Bukan Kamu, Tapi Dia


Laudrynar

“Kau memang bukan yang pertama, tapi kuingin kau yang terakhir di hidupku karna kau begitu indah dan akan tetap indah bagiku…..”

Sepenggal isi surat Reinold tahun lalu pada Bintang yang meyakinkan Bintang bahwa Rei adalah anugrah Tuhan yang akan menemaninya melewati detik tiap detik. Tak ada yang salah dengan hubungan mereka hingga akhirnya sesuatu yang pahit harus menghancurkan hubungan mereka. Semua hancur seketika, semua menjadi puing yang tak bisa disatukan lagi.

“Jika aku indah, mengapa kau tega lakukan ini padaku?” Bintang tak percaya pada apa ia hadapi. Masa depan yang dijanjikan kini tinggal angan yang tak kan bisa ia gapai walau dengan cara apapun.

“Cinta tidak harus memiliki. Jika kau iklas melihat orang yang kau cintai bahagia, itu lah arti cinta,”

“Mudah bagimu mengatakannya dan kata-kata itu terlalu puitis bagiku dan aku terbiasa mendengarnya. Tapi aku tidak pernah ingin itu terjadi. Janjimu terlalu manis, dan kenyataan yang kau berikan terlalu pahit,”

“Aku memang bukan yang terbaik, tapi yakin lah kau akan mendapatkan yang jauh lebih baik dariku,”

“Semua orang juga akan mengatakan hal yang sama saat mereka berpisah, tapi kenapa aku juga harus mendengarnya darimu? Adakah yang lebih dari aku?”

“Tidak ada yang lebih indah darimu,”

“Lalu apa?”

“Kau tidak akan pernah mengerti dan tak akan pernah mengerti. Keputusanku bulat, maafkan aku. Aku tidak bisa lagi bersamamu. Cari lah yang bisa melindungimu dan memberikan sepenuh hatinya bagimu,”

“Tidak segampang itu, Rei,”

“Sekarang memang tidak, tapi esok atau lusa, aku yakin kau bisa temukan kebahagiaanmu,”

“Terima kasih atas nasehatmu, kau pasti akan merasakan apa yang aku rasakan suatu saat nanti.”

Bintang melangkah pergi dari Rei tanpa memberikan kesempatan bagi Rei untuk berbicara.

“Bintang, tau kah kau bahwa aku sedang mengujimu?” Rei ingin mengejar tapi kakinya tak sanggup beranjak.

“Bintang, kamu kenapa?” tanya Shena, sahabat karibnya.

“Tidak apa-apa. Aku ingin pulang saja,”

“Kok pulang? Kita kan baru saja….”

“Aku ingin pulang, Na. Aku duluan yah,”

“Tapi, Bin?”

Bintang tak menjawan bahkan tak menoleh sekali pun ke belakang. Rei menatap Bintang dan menyesalai mengapa ia harus menyakiti hati Bintang. Tapi apa daya, ia tak sanggup untuk mengejar Bintang dan mengatakan bahwa apa yang baru saja ia ucapkan hanyalah untuk menguji cinta Bintang.

“Benar apa katamu, cinta bukan untuk diuji tapi dibuktikan. Kini aku harus menelah pahitnya menguji cinta,” sesal Rei.

“Sakit dan aku akan merasakan sakit ini sampai kapan?” batin Bintang.

Langkahnya goyah, ia berharap Rei satu-satunya dalam hidupnya walau mereka baru menjalin hubungan cinta.

“Kau tau dan paham, apa yang aku katakan padamu tapi kenapa?” hati Bintang kian sakit saat baying Rei hadir di pikirannya.

“Akhhh kau sama saja seperti yang lain, tidak bisa dieprcaya. Berpaling saat ada cinta yang lain.”

Rei semakin merasa bersalah saat menyadari apa yang ia ucapkan pada Bintang.

“Penyesalan memang selalu datang terlambat. Besok akan kucoba memperbaiki semuanya, aku ingin melihat senyummu lagi, Bin. Semoga besok hubungan kita baik-baik saja.”

Namun, niat Rei tidak pernah ia lakukan. Ia bahkan tak berani menatap Bintang karna ada sendu dan sakit yang luar biasa di wajah Bintang.

“Hmmmmmm sepertinya tidak sekarang, biarkan Bintang tenang dulu,” batin Bintang.

“Rei, Bintang kenapa? Tumben kalian gak bareng dan gak becanda?” tanya Jhon.

“Gak apa-apa,”

“Masa? Kayaknya ada sesuatu nih?”

“Sok tau banget sih jadi orang,”
“Kalau gak ada apa-apa kenapa Bintang sedih?
Rei tak bisa menjawab, ia hanya tertunduk dan memikirkan kekonyolannya.

“Ditanya malah diam. Daripada nanya patung mending langsung tanya Bintang.”

Jhon menghampiri Bintang dan tak ada jawaban.

“Kalian kenapa sih? Kompak diam kayak gini?”

“Gak ada apa-apa dan gak akan ada apa-apa,” jawab Bintang

“Kalau gak ada apa-apa, kok kalian diam? Biasanya kalian becanda dan selalu bareng?”

“Kan gak harus selalu bareng, Jhon.” jawab Bintang dan meninggalkan Jhon dalam kebingungan.

Setahun sudah kejadian pahit itu berlalu. Tak ada tegur sapa antara Rei dan Bintang. Mereka diam dan tak ingin bertegur sapa, walau dalam hati ada rasa rindu untuk kembali bersama. Rei tidak sanggup karena menganggap semua adalah salahnya, sedangkan Bintang mencoba untuk menghapus Rei dalam hatinya.

Hari-hari Bintang mulai terisi dengan kehadiran Rudy. Bintang mencoba membuka hati pada Rudy. Rudy mencoba mencari tau siapa Bintang. Saat Rudy tau siapa Bintang dan pernah ada kisah pahit pada percintaan Bintang, Rudy semakin ingin menjadi kekasih Bintang.

“Bin, kau tau, aku mencintaimu bahkan sangat mencintaimu. Aku tak mau kehilanganmu,”

“Rud, cinta itu juga harus rela kehilangan,”

“Walau cinta harus rela kehilangan, tapi aku tak kan rela kehilangan dan melepaskanmu,”

“Aku sulit membuka hatiku, ada luka dan aku tidak ingin lukaku semakin sakit,”

“Aku yang akan sembuhkan luka di hatimu dan tak kan kubiarkan ada luka lagi di hatimu,”

“Manusia di mana pun akan mengatakan hal itu, tapi pembuktiannya tidak selamanya terjadi seperti apa yang dikatakan,”

“Bagaimana aku membuktikan aku mencintaimu jika kau tidak mau membuka hatimu untukku?”

“Kau mau aku menjadi pacarmu sementara aku tidak mencintaimu dan menyayangimu?”

“Kenapa tidak? Akan kita lewati bersama dan aku yakin kau akan mencintai dan menyayangiku,”

“Aneh, baru kali ini aku bertemu dengan pria nekad sepertimu,”

“Bin, aku tau kau memiliki cinta dan kasih sayang, biarkan aku memiliki cinta dan kasih sayangmu itu. Aku akan menunggumu, kita coba?”

“Cinta bukan untuk dicoba, Rud,”

“Memang bukan untuk dicoba, tapi jika kau tidak mau maka hatimu akan tetap seperti ini. Bagaimana?”

“Oke, tapi jika aku tidak bisa, maafkan aku,”

“Apa pun kulakukan untukmu karna aku tulus menyayangimu.”

Saat cinta mulai tumbuh di hati Bintang untuk Rudy, tiba-tiba Rei kembali muncul. Muncul tanpa kesengajaan. Entah benar atau tidak, yang pasti kehadiran Rei mengusik cinta Bintang dan Rudy.

“Say, aku mimpi lho,” ujar Rudy

“Mimpi apa?”

“Aku mimpi kamu jalan dengan cowok lain, aku marah dan kami berantam. Aku sampai babak belur,”

“Akh mimpimu ada-ada aja. Itu hanya bunga mimpi,”

“Dan cowok itu adalah Rei,”

Bintang terkejut dan mukanya memerah seketika.

“Say, kamu kenapa? Kamu kok sekaget itu?”

“Gak apa-apa, tapi kok kamu mimpi kayak gitu yah?”

“Kamu takut dia mengusik kita?”

“Aku gak takut, hanya saja kau tau kan bagaimana rumitnya kisah kami dulu?”

“Apakah kau masih mencintainya?”

“Kenapa kau pertanyakan itu? Sudah lah aku tidak ingin membahasnya,”

“Bin, aku takut kehilanganmu dan aku tak mau kehilangan apalagi melepasmu kembali pada Rei,”

“Rud, aku gak tau mau bilang apa.”

Sejenak mereka terdiam dengan pikiran dan perasaan masing-masing.

“Kenapa yah, Tuhan?” batin Bintang.

Lama mereka terdiam hingga akhirnya Rudy menyadari perubahan Bintang. Tak ingin membuat kekasihnya semakin terpuruk dengan perasaannya, ia mencoba menenangkan Bintang.

“Kau tau kan bagaimana kekuatan cintaku padamu? Walau di hatimu ada cinta untuk Rei, tapi aku tak kan menghapus rasaku padamu karna cintaku tulus padamu,”

“Kau terlalu baik dan aku tak sampai hati menyakitimu,”

“Karna kau indah bagiku,”

Degggg, jantung Bintang berdegup semakin cepat saat mendengar ucapan Rudy. Ya, kalimat itu pernah Rei ucapkan padanya dan semua ternyata bohong belaka.

“Sudah lah jangan menggombal,” Bintang mencoba kembali tenang.

“Oke, kalau begitu kita makan aja, yah. Kita lupakan mimpi itu dan kita kembali seperti biasa.”

Bintang hanya menggangguk saja.

Setelah Rudy pulang, Bintang kembali bingung dengan mimpi Rudy. Apakah benar Rudy bermimpi seperti itu? Atau Rei mendatangi Rudy?

Lamunan Bintang buyar seketika saat Lisa sahabat dekatnya mengirimkan SMS.

Hello Nona manis, mf ganggu mlm2. Tp ada ssuatu yg ptng nih. Ada yg ign btemu dgnmu besok sore di depan toko coklat.

Perasaan Bintang semakin tak karuan, ia kembali menerka-nerka bahwa itu pasti keinginan Rei. Tapi apa mungkin? Rei selama ini tidak pernah mau menegurnya dan hanya diam saja. Bintang semakin bingung saat Lisa kembali mengirimkan SMS dan bertanya apakah besok Bintang bisa bertemu dengan seseorang itu.

“Apa yang aku harus lakukan jika itu adalah Rei?” batinnya.

Lihat bsk yah, Lis. Aku gak janji.

Semalaman Bintang tidak bisa memejamkan mata, ia masih menduga siapa yang dimaksudkan oleh Lisa. Apakah Rei atau bukan.

Esoknya Bintang berharap tidak ada sore, ia ingin dari siang langsung ke malam saja karna ia tak akan sanggup jika yang akan menemuinya adalah Rei. Bintang ingin memberitau Rudy, tapi ia takut jika yang menemuinya adalah Rei dan mimpi Rudy jadi kenyataan.

Seharian Bintang bimbang dan saat jam menunjukkan pukul 15.35, Bintang memutuskan untuk datang, siapa pun yang menunggunya di sana, ia akan siap. Bintang juga masih berharap yang akan menemuinya bukan Rei.

Toko Coklat sudah di depan mata, Bintang sengaja tidak langsung ke sana. Ia lebih memilih berada di sebrang jalan dan melihat siapa yang ingin bertemu dengannya. Setengah jam berlalu, Bintang akhirnya menuju Toko Coklat dan menunggu di sana. Namun, hingga sejam menanti, tak ada tanda-tanda akan ada yang menemuinya. Tepat pukul 18.30, Bintang memutuskan untuk pulang saja.

“Capek-capek nunggu malah gak datang,” gerutu Bintang.

Sesaat setelah sampai di rumah, Bintang menghubungi Lisa dan memberitahu bahwa seseorang yang Lisa katakan tidak muncul.

“Serius, Bin?” Lisa seperti tidak percaya.

“Iya serius. Siapa sih yang mau nemuin aku? Kasih tau dong!” desak Bintang.

“Hmmmmm gimana yah? Tunggu dia aja deh yang ngubungin kamu,”

“Lis, serius. Jangan bilang dia Rei,”

“Udah tunggu aja deh,”

“Lis, kita kan teman. Tega amat sih buat aku penasaran seperti ini,”

“Entar lagi juga kamu tau siapa dia. Tunggu aja yah, oke. Aku mau lanjutin aktifitasku dulu, ntar kita sambung yah, Bin. Bye….”

“Lisaaaaaa!!!!!” teriak Bintang jengkel.

Sesaat rasa jengkelnya hilang karna isi SMS dari orang yang entah dia harapkan atau tidak ia harapkan sama sekali. SMS dari Rei.

Bin, td km gak jd ke took coklat yah? Km gak mau ktemu aku lg? Rei

Bintang tidak percaya bahwa Rei yang akan menemuinya. Entah sadar atau tidak, Bintang membalas dan ia mengomeli Rei.

Enak aja, aku td dtng tp km yg gak nongol.

Saat ia sadar, ia ingin SMS itu tidak terkirim.

Ya sudah aku k rmhmu yah

Jantung Bintang kian berdegup kencang saat Rei akan datang ke rumahnya.

“Gakkkkk, jangan sampai yah, Tuhan,” harap Bintang.

Rei ternyata benar-benar datang.

“Maaf aku mengganggumu,” ujar Rei

“Kau memang menggangguku,” jawab Bintang ketus

“Kau masih marah?”

“Marah untuk apa?”

“Kejadian dulu,”

“Untu apa? Toh aku bisa menerimanya dan kini aku bersama Rudy,”

“Iya aku tau, aku juga minta ijin Rudy untuk menemuimu,”

“Lancang benar kamu. Jangan sampai hubungan kami rusak karna kamu,”

“Aku tidak akan merusak apa pun, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu,”

“Apa???? Kamu mau bilang menyesal meninggalkan aku? Atau kamu mau bilang kamu masih cinta?”

“Bintang, bisakah aku bicara?”

“Silakan!”

“Sebelumnya aku ingin meluruskan kejadian tahun lalu. Aku benar-benar minta maaf, aku tidak ada maksud untuk menyakiti hatimu,”

“Tapi kau telah menyakitiku,”

“Bin, aku minta maaf. Saat itu aku tidak serius, aku hanya ingin menguji rasa cinta dan sayangmu padaku, tapi aku salah,”

“Bagus kalau kamu tau kamu salah,”

“Bintang, bisa kah kau tidak ketus padaku?”

“Terus apa lagi yang ingin kau katakana?”

“Aku tau aku salah karna aku mencoba untuk menguji kamu, padahal kamu pernah bilang kalau cinta bukan untuk diuji,”

“Terus?????”

“Binnn,….” Rei mencoba menatap Bintang dan masih ada rasa cinta di tatapan mata mereka.

Bintang segera membuang pandangannya ke tempat lain, ia tidak mau kikuk dengan pandangan Rei. Rei mengambil tas kecil yang ia bawa, Bintang semakin kikuk, ia tidak ingin cerita masa lalu bersemi saat ia telah bersama dengan Rudy.

“Kalau sudah, kamu pulang saja,”

“Aku belum selesai. Ada yang ingin aku tanyakan padamu,”

“Apalagi?”

“Jawab dengan jujur yah, Bin!,” pinta Rei dan membuat Bintang makin kikuk. Pikirannya melayang pada sesuatu di balik tas kecil Rei. Apakah itu coklat kesukaannya yang dulu sering Rei bawakan untuknya? Atau Rei ingin melamarnya saat itu juga. Tapi bagaimana dengan Rudy?

“Apakah kau masih mencintaiku seperti dulu?”

Degggg…… Bintang terdiam dan tidak bisa menjawab. Perasaannya tidak karuan. Ia mencoba tenang dan mengingat bahwa masih ada Rudy yang mencintainya. Apa pun yang terjadi Rudy telah berkorban untuknya, walau ia belum bisa sepenuh hati mencintai Rudy.

“Bin???? Kamu tidak mau jawab?”

“Ha????? Emmmmm sorry. Kalau itu pertanyaanmu, aku tak tau, tapi aku udah belajar untuk melupakanmu. Kau tau betapa sakitnya hatiku saat kau tinggalkan aku dan lebih sakit lagi saat aku tau alasanmu. Sakitnya bertambah lagi, kenapa tidak dari dulu kau katakan? Jangan buat aku tambah sakit hati lagi dengan kata-kata cinta. Lama aku menunggu dan kau hanya diam saja,”

“Maafkan aku, Bin. Tapi tolong jawab pertanyaanku tadi, apakah masih ada cinta untukku seperti dulu?”

“Kamu belum paham juga? Aku telah belajar dan aku tidak ingin menyakiti Rudy. Andai Rudy merelakanku kembali padamu, tapi aku tak kan rela meninggalkannya demi kamu,”

“Sebesar itu kah cintamu padanya?”

“Itu urusanku,”

“Baiklah kalau begitu. Dengan jawabanmu yang sudah pasti aku juga akan melangkah pasti tanpamu, Bin,” tukas Rei.

“Ohhh tidak apa-apa karna di antara kita tidak ada apa-apa dan tak kan pernah ada apa-apa lagi,”

“Bin, tujuanku menanyakan itu hanya karna aku ingin memberikan ini padamu,” ujar Rei sembari memberikan sepucuk surat undangan.

Mata Bintang terbelalak saat melihat itu undangan untuk siapa dan dari siapa. Bintang seakan tidak percaya, ia mengucek matanya berkali-kali dan ternyata tidak ada yang salah dengan nama yang ada di undangan tersebut.

“Bin, aku harap kamu mau menghadiri pernikahanku,”

“Kenapa harus berbelit-belit padahal kamu ingin memberikan ini saja. Toh, kamu juga bisa menitipkannya pada Lisa atau siapa saja tanpa harus datang menemuiku dengan gelagat yang akhhh sudah lah,”

“Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin tambah menyakiti hatimu,”

“Bingung dengan pola pikirmu, tapi ya sudah lah memang kamu seperti ini dan mau bilang apa lagi?”

“Aku hanya tidak ingin ada cinta untukku darimu karna itu akan menghambat langkahku,”

“Hellooooo…. Kamu pikir aku cewek seperti apa?”

“Bin, plisssss maafin caraku!”

“Oke aku maafkan dan sekarang kamu pulang saja. Terima kasih atas undangannya, ada waktu aku akan datang dengan Rudy,”

“Terima kasih, Bin. Jangan ada dendam untukku yah!”

“Ya… ya… ya…”

Setelah Rei pulang, Bintang memikirkan apa yang baru saja terjadi. Mengapa semua harus terjadi seperti itu? Dan apa yang salah?

“Mungkin ini jalanku dari Tuhan untuk bisa melihat mana yang akan menemaniku hingga mata tertutup rapat selamanya. Walau tadi sempat GR setengah mati, tapi tak apa lah, semoga ia bahagia bersama dengan calon istrinya.”

Malam itu, Bintang membuang dan memusnahkan rasa yang masih ada untuk Rei dan ia berusaha bisa mencintai Rudy seperti Rudy mencintainya

oleh : teman sekaligus sahabat

Iklan