PENTINGNYA KESEIMBANGAN KOMUNIKASI


oleh : Imam Andi Bastian
komunikasi1

seimbang” dalam konteks rasa (bahkan konteks kehidupan lain) tidak harus selalu dalam pembagian 50:50 (fifty-fifty), namun sesuai porsinya saja. Karena bisa jadi pada situasi tertentu seseorang harus mengemban beban 70 sedangkan pihak lain kemampuan maksimalnya cuma 30.

Artikel ini ditulis sebagai bentuk protes terhadap terjadinya ketidakseimbangan. Dimana suatu pihak merasa serba “paling” dibandingkan pihak lain. “Merasa” disitu biasanya disebabkan karena pihak tersebut memang benar-benar “paling” atau hanya karena sikap berlebihan (lebay) saja.

“Paling” yang dimaksud bisa jadi berupa :

Paling menderita

Paling miskin

Paling sibuk

Paling harus selalu dimengerti

Paling pusing

Paling tidak bisa

Paling bisa

Paling salah

Paling benar

Paling mengerti

Paling memiliki

Dan berbagai bentuk rasa berlebihan lain

Secara teori, efek buruk dari selalu merasa “paling” tersebut dapat diobati oleh dua hal, yaitu : saling mengerti dan rasa saling memiliki. Secara praktik, efek tersebut dapat benar-benar hilang jika “saling mengerti” dan “saling memiliki” dapat diemban oleh kedua pihak dengan baik dan seimbang.

===================================================

“seimbang” dalam konteks rasa (bahkan konteks kehidupan lain) tidak harus selalu dalam pembagian 50:50 (fifty-fifty), namun sesuai porsinya saja. Karena bisa jadi pada situasi tertentu seseorang harus mengemban beban 70 sedangkan pihak lain kemampuan maksimalnya cuma 30.

Sebagai contoh, seorang ayah dan anaknya yang berumur 5 tahun pergi ke pasar membeli 10 buah kelapa. Disituasi ini tentu keseimbangan tidak tercipta jika harus mengikuti aturan 50:50, karena anak seumur itu belum tentu mampu mengemban 5 buah kelapa sekaligus dalam satu waktu.

Pada sepasang partner kerja, pihak yang satu mampu menyelesaikan 5 jenis pekerjaan sekaligus dalam satu hari karena sudah berpengalaman. Sedangkan pihak lainnya hanya mampu 3 jenis pekerjaan karena masih baru dan belum memahami 2 jenis lainnya. Ini tetap dapat disebut sebagai keseimbangan.

===================================================

SALING MENGERTI

Secara simpel, saling mengerti adalah suatu pemahaman antara dua pihak atau lebih tentang kebutuhan satu sama lain. Pada konsep ini, akan disebut “saling mengerti” jika porsi yang diberikan pada masing-masing dirasa seimbang atau minimal mendekati seimbang. Ciri porsi seimbang dapat diamati dari hadirnya kenyamanan oleh masing-masing. Dan pada hubungan yang melibatkan pihak lain, porsi seimbang ini ditandai dengan semakin berkurangnya frekwensi salah faham yang biasanya mengakibatkan keributan. Pengurangan frekwensi salah faham ini tentu bukan karena tidak dibicarakan oleh keduanya.

Sehingga, rasa saling mengerti dapat juga disebut sebagai saling memahami. Karena kata “mengerti” dan “paham” merupakan kata yang terucap sebagai hasil dari pemikiran. Tentu akan menjadi tidak simpel jika segala sesuatu dihasilkan dari tahap berfikir. Dari situ dapat dipahami bahwa “saling mengerti” tidak cukup dengan kalimat “I understand about you” atau “aku faham kok”, tapi lebih diwujudkan dalam dua bentuk, yakni bentuk ucapan baik dan tindakan baik. Nilai “baik” disini adalah baik menurut kedua pihak atau lebih.

Terciptanya rasa saling mengerti dapat meningkatkan berkurangnya pertengkaran atau salah faham. Karena salah satu pihak akan berjuang keras untuk memahami sesuatu dari pihak lainnya, baik berupa penyampaian maupun tindakan.

Agar terciptanya “keseimbangan rasa saling mengerti” : jika terjadi salah faham diantara kedua pihak, maka pihak yang merasa lebih dulu mengambil kesimpulan harus secara perlahan dan penuh I’tikad baik untuk konfirmasi mengenai kesimpulannya. Jika ternyata oleh pihak lain dianggap salah, maka yang menganggap salah tersebut harus juga mengonfirmasi anggapan salahnya, kemudian berdiskusilah dengan penuh terbuka. Dari situ dapat terlihat pada point apa persisnya asal-usul kesalahfahaman dimulai.

RASA SALING MEMILIKI

Rasa memiliki wajib tertanam pada hubungan antara dua pihak atau lebih. Hubungan ini dapat berupa hubungan apapun, entah itu pacar, partner kerja maupun sekedar sahabat. Dengan adanya rasa saling memiliki maka tingkat dorongan untuk saling melindungi dan menjaga akan lebih maksimal.

Pada hubungan cinta kasih, rasa saling memiliki tidak melulu diterjemahkan sebagai hubungan hingga menikah. Karena menikah merupakan hasil dari suatu proses. Rasa tersebut sebenarnya ada pada setiap prosesnya, bukan akhir dari proses. Sehingga, jika :

Sepasang muda-mudi pacaran, maka rasa saling memiliki itu ada ketika proses berpacaran

Partnership kerja, maka rasa saling memiliki ada saat situasi penyelesaian dan kenyamanan melakukan pekerjaan

Sepasang sahabat, maka rasa saling memiliki itu hadir pada setiap kondisi proses

Intinya, untuk memiliki rasa saling memiliki seseorang tidak perlu harus menunggu lama hingga tujuan akhir terpenuhi, namun justru wajib ada ketika proses menuju hal tersebut berlangsung.

PENGUJIAN RASA

Terujinya rasa saling mengerti dan rasa memiliki akan terlihat ketika kondisi hidup seseorang berada dibawah batas kenyamanan . Karena diarea ini, tingkat maju mundurnya emosi negatif akan sangat terlihat, terlebih lagi ketika tekanan demi tekanan terjadi.

========================================

Bagi yang susah berada dibawah kenyamanan dapat juga melakukan ketikdaknyamanan buatan.

========================================

“Kondisi dibawah batas kenyamanan” atau menderita disini tidak harus selalu dialami berdua, tetapi dengan cukup dialami salah satunya saja maka kedua rasa akan teruji.

Contoh :

Guru dan Murid
Jika seorang guru benar-benar mempunyai rasa saling memiliki maka ketika dalam suasana mengajar yang dia fokuskan adalah bagaimana agar siswanya mampu memahami pelajaran yang disampaikan. Tidak perduli bagaimana situasi hidup guru tersebut. Dan seorang murid yang merasa memiliki tentu akan sangat menghormati kegigihan tersebut dengan berjuang keras memahami pelajarannya.

Dalam hubungan kerja (partnership) / persahabatan, rasa saling memiliki akan terlihat dari saling melengkapinya setiap pihak akan kekurangan masing-masing.
Dalam hal ini, pihak satu akan memberi pemahaman pada pihak lainnya jika dirasa perlu. Tingkat “dirasa perlu” dapat terukur dari mapannya “rasa saling mengerti”.

Dalam hubungan cinta kasih, hadirnya rasa saling memiliki akan tampak dari solidnya pemahaman antara keduanya.

Jika ada kekurangan dipacarnya, maka akan diajari, dan yang diajari akan berusaha sekuat tenaga untuk memahami

Jika ada yang perlu dibantu, maka tidak perlu diberi info, karena otomatis tahu bahwa salah satunya perlu bantuan.

Jika terjadi salah faham, yang dicari adalah akar kesalahfahaman, sehingga perdamaian akan terbina dengan segera.

Ketiga contoh “jika” tersebut tentu dapat terjadi pada keduanya sekaligus atau salah satunya saja. Dalam hal ini, tidak ada satu pihakpun yang layak dipaksa untuk paling mengerti dan paling memahami, karena keharusan mengerti dan memahami diemban oleh keduanya. Sehingga dari situlah terciptanya keseimbangan yang akan menuju ke harmonisasi hubungan.

Iklan