Aku Jatuh Cinta


101
“Man, Min, Mun…….!”, sudah terlalu lama peristiwa itu berlalu. Bulan puasa sudah akan datang lagi, antara harapan dan keenganan aku melangkah di teras toko makanan khas Solo. Sudah kesekian kali jalan ini ku lewati, entah berapa kali aku tidak pernah menghitungnya. Lengang dan kadang terlalu ramai untuk sekedar merenungi nasib, terlalu berjubel, terlalu keras suara-suara menawarkan penganan menjelang berbuka. Dalam sisa-sisa panas mentari yang memanggang aku terus melangkah, berusaha tidak peduli pada keramaian yang semakin ramai.

“Ah……, masih terlalu jauh Man, Min, Mun!”

Dari kemarin bukan selalu ini yang terjadi. Sebuah pertanyaan, bukan harapan? Lihat saja pertaruhan setiap hari di depan pasar makanan, di lorong-lorong penawaran, di gang-gang kesepakatan. Satu orang, dua orang, tiga orang, banyak orang bersiap-siap, berdo’a agar bangun sebelum imsyak berkumandang dan berharap bisa kenyang untuk bersiap menyambut fajar sampai adzan magrib menyapa.

“Man…., Min….., Mun….!”

Aapakah kita menyadari apa yang telah kita perbuat setiap hari, menghitung dan menghitung dan merasakan siang lebih panjang dari biasanya, seolah-olah dalam penantian dan pengharapan meluapkan kegetiran, membalaskan dendam beberapa jam yang terasa tahunan. Bukankan ini sebuah pengabdian, bukan penghinaan yang harus sikapi seolah menunggu waktu pembalasan segera tiba.

“Pengabdian…..”

“Man, Min, Mun…..”

kita bicara tentang angkara yang tersimpan begitu dalam dan kita bicara tentang kemarahan yang pura-pura kita abaikan. Sementara kita terbakar dan bersiap-siap masuk ke dalam coberan untuk sekedar mendinginkan panas kepala. Sangat panas, bahkan sama sekali tidak terasa sengatanya. Begitu panasnya hingga melelehkan arti dan makna sebuah pengabdian, kemudian kita menjadikanya sekumpulan harapan untuk segera berakhir.

“Man……..?”

Tentunya kamu berharap aku menjabarkan sebuah pertanyaan dan menjawabnya dalam silsilah yang gamblang. Bukankah aku terlalu berpendidikan di hadapan Min, Mun. Dan kamu telah termakan kabar yang sama sekali tidak berdasar. Aku cuma lulusan S1, itupun kalau bisa lulus. Kamu harus tahu Man, aku orang yang bodoh, bahkan S1-pun belum berhasil selesai. Tidak seperti Min yang telalh lulus S3, bukankah SMA itu S yang ketiga bagi Mun? Mungkin tidak lucu Man? Tapi bukankah tiada tempat bagi sebuah pengabdian berbekal ini semua?

“Min…….?”

Aku merasa aneh berjalan bersama kalian, bersahabat sekian lama.

“Mun……?”

Dan aku begitu dendam, aku begitu mengancam untuk sebuah sajian yang memenuhi perut. Perutku telah penuh Mun, tapi dendamku belum terkalahan. Kadang aku berpikir, selalu berpikir untuk menobatkan diri sebagai pendendam. Aku tahu Min, andai semua isi hati kuproklamirkan pasti banyak orang-orang dungu yang menjadi pengikutku. Kemudian aku mendirikan sebuah kesultanan dengan slogan-slogan pembelaan, pembalasan terhadap perjalanan yang selalu terasa lebih panjang.

“Ini dendam Man, ini kesumat Min, ini pemberontakan Mun….!”

(semoga kita tidak tenggelam dalam dogma belaka)

Iklan