Menerima Nasehat dari Seorang “Pecundang”..? Mengapa Tidak..!


images
Hari Minggu ini di sekolah anak saya sedang merayakan ulang tahun yayasan sekolah ke 50 tahun.Sebuah SDK di Malang.

Acaranya diisi macam2 kegiatan..salah satunya gerak jalan bersama antara Murid,orang tua serta guru.

Pas acara gerak jalan santai berjalan..saya dan ibu2 yang lain bukan hanya kaki yang sibuk menjejak langkah sepanjang jalan,melainkan juga mulut pada sibuk ngunyah cemilan bari sahut2an ngobras (ngobrol santai) segala macem.Dari mulai masalah harga pasar bahan kebutuhan yang kek orang mabuk gak jelas naek turunnya,juga masalah presiden dan menteri2nya yang banyakan bilang pada masih tertatih2.. hingga kurikulum sekolah yang sudah pasti memakai Kurikulum 2013.

Tiba2 disela2 perbincangan,ada salah satu rekan yang nyeletuk tentang seorang kawan yang akhir2 ini sudah jarang ikutan kumpul/acara ibu2 orang tua murid.Anggap saja bernama ibu Eli.

Menurut para ibu2 gerombolan saya..wkwkwkk yang berjumlah sekitar 8 orang,ibu Eli sebenarnya adalah yang termasuk senior..dalam hal usia serta pendidikan pun juga secara materi. Banyak dari kami yang dulu sering curhat pada Ibu Eli. Entah itu curhat masalah rumah tangga ataupun yang lain (banyakan sih paling masalah suami/kata saya sih..hehehe) namanya juga sesama perempuan,apalagi sudah label EMAK2…wkwkwkk

Singkatnya,menurut para anggota gerombolan saya..ibu Eli sekarang sudah bukan lagi sosok yang patut di curhati ataupun dijadikan panutan,karena Ibu Eli sekarang sudah bercerai dengan suaminya,dan menurut kabar yang beredar karena mereka sama2 telah melakukan perselingkuhan.

“Duh..kok dulu keliatan sempurna ya ntu orang ?”

“lah..ternyata begitu toh aslinya ?”

“Ladalah..model begitu kok sok pinter ngasih nasehat orang yak ?”

dan lain lain komentar gerombolan saya..wkwkwk (saya gak akan nulis nama2 gerombolan saya disini,daripada besok saya di sekolah ditimpukin sandal ibuk2 satu kelas yah..)

Ini hanya sebagian saya tulis..karena jika saya tulis semua..bisa habis baterai lappi saya buat nulisin semua. heheheūüėõ

Entahlah,saya (yang jujur,dulu pernah ikutan curhat serta mendapat advice dari Ibu Eli/pas kena rejeki dapat masalah dengan suami) hanya diam tak ikutan komen. Saya hanya diam sambil mulai mules,inget kalo bangun kepagian tadi karena nyiapin tetek bengek anak2 yang mau ikutan gerak jalan santai sekolah.

Hingga menjelang finish gerak jalannya di lapangan dalam sekolah,saya hanya mengucapkan ..tepatnya ikutan urun ngobras pada gerombolan saya begini :

-NASEHAT atau KRITIK yang kita TERIMA semua semata2 adalah tentang kebaikan untuk KITA (bukan ttg kebaikan orang lain).Masalah siapapun/apapun yang Tuhan ijinkan untuk menyampaikannya pada kita..itu hanyalah soal TAKDIR. Ibarat kita terlihat lusuh serta KOTOR lalu ada yang berbaik hati memberikan kita AIR agar mandi..masakan kita akan menolaknya..? meskipun yang memberikan kita air tersebut juga terlihat lusuh belum mandi.Mungkin dia tak tahu dia butuh mandi..ataupun dia sok gak butuh air..ataupun mungkin dia tak tahu cara mandi..? entahlah..dan biarkan itu menjadi rahasiaNYA sendiri dengan sang umat yang bersangkutan.

-Banyak yang bilang hidup sudah sulit..gak perlu dipersulit dengan berpikir tentang asal sebuah BENIH. sebab yang pasti benih mempunyai TAKDIR untuk bersemai serta tumbuh lewat media dengan berbagai cara atas seijinNYA.

wkwkkwk.. sehabis saya berbicara begitu,rasanya ada 16 an telapak tangan nggabruk ke punggung saya.Bari terdengar suara2 alto sopran…para anggota gerombolan saya. hahahha…

Tapi saya sih nyantai aja..lah wong sudah biasa dan hapal model2nya anggota gerombolan saya itu. hehehe

apalagi setelah pengumuman doorprize kupon gerak jalan..saya mendapat hadiah utama sebuah kulkas gede.

=============================================================================

Batin saya : menerima nasehat dari seorang “pecundang”..? mengapa tidak.! bagi saya TUHAN lah yang sedang menasehati saya lewat Ibu Eli waktu dulu. tinggal bagaimana hati saya meresponnya tanpa perlu repot melihat siapa Ibu Eli..dan bagaimana akhir ibu Eli. Ketika sebuah roti diberikan kepada kita adalah untuk mengenyangkan perut. meski yang memberikan tak bisa membuat roti (jadi rotinya teteap bernama roti tidak berubah yang lain)

Biarkan setiap umat hanya DIA yang mengetahui segala isi hati serta tetap dalam hak prerogatipNYA untuk menilai serta memberi ganjaran.

KIta hanyalah sebatas menjalani jalan sendiri..tanpa repot ikutan mengukur jalan orang lain.

Oleh : IndahKompasian