Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) Part. 3


Partai Komunis Indonesia

Periode Tahun 1926 – 1927
Pertengahan tahun 1920 merupakan puncak dari Partai Komunis Indonesia dari semenjak didirikan pada tanggal 23 Mei 1920, sekaligus awal kehancuran periode pertama setelah terjadi pemberontakan tahun 1926.

Dengan slogan “more riches to the rich, no taxes to the poor, more mosque to the picas, more jobs to the semi literates”, pada pertengahan tahun 1920-an, PKI juga memutuskan mengambil posisi sebagai partai perjuangan untuk melawan penjajah, sehingga membuat situasi politik semakin memanas. Persaingan untuk memperebutkan massa pendukung terjadi di desa-desa. Tidak jarang teror ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut.

Dinas Intelijen Belanda juga semakin mencium aroma “pemberontakan” oleh PKI terhadap pemerintah Belanda. Akibatnya timbul gerakan anti komunis dan pemerintah kolonial Belanda mulai mengambil tindakan tegas. Rapat – rapat mereka sering dibubarkan. Para tokoh dan aktivis PKI banyak yang diburu, ditangkap atau diasingkan, hingga banyak aktivisnya yang melarikan diri ke luar negri, untuk berlindung dari kejaran Intel Belanda. Diawali dengan Sneevliet tahun 1919, Tan Malaka tahun 1922 dibuang dan diusir dari Indonesia, dan Semaoen ditangkap tahun 1923. Dengan demikian semua pemimpin PKI seperti Darsono, Ali Archam, Alimin, Musso, mulai merasa terancam.

Akhirnya Pada Kongres PKI tanggal 11-27 di kota Gede Yogyakarta, dibahas mengenai rencana gerakan bersama di seluruh Indonesia. Rencana pemberontakan ini pada awalnya tidak memperoleh persetujuan Komunis Internasional (Komintern). Aksi-aksi seperti pemogokan mendapat perhatian serius oleh pemerintah kolonial Belanda bahkan rapat-rapat PKI juga dibubarkan. Januari 1926 Musso, Boedisoetjitro, dan Soegono rencananya akan ditangkap oleh Gubernur Jendral Van Limburg Stirum tetapi mereka telah pergi ke Singapura.

Awal Pemberontakan 1926

Rapat Prambanan

Pada Desember tahun 1925, digelar pertemuan rahasia PKI di Prambanan Jawa Tengah, dengan Ketua Umum PKI saat itu bernama Sardjono. Rapat itu membahas detail rencana pemberontakan kaum kiri di Indonesia, yaitu melakukan aksi mogok umum buruh dan perlawanan bersenjata, untuk menggulingkan pemerintah Belanda pada pertengahan 1926. Gerakan akan dimulai di Padang, Sumatera Barat, yang merupakan cabang PKI yang paling kuat, sebelum meluas ke Pulau Jawa.

Rapat dipimpin oleh Alimin. Pertemuan ini dihadiri oleh tokoh- tokoh PKI, diantaranya Budi Sucipto, Aliarcham, Sugono, Surat Hardjo, Martojo, jatim, Sukirno, Suwarno, Kusno dan lain-lainnya. Namun tidak semua pentolan partai setuju dengan rencana ini, seperti   Serikat Buruh Kereta Api (VSTV), yang menurutnya ikatan buruh masih lemah, sehingga aksi mogok akan sulit dilakukan.

Rapat Singapura

Pada Januari 1926, Musso berangkat ke Singapura dengan cara menyusup (Karena sebelumnya Musso pernah di tahan di Singapura terkait kasus dokumen palsu). Alimin dan beberapa pentolan PKI lainnya, sudah menunggu disana. Para pentolan PKI tersebut posisinya juga sebagai buron Pemerintah Belanda. Selama tiga hari, Mereka mengadakan rapat rahasia sebagai lanjutan dari rapat di Prambanan.

Penolakan Tan Malaka

Hasil rapat di Singapura tersebut, mereka mengutus Alimin menemui Tan Malaka (setelah sebelumnya tahun 1922 di buang Belanda) di Manila, Filipina. Posisi Tan Malaka pada waktu itu sebagai perwakilan Komintern di Asia Tenggara. Tujuan menemui Tan Malaka adalah sebagai perantara, untuk meyakinkan dan meminta dukungan Moskow, karena selain sebagai kiblat, mereka juga butuh sokongan dana dan senjata dari Uni Soviet.

Tan Malaka sebenarnya sudah tau tentang aksi ini lewat surat yang dikirim PKI di Indonesia sebelumnya. Dia pun kaget dan menolak rencana pemberontakan itu dengan berbagai alasan. Ia orang yang sangat taktis dan berhati – hati, menurutnya, Situasi di Indonesia belum siap untuk sebuah aksi yang revolusioner dan juga rencananya tidak matang. Perbandingan kekuatan PKI dan kolonial Belanda juga tidak seimbang. Apalagi sejak tahun 1924, ketika banyak pentolan PKI di tahan dan tercerai berai, kekuatan menjadi sangat lemah.

Menurut Soe Hok Gie dalam bukunya ”Orang – orang di persimpangan Kiri Jalan”, ada lima faktor yang menyebabkan Tan Malaka menolak aksi pemberontakan tersebut. Antara lain :

  1. Belum ada situasi revolusioner
  2. Tingkat disiplin PKI masih rendah
  3. Seluruh rakyat belum berada di bawah PKI
  4. Belum ada tuntutan yang konkret
  5. Imperialisme Internasional sedang bersekutu melawan komunisme.

Tan Malaka pun berharap Alimin menyampaikan alasan dan pertimbangan penolakannya tersebut. Alimin pun lalu kembali ke Singapura untuk menyampaikan putusan Tan Malaka.

 TanMalaka
Tan Malaka

Perselisihan Musso – Tan Malaka

Pada bulan Februari 1926, kembali di gelar rapat di Singapura (dengan jumlah personil lebih lengkap dari sebelumnya), tentang hasil keputusan Tan Malaka yang di sampaikan oleh Alimin.

Namun Alimin menyampaikan lain, ia bilang Tan Malaka setuju. (Mungkin ini sengaja dilakukan Alimin, agar rencana tetap berjalan). Bahkan ia pun bilang ke Tan Malaka kalau laporannya sudah disampaikan, tapi Musso dan Sardjono (Ketua PKI di Indonesia) menolak. Versi lain mengatakan Alimin menyampaikan dengan benar, tapi Keputusan ini membuat Musso marah karena Tan Malaka menolak, sehingga terjadi perselisihan diantara Musso – Tan Malaka.

Entah mana yang benar. Yang jelas, reaksi penolakan Tan Malaka ini membuat perpecahan dalam organisasi PKI. Pada Bulan Maret 1926, Musso dan Alimin tetap berangkat ke Moscow, tanpa sepengetahuan Tan Malaka, untuk meminta dukungan langsung disana. Hal ini jelas membuat Tan Malaka kecewa karena merasa di khianati oleh Musso dan Alimin.

Akhirnya Tan Malaka beserta beberapa pentolan lainnya yang menolak aksi tersebut, berusaha untuk menjegal terjadinya aksi tersebut yang sudah terlanjur menyebar ke berbagai cabang di Indonesia. Hal ini membuat Alimin-Musso yang sudah berada di Moskow,marah dan tetap “keukeuh” menjalankan aksinya, walaupun sebenarnya juga di Moskow sudah ditolak Stallin(pimpinan pusat PKI).

 muso
Musso

 

Pemberontakan 1926

Bagai ayam kehilangan induknya, para anggota PKI di bawah bingung, antara ikut Tan Malaka atau Alimin-Musso. Kekacauan hari demi hari semakin memuncak dan hampir semua pimpinan PKI berada di luar Indonesia dan tidak adanya koordinasi para pemimpin extrimis.

Selama tahun 1926 badan exekutif PKI mengikuti aliran Tan Malaka dan Komintern, tetapi situasi terlanjur sudah di luar kontrol, dan sekumpulan ranting liar meluncurkan pemberontakan pada akhir tahun 1926. Tak terelakkan hal itu dimusnahkan dengan telak.

Walaupun rencana pemberontakan ditunda, aksi pemberontakan pun tetap terjadi. Tanggal 12 November 1926 malam, di Jakarta dan Jatinegara (waktu itu Jatinegara masih terpisah dengan Jakarta) dan Tangerang, ratusan orang bersenjata menyerang penjara Glodok, kantor polisi dan memutus saluran telepon. Pada tanggal 12 November – 5 Desember di Karesidenan Banten dan pedalaman Jawa Barat, aksi massa menyerang Kepala Desa dan pejabat – pejabat rendah lainnya. 12-18 November di Priangan, 17-23 November di Surakarta, 12-15 Desember di Tanah Kediri, direncanakan juga mengadakan pemberontakan di Banyumas, Pekalongan dan Kedu.
Kegagalan Pemberontakan 1926

Aksi ini pun kacau dan berantakan karena semuanya tidak terorganisir dengan baik, juga tidak semua cabang ikut dalam aksi ini. Ketidak kompakan sesama semua simpatisan di berbagai daerah, yang paling utama jelas karena perseteruan dua pentolan utamanya Musso – Tan Malaka, sehingga mengakibatkan semuanya tidak terorganisir dengan baik dan tidak kompak, sehingga terjadi “dualism” kepemimpinan, sehingga membuat massa dibawah menjadi bingung.

Ketidak kompakan aksi inipun dapat segera dengan mudahnya dikendalikan oleh polisi Hindia Belanda. Di Jawa Barat dan Banten, penumpasan selesai pada bulan Desember. Sedangkan di Sumatra dapat ditumpas selama tiga hari dan mendapat perlawanan yang relatif kuat.

Ribuan simpatisan komunis yang terlibat berhasil ditangkap. Bahkan ada yang di hukum gantung. Sekitar 13.000 orang ditangkap, beberapa orang ditembak, 5.000 orang di tahan agar tidak terjadi aksi susulan, 4.500 orang dijebloskan ke dalam penjara dan 1.038 orang dikirim ke camp penjara yang terkenal mengerikan di Boven Digul, Irian, yang khusus dibangun pada tahun 1927 untuk mengurung mereka.

Termasuk beberapa orang petingginya yang dibuang, ditahan bahkan dipaksa meninggalkan Indonesia. Alimin dan Musso berhasil lari ke singapura bersama beberapa petinggi partai lainnya. Bahkan akhirnya Musso tinggal di Rusia, Semaoen ke Tajikistan, dan Alimin menjadi petugas Komintern di Cina. Juga Tan Malaka yang memang sudah dipaksa pergi meninggalkan Indonesia sejak tahun 1922, ikut prihatin dengan kejadian tersebut.

 

 boven-digul
Suasana Di Boven Digul, Irian


Pembubaran PKI Pasca 1926

Pasca gagalnya pemberontakan tahun 1926 tersebut, mengakibatkan pukulan yang sangat besar buat PKI. Tindakan yang diambil oleh pemerintah kolonial Belanda pun cukup tegas,sehingga PKI seakan telah mati. Pada tahun 1927, Partai Komunis Indonesia pun dinyatakan illegal dan dibubarkan.

Sumber :

  1. Orang Kiri Indonesia. Musso Si Merah Di Simpang Republik. Seri Buku Tempo. 2011.
  2. Ruth McVey. The Communist Uprising of 1926-1927 in Indonesia: Key Documents. Ithaca. Cornell University Press. 1960.
  3. Soe Hok Gie. Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan. Yogyakarta. Bentang Pustaka. 2005.
  4. Rachmat Susatyo. Pemberontakan PKI-Musso Di Madiun. Koperasi Ilmu Pengetahuan Sosial. 2008.
  5. http://id.wikipedia.org/wikiPartai_Komunis_Indonesia.
  6. http://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_Madiun