Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) Part. 2


Partai Komunis Indonesia

Periode Tahun 1920 – 1926

Pada tanggal 23 Mei 1920, ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereniging) pun mengganti nama menjadi Perserikatan Komunis Hindia atau Partai Komunis Indonesia (PKI), setelah banyak pengurusnya yang berkebangsaan Belanda diusir penguasa kolonial dari Indonesia, termasuk pendirinya Henk Sneevliet. Selain nama “Partai Komunis Indonesia”, dinilai lebih mencerminkan prinsip perjuangan partai itu.

Bergabung Dengan Komintern

Konvensi pertama PKI di gelar di basecamp Sarekat Islam, di Semarang, Jawa Tengah, pada pertengahan Desember 1920. Ribuan anggota dan simpatisan hadir disana, dan rapat berlangsung tertutup dan underground, karena walaupun partai ini sudah memiliki basis massa yang banyak, tapi keberadaan mereka masih illegal dimata pemerintah Belanda saat itu. Agenda utama Konvensi ini adalah memutuskan satu soal penting tentang “bergabung tidaknya PKI dengan Komunis Internasional (Komintern)”.

Dari kesepakatan rapat itu, akhirnya mereka memutuskan untuk berafiliasi dengan Komintern yang berpusat di Moscow (Uni Soviet), yang di kepalai oleh Josep Vissarionovich Stalin. Sehingga, kebijakan partai mau tak mau harus segaris dengan apa yang dirumuskan di Moskow (Komintern), dan wakil pertama Indonesia di rapat – rapat Komite Eksekutif Komunis Internasional di Moscow adalah Sneevliet (yang sebelumnya dibuang Belanda) , setelah itu ada Semaoen dan Darsono yang selanjutnya mereka menjadi agen – agen kunci Komintern.

Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka (seorang aktivis PKI yang sebelumnya belajar ke Netherland dan kembali lagi ke Indonesia tahun 1919), diangkat sebagai pimpinan partai.

Walaupun secara organisasi PKI resmi bergabung dengan Komintern, namun pada masa-masa awal gerakan PKI, tak semua garis kebijakan Moskow diikuti mentah-mentah. Misalnya pada tahun 1920, Komintern sempat menyerukan kewaspadaan kaum komunis dalam menghadapi gerakan Pan Islamisme. Kritik Soviet atas manuver kaum Muslim ini membuat aktivis PKI di Indonesia (Yang sebagian besar aktif di Sarikat Islam), menjadi rikuh. Bahkan Sneevliet di Moskow mengkritik garis kebijakan itu dan membela habis-habisan keputusan PKI untuk beraliansi dengan sayap kiri Sarikat Islam (selanjutnya menjadi SI Merah).

 joseph-stalin
Josep Vissarionovich Stalin

Serikat Islam Merah

Perubahan nama membuat PKI semakin menguatkan hubungannya dengan Komintern, maka PKI semakin menarik garis pertentangan dengan sangat keras terhadap Sarekat Islam. Perlu diketahui, anggota PKI memang masih banyak yang terdaftar sebagai anggota Serikat Islam (keanggotaan rangkap). Hal ini membuat pertentangan di tubuh Sarikat Islam itu sendiri semakin mengerucut, yang akhirnya menyebabkan perpecahan.

Puncaknya Dalam Kongres Luar Biasa Central Sarekat Islam (CSI) ke 6 pada bulan Oktober 1921 di Surabaya, Agus Salim dan Abdul Muis (tokoh SI), mendesak agar disiplin partai ditegakkan dan melarang keanggotaan rangkap. Sarekat Islam pun pecah menjadi dua, yaitu Sarekat Islam Putih yang berasaskan kebangsaan keagamaan di bawah pimpinan Tjokroaminoto & Abdul moeis, dan Sarekat Islam Merah yang berasaskan “kiri” di bawah pimpinan Semaun yang berpusat di Semarang. Pembersihan itu baru tercapai dalam Konggres CSI ke 7 di Madiun.

Dengan adanya keputusan ini, anggota – anggota PKI yang juga menjadi anggota SI dikeluarkan dari SI. Sebagai reaksi dari keputusan ini, pada bulan Maret 1923, PKI mengadakan kongres di Bandung, dan memutuskan SI ”Merah” berganti nama menjadi Sarekat Rakyat, yang pada puncaknya beranggotakan 60,000 orang.

Lalu pada bulan Desember 1924, dengan berbagai macam pertimbangan, Sarekat Rakyat resmi bergabung ke dalam PKI termasuk juga kalangan buruh dan kaum tani. Karena selain PKI lebih radikal dan anti kapitalis, PKI juga lebih “hangat” dan lebih mewakili mereka, Sehingga dengan segera PKI menjadi partai yang besar dan memiliki massa yang banyak. Dengan demikian, PKI untuk pertama kalinya mulai memimpin sendiri organisasi massa.

 Rapat Sarekat Islam
Salah satu kegiatan Rapat Sarekat Islam

Peningkatan Dan Kemunduran PKI

Pada awal tahun 1920-an, PKI meraih pimpinan serikat buruh kerah biru. Berberapa bagian kaum buruh diorganisir, misalnya buruh dok dan pelaut (hal ini dimulai oleh pemimpin serikat pelaut yang diusir ke Belanda, yang berusaha komunikasi dengan Indonesia).

Namun kemajuan-kemajuan ini, berbanding lurus dengan kemunduran gerakan buruh umumnya, dan jumlah anggotanya tidak kunjung bertambah. Pengaruh kaum buruh yang begitu kecil tidak dapat memukul kembali tekanan-tekanan yang terjadi terhadapnya, terutama yang berasal dari desa-desa. Para petani, bahkan banyak buruh yang kurang berpengalaman, mudah memberontak. Mereka amat siap untuk beraksi secara militan, namun, dalam kekalahan dengan kecepatan sama mereka menjadi apatis dan jatuh ke dalam demoralisasi.



Media Massa Dan Terbitan PKI

Tahun 1920an merupakan masa membanjirnya terbitan rakyat, saat itu ruang politik “demokratis” terbuka bagi rakyat. PKI juga melakukan agitasi menggunakan media massa. Tak sedikit media Islam adalah pula media komunis. Seperti dapat dijumpai di Semarang: Sinar Hindia, Soeara Ra’jat, Si Tetap, dan Barisan Moeda. Di Surakarta (Solo) antara lain Islam Bergerak, Medan Moeslimin, Persatuan Ra’jat Senopati, dan Hobromarkoto Mowo. Di Surabaya ada Proletar, di Yogyakarta terkenal dengan Kromo Mardiko dan di Bandung dengan Matahari, Mataram, Soerapati dan Titar. Di Jakarta ada dua, yaitu Njala dan Kijahi Djagoer.

Koran Njala

Sumber :

  1. Orang Kiri Indonesia. Musso Si Merah Di Simpang Republik. Seri Buku Tempo. 2011.
  2. Jacques Leclerc , Aliran Komunis: Sejarah Dan Penjara
  3. Ruth McVey. The Communist Uprising of 1926-1927 in Indonesia: Key Documents. Ithaca. Cornell University Press. 1960.
  4. Wahyu Wirawan, Aksi Partai Komunis Indonesia 1926-1965.
  5. http://id.wikipedia.org/wiki Partai_Komunis_Indonesia.

Dalam Kongres PKI tahun 1924, PKI membentuk Komisi Bacaan Hoofdbestuur PKI. Komisi ini menerbitkan dan menyebarluaskan tulisan-tulisan serta terjemahan-terjemahan “literatuur socialisme” (istilah ini dipahami oleh orang-orang pergerakan sebagai bacaan-bacaan guna menentang terbitan dan penyebarluasan bacaan-bacaan kaum modal).

Njala“, Salah satu Koran terbitan PKI tahun 1926