politisasi dan praktek jual-beli hukum bukan barang langka dewasa ini. Lebih-lebih tingkah memuakkan aktifis LSM yang mondar-mandir memilih kasus sesuai pesanan majikannya di luar negeri. Semua itu jelas terbaca.

Yang jelas, marwah keadilan berkata nyawa dibayar nyawa. Apapun aktifitas Almarhum Serka Santoso pada malam kejadian, faktanya ia dibunuh. Ia tidak bersalah, tapi ia dibunuh. Sedangkan pembunuhnya, mereka terbunuh karena mereka telah melakukan pembunuhan sebelumnya. Supaya adil, seharusnya para pembunuh itu dibunuh dua kali. Setelah tewas ditembak mati, berikutnya digantung lagi. Itu baru impas!

Itulah yang dilakukan oleh teman-teman Santoso, menuntut balas secara tunai. Dari tujuh pelaku, empat orang telah melunasi hutangnya, sedangkan 3 orang lagi masih bebas berkeliaran. Saat ini yang tiga orang itu sedang membualkan kehebatannya kepada warga kampungnya bahwa mereka telah membantai seorang tentara canggih, karena itu mereka semakin ditakuti. Adalah sangat penting untuk menghentikan bualan itu dengan tangan Prajurit Kopassus sendiri, bukan tangan yang lain!

Isteri Santoso dengan isteri Munir, Suciwati, meskipun sama-sama bernasib malang tetapi kapasitasnya berbeda. Suciwati, selaku tokoh HAM, selama ini selalu berjuang untuk melindungi hak azasi orang yang telah membunuh suaminya. Suciwati selalu berpesan agar orang yang menumpahkan racun di piring suaminya jangan disalahkan. Yang disalahkan adalah orang lain di atas sana, entah siapa, yang belum tentu memberi perintah. Memerintahkan pun, kejahatan itu takkan pernah terjadi jika pelakunya berpikir waras. Yang paling bersalah adalah siapa yang melakukan!

Ah…, peduli setan dengan penulis sok moralis di Kompasiana ini!

Selamat Ulangtahun: Kopassus!

sumber