Antropologi dan Konsep Kebudayaan


Cepu-20140520-01910

Masing-masing kita menganggap diri sebagai seorang perorangan yang memiliki pendapat-pendapat pribadi, kegemaran-kegemaran dan keanehan-keanehan yang unik, sering kita membanggakan diri karena, dalam beberapa hal kita masing-masing berbeda dengan orang lain. Namun mengherankan sekali bahwa reaksi kita serupa terhadap fenomena-fenomena tertentu. Khusus terhadap cara-cara berlaku atau kepercayaan yang sangat berbeda dengan apa yang menjadi kebiasaan pada kita, maka kita menunjukkan reaksi yang sama. Meskipun kita memiliki sifat-sifat yang sangat menonjol perbedaannya, namun bila berkenalan dengan pola-pola kelakuan dalam masyarakat-masyarakat lain maka pola-pola itu memberi kesan yang sama terhadap kita.

Karena dalam masyarakat kita dan dalam aturan-aturan kita penggunaan kekerasan fisik dalam hubungan antar manusia dilarang, maka adat ini tidak akan diterima oleh sebagian besar warga masyarakat. Adat demikian melanggar sistem sikap, nilai-nilai dan perilaku yang kita miliki sebagai suatu masyarakat dan yang merupakan kebudayaan kita. Walaupun ada perbedaan-perbedaan perorangan misalnya ada orang yang berpandangan bahwa hal yang demikian diserahkan saja pada orang bersangkutan namun kita tidak mudah diyakinkan bahwa anak lelaki harus diberi semangat untuk memukul orang tuanya.

Umumnya ada kecenderungan untuk menganggap pandangan-pandangan yang ditentang dalam suatu masyarakat, sebagai sifat yang terbelakang atau belum beradab.

Sedang kebudayaan merupakan cara berlaku yang di pelajari; kebudayaan tidak tergantung dari transmisi biologis atau pewarisan melalui unsur genetis. Perlu ditegaskan hal itu disini agar dapat dibedakan perilaku budaya dari manusia dan primat yang lain dari tingkah laku yang hampir selalu digerakkan oleh naluri.

Kalau hanya seorang yang memikirkan atau melakukan hal tertentu, hal itu adalah kebiasaan pribadi, bukan suatu pola kebudayaan. Agar dapat secara tepat tercakup dalam kebudayaan ia harus dimiliki bersama oleh suatu bangsa oleh sekelompok orang-orang. Jadi, para ahli antropologi barulah berpendapat bahwa suatu bangsa mempunyai kebudayaan. Jika para warganya memiliki bersama sejumlah pola-pola pikir dan berkelakuan yang didapat melalui proses belajar.

Iklan